DIALEKSIS.COM | Opini - Di daerah yang warganya masih banyak miskin. Jalan Tol (tax on location) tidak perlu-perlu amat. Maklum, di daerah termiskin itu. Sebagian besar warga masih pakai sepeda motor. Sesekali untuk jarak yang relatif jauh menumpang bus umum. Manfaat secara global tetap ada. Tapi ya sudahlah.
DIALEKSIS.COM | Opini - Dua puluh tahun lalu, negara membuat janji besar kepada Aceh. Janji itu tidak lahir dari ruang seminar atau meja birokrasi, melainkan dari puing-puing konflik bersenjata dan trauma tsunami. MoU Helsinki 2005 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) adalah kontrak politik antara negara dan rakyat Aceh: bahwa Aceh akan diberi kewenangan khusus, ruang mengatur diri sendiri, dan dukungan fiskal untuk bangkit.
DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Demokrat Aceh memasuki fase krusial. Mundurnya Muslim sebagai Ketua DPD Demokrat Aceh setelah dipercaya menjadi komisaris independen di PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menyisakan ruang kosong yang tak sederhana.
DIALEKSIS.COM | Opini - Prestasi pendidikan sejatinya adalah cermin paling jujur dari kualitas sebuah daerah. Ia tidak bisa ditutup-tutupi dengan retorika, tidak bisa disamarkan oleh seremoni. Karena itu, ketika data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menempatkan Aceh di peringkat 31 dari 38 provinsi, publik seharusnya tidak sekadar terkejut melainkan tersadar. Angka ini bukan sekadar peringkat. Ia adalah alarm keras bahwa sistem pendidikan Aceh sedang menghadapi persoalan serius dan struktural.
DIALEKSIS.COM | Opini - Setelah hampir dua bulan musibah banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh sejak 26 November 2025, pemerintah dan masyarakat Aceh harus terus berbenah untuk menata kembali kehidupan yang porak-poranda dan menyisakan duka.
DIALEKSIS.COM | Opini - Aceh kembali diuji oleh siklus alam yang kian tak menentu. Sepanjang akhir tahun 2026 dan awal tahun 2026, curah hujan ekstrem telah mengubah lanskap pemukiman di pesisir timur dan barat Aceh menjadi hamparan genangan yang melumpuhkan urat nadi kehidupan. Banjir bukan lagi sekadar tamu tahunan, ia telah bertransformasi menjadi krisis kemanusiaan yang menuntut ketangguhan birokrasi di titik tertingginya. Di tengah suara sirine evakuasi dan tangis warga yang kehilangan harta benda, publik seringkali hanya menatap permukaan, mencari siapa yang berdiri paling depan di depan kamera.
DIALEKSIS.COM | Opini - Pada awal Januari 2026, saya berpartispasi sebagai relawan Kementerian Agama Kota Banda Aceh bersama tim dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dalam kegiatan pembersihan sebuah madrasah ibtidayah di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
DIALEKSIS.COM | Opini - Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala di depan mata. Sejumlah nama telah tampil untuk mencalonkan diri. Di tengah upaya Provinsi Aceh untuk bangkit dan maju menyaingi provinsi lain, serta upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan menekan angka kemiskinan, kampus memainkan peran sentral dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Aceh tersebut. Pertanyaannya, rektor seperti apa yang mampu menjawab tantangan tersebut?
DIALEKSIS.COM | Opini - Setiap kali kampus bersiap memilih rektor, panggung yang sama kembali dipasang. Visi-misi dipoles, video profil disiapkan, dan daftar prestasi akademik dipamerkan. Semua tampak rapi dan rasional. Namun ada satu pertanyaan penting yang hampir selalu absen dari ruang diskusi publik: apakah calon rektor cukup sehat secara jiwa untuk memimpin? Pertanyaan ini kerap dianggap sensitif, bahkan tabu. Padahal, di sinilah letak persoalan mendasarnya.
DIALEKSIS.COM | Opini - Banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 tidak dapat lagi dibaca sebagai peristiwa cuaca ekstrem yang kebetulan terjadi. Kehadiran Siklon Tropis Senyar, yang memicu hujan lebat berskala luas, justru menyingkap persoalan yang lebih mendasar: rapuhnya cara kita mengelola daerah aliran sungai (DAS) di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.
DIALEKSIS.COM | Opini - Aceh bukan sekadar wilayah dengan label kekhususan dalam konstitusi. Ia adalah beranda barat Nusantara titik tempat peta Indonesia bertemu Samudra Hindia dan jalur pelayaran internasional. Dari perairan Aceh, kapal-kapal melintas menuju Selat Malaka, salah satu chokepoint maritim paling ramai di dunia. Di sinilah kepentingan ekonomi dan strategi global berdesak-desakan.
DIALEKSIS.COM | Opini - Tempo hari publik dihebohkan dengan wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD Prov/Kab/Kota. Wacana Pilkada melalui DPRD ini tentu menyita atensi publik secara serius, karena langsung disampaikan oleh Ketum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia dalam peringatan HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, 5 Desember 2025.
Pada kesempatan itu Bahlil Lahadalia secara terbuka mengusulkan Pilkada lewat DPRD di hadapan Presiden Prabowo. Prabowo pun langsung menyambutnya secara positif.
DIALEKSIS.COM | Opini - Agenda Pemerintah Pusat untuk membangun Huntara (Hunian Sementara) dan Huntap (Hunian Tetap) menjadi kabar yang menenangkan di tengah penderitaan warga Aceh korban bencana banjir dan longsor yang kehilangan rumah dan menjadi pengungsi.
DIALEKSIS.COM | Opini - Perdebatan mengenai Bendera Aceh tidak pernah benar-benar selesai. Setiap kali isu ini mencuat, respons negara sering kali bersifat reaktif, emosional, dan terjebak pada kecurigaan politik, alih-alih dituntun oleh nalar ketatanegaraan. Padahal, dalam negara hukum yang konstitusional, persoalan simbol daerah seharusnya dibaca secara jernih, penulis sering sekali berdiskusi yang menjadi pertanyaan mendasar apa dasar ketatanegaraannya sebenarnya dalam perumusan bendera Aceh? apa batas kewenangan Pemerintah Aceh dalam membentuk bendera Aceh? dan di mana posisi negara dalam konteks menyikapi gesekan-gesekan yang kerap disalahpahami?
DIALEKSIS.COM | Opini - Setiap kali bencana kembali melanda Aceh, satu pola selalu berulang: kemarahan publik meledak. Media sosial dipenuhi tuduhan, asumsi, dan narasi kebencian yang sering kali lahir lebih cepat daripada data. Banyak pihak menilai reaksi ini sebagai sikap emosional berlebihan atau kegagalan nalar masyarakat. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang neuroscience, kemarahan publik Aceh justru mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, dimana otak kolektif yang terlalu lama dipaksa bertahan hidup dalam tekanan.
DIALEKSIS.COM | Opini - Aceh kembali berduka. Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang pada akhir November hingga Desember 2025 bukan sekadar siklus tahunan biasa.
DIALEKSIS.COM | Opini - Di tengah bencana yang meluluhlantakkan Aceh, ada pihak yang melakukan manuver politik pragmatis. Mereka menggugat posisi Sekda Aceh, di tengah situasi krisis yang memerlukan perhatian penuh dari seluruh aparatur pemerintah.
DIALEKSIS.COM | Opini - Jelang akhir tahun di bulan November 2025 Aceh dilanda banjir bandang dan longsor hampir seluruh daratan terkena dampak. Faktanya pasca bencana banjir besar hingga longsor terlihat di kawasan hulu atau abrasi di pesisir, yang datang bukan hanya air dan lumpur maupun gelondongan kayu, tetapi juga rombongan elit. Mobil dinas beriringan, kamera media menyala, rompi tanggap darurat dikenakan, dan pernyataan resmi pun dilontarkan. Dalam hitungan jam, bencana berubah menjadi panggung. Penderitaan warga menjadi latar, sementara kehadiran pejabat menjelma pertunjukan empati.
DIALEKSIS.COM | Opini - Selama ini kedaulatan negara selalu diiidentikkan dengan adanya ancaman dalam bentuk perang dari dalam maupun dari luar, tetapi ancaman terhadap kedaulatan negara saat ini tidak hanya dalam bentuk perang konvensional. Banyak sekali ancaman terhadap kedaulatan negara yang akan berdampak pada lahirnya ketidakstabilan politik suatu negara, misalnya saja perang dagang yang mengancam kedaulatan ekonomi, perang cyber, kejahatan transnasional dan bahkan bencana alam.
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Hari Ibu hampir selalu hadir dengan narasi yang sama: ibu adalah sosok paling kuat, paling sabar, dan paling ikhlas. Ia dipuji karena kemampuannya menahan lelah, menekan emosi, dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Ketangguhan ini dirayakan dalam pidato, spanduk, dan unggahan media sosial. Namun di balik pujian tersebut, ada satu kenyataan yang jarang dibicarakan secara jujur. Kekuatan yang terus dipaksakan, tanpa ruang untuk rapuh, sering kali berubah menjadi luka yang tak terlihat pada kesehatan mental perempuan.