Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / M. Nasir: Tangan Kanan di Balik Penanganan Banjir Aceh

M. Nasir: Tangan Kanan di Balik Penanganan Banjir Aceh

Selasa, 20 Januari 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Mullah Oges Cabucci

DIALEKSIS.COM | Opini - Aceh kembali diuji oleh siklus alam yang kian tak menentu. Sepanjang akhir tahun 2026 dan awal tahun 2026, curah hujan ekstrem telah mengubah lanskap pemukiman di pesisir timur dan barat Aceh menjadi hamparan genangan yang melumpuhkan urat nadi kehidupan. Banjir bukan lagi sekadar tamu tahunan, ia telah bertransformasi menjadi krisis kemanusiaan yang menuntut ketangguhan birokrasi di titik tertingginya. Di tengah suara sirine evakuasi dan tangis warga yang kehilangan harta benda, publik seringkali hanya menatap permukaan, mencari siapa yang berdiri paling depan di depan kamera.

Namun, di balik narasi keprihatinan yang muncul ke publik, terdapat realita angka yang mencemaskan. Berdasarkan data terkini dari Pusdalops BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh), hingga pertengahan Januari 2026, lebih dari 18kabupaten/kota terdampak banjir luapan, dengan jumlah pengungsi menembus angka ratusan ribu jiwa. Kerusakan infrastruktur tidak kalah masif, tanggul-tanggul sungai yang jebol dan akses jalan lintas provinsi yang terputus mengakibatkan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Triliyunan rupiah. Dampak sosial ini menciptakan tekanan luar biasa bagi pemerintah untuk bergerak cepat melampaui sekat-sekat administratif yang biasanya kaku.

Di tengah situasi darurat inilah, muncul sebuah fenomena menarik dalam tata kelola pemerintahan Aceh di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf (Mualem). Saat Gubernur berada di garis depan untuk memberikan dukungan moral dan semangat kepada rakyat Aceh, ada satu sosok yang bergerak seperti bayangan di koridor-koridor kekuasaan yang sunyi. Ia adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA. Sosok misterius ini nyaris tak pernah terlihat di baliho besar, namun ia adalah "dirigen" yang mengatur ritme seluruh instansi agar bantuan logistik sampai ke pelosok desa sebelum fajar menyingsing.

Bergerak dalam kesenyapan, M. Nasir telah menjadi "tangan kanan" Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) yang paling dipercaya untuk mengeksekusi misi kemanusiaan. Ia adalah sosok misterius yang jarang tampil di baliho, namun sidik jarinya tertanam kuat pada percepatan penanganan bencana. Sejak dilantik, ia memilih bekerja di ruang-ruang koordinasi taktis, memastikan bahwa instruksi politik pimpinan tidak tertahan di laci-laci birokrasi yang berdebu.

M. Nasir memerankan peran sebagai The Silent Operator. Ia adalah orang yang memastikan instruksi strategis Mualem tidak sekadar menjadi jargon politik, melainkan perintah teknis yang dieksekusi oleh setiap Kepala Dinas. Sebagai Ketua Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) dan ketua satgas penanganan banjir Aceh, ia bekerja di balik layar, membedah postur anggaran untuk memastikan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) dapat diakses secara cepat dan akuntabel guna mendanai tanggap darurat dan rehab-rekon.

Siapakah sebenarnya aktor intelektual ini? M. Nasir adalah seorang birokrat yang matang dalam manajemen publik. Merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menjabat sebagai Ketua KAGAMA Aceh, ia membawa metodologi kerja yang sangat teknokratis ke dalam pemerintahan. Sejak dilantik sebagai Sekda Aceh definitif pada 15 Agustus 2025, ia telah melakukan reformasi senyap dalam sistem penanggulangan bencana di Aceh. Ia mengintegrasikan data dari Pusdatin BPBA langsung ke dalam sistem pengambilan keputusan cepat di Sekretariat Daerah.

Data lapangan per Januari 2026 menunjukkan perubahan signifikan dalam ritme kerja Pemerintah Aceh. Berdasarkan laporan terkini dari BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh), M. Nasir telah menetapkan strategi penanggulangan bencana yang terbagi dalam enam klaster pemulihan, mulai dari air bersih, hunian sementara (huntara), hingga infrastruktur jalan dan jembatan. 

Ia bergerak senyap memimpin rapat-rapat klaster di Posko Bencana Aceh, mengoordinasikan lebih dari 150 organisasi masyarakat sipil (CSO) dan 96 perusahaan untuk bersatu dalam gerak tanggap darurat. Kehadirannya tidak ditandai dengan protokol yang kaku, melainkan dengan turunnya instruksi cepat bagi seluruh Kepala Dinas (SKPA) untuk terjun langsung ke lokasi bencana guna memastikan pembersihan lumpur di sekolah-sekolah dan pemukiman warga berjalan tanpa henti. 

Kini, di masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi, M. Nasir sedang mengawal penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P). Fokusnya bukan sekadar memperbaiki kerusakan, melainkan melakukan normalisasi sungai secara menyeluruh di seluruh Aceh untuk mencegah risiko banjir luapan di masa depan. 

Ia adalah sosok yang mendorong mekanisme Cash for Work (padat karya) agar pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bisa berjalan beriringan dengan pembersihan wilayah. Kehadirannya dalam audiensi dengan mahasiswa hingga lembaga internasional seperti MER-C menunjukkan bahwa meski misterius di mata media massa, ia adalah komunikator ulung yang mampu menjahit kolaborasi lintas sektor. 

Dalam fase Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) pasca-banjir 2026, peran Nasir semakin krusial namun tetap rendah profil. Ia mendorong kebijakan build back better (membangun kembali dengan lebih baik), di mana pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti waduk dan normalisasi sungai dikawal ketat agar tidak sekadar menjadi proyek seremonial. Ia memastikan koordinasi dengan Dinas Pengairan Aceh berjalan sinkron dengan rencana tata ruang jangka panjang.

Keberadaan M. Nasir di balik bayang-bayang Gubernur menunjukkan sebuah harmoni pemerintahan yang langka: perpaduan antara kepemimpinan karismatik dan administrator yang tangguh. Baginya, kesuksesan bukan diukur dari banyaknya kilatan lampu kamera, melainkan dari seberapa cepat air surut dan seberapa tangguh warga kembali bangkit. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap kemenangan melawan bencana, selalu ada sosok misterius yang bekerja dalam hening, menjaga agar harapan rakyat Aceh tetap menyala.

M. Nasir telah membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang Sekretaris Daerah tidak terletak pada berapa kali wajahnya muncul di televisi, melainkan pada seberapa efektif sistem yang ia bangun bekerja untuk rakyat. Sebagai "tangan kanan" Mualem yang bergerak dalam senyap, ia adalah pengingat bahwa di balik kesuksesan besar sebuah daerah, selalu ada aktor intelektual yang memilih tetap berada di balik layar demi memastikan roda pemerintahan tetap berputar di atas rel pengabdian.

Penulis: Mullah Oges Cabucci, Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI