DIALEKSIS.COM | Opini - 15 Agustus 2026 menjadi salah satu momentum 21 tahun perjalanan perdamaian Aceh dengan Indonesia sejak Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, Firlandia pada 15 Agustus 2005.
DIALEKSIS.COM | Opini - Dua puluh satu tahun sudah sejak Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani di Helsinki, ibukota Finlandia. Perang saudara di Aceh resmi berakhir. Senjata gerilyawan GAM diserahkan dan dipotong oleh AMM (Aceh Monitoring Mission) pimpinan Pieter Cornelis Feith, diplomat senior Belanda.
DIALEKSIS.COM | Opini - Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka yang menghadirkan penyelesaian damai atas konfllik Aceh ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 lalu. Dua puluh satu tahun setelahnya, tidak bisa dikatakan bahwa perdamaian Aceh sesuatu yang biasa saja. Ketiadaan operasi militer, kontak senjata, bahkan kekerasan bersenjata dalam skala besar seperti yang pernah dialami sebelumnya menjadi berkah tersembunyi. Generasi muda Aceh yang lahir setelah 15 Agustus 2005 tumbuh dalam situasi yang relatif aman. Oleh karenanya, ini bisa dianggap sebagai sebuah capaian yang besar.
DIALEKSIS.COM | Opini - Artikel ini saya mulai ketika melihat seorang anak kecil yang disuruh oleh gurunya untuk mengambarkan bendera merah putih (NKRI) malah si anak kecil membuat bendera Aceh (bulan Bintang). Menarik sekali sebagai penulis yang mengkaji hukum tata negara langsung terbersit dalam hati apa sebenarnya yang terjadi dibenak adik itu, apakah ia anak seorang mantan kombatan GAM? Apakah ayahnya menceritakan makna dari simbol bendera itu, apakah jiwa anak itu bagaikan Keumalahayati? Tentu jawaban-jawaban itu hanya adik itu yang tahu, dan entitas bendera masih terpatri dalam jiwa si anak tersebut.
DIALEKSIS.COM | Opini - Tak terasa, delapan puluh satu tahun sudah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan. Indonesia masih berdiri sebagai rumah besar bagi ratusan kelompok etnis, bahasa, agama, dan tradisi. Fakta itu kerap dirayakan sebagai keberhasilan. Namun usia panjang sebuah republik tidak otomatis membuat persatuannya matang.
DIALEKSIS.COM | Opini - Sungguh kedalaman laut sekitar 1.200 meter di lepas pantai Aceh tersimpan harta karun rakyat Aceh, sebuah keputusan administratif Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang menyingkap kembali pola lama yang sudah berulang kali dikeluhkan Aceh sejak era otonomi khusus dan masa orde baru Presiden Soeharto (didukung penuh oleh Partai Golkar kala itu), keputusan strategis atas kekayaan alam Aceh diambil di Jakarta, disahkan tanpa pelibatan berarti dari daerah penghasil, dan baru dikoreksi setelah protes resmi dilayangkan ke meja Presiden.
DIALEKSIS.COM | Opini - Korupsi hingga hari ini masih menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Kejahatan ini tidak hanya menggerogoti keuangan negara, tetapi juga merampas hak-hak dasar masyarakat atas pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan. Karena daya rusaknya yang sangat luas, korupsi telah lama dikategorikan sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa yang memerlukan penanganan luar biasa pula.
DIALEKSIS.COM | Opini - Pembangunan ekonomi Aceh pada dekade mendatang dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Di satu sisi, Aceh memiliki modal pembangunan yang sangat besar berupa kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional, kekuatan sosial budaya yang masih terjaga, serta keberadaan Dana Otonomi Khusus yang selama hampir dua dekade menjadi instrumen percepatan pembangunan daerah.
DIALEKSIS.COM | Opini - Setelah damai bersemi di Aceh, Partai Demokrat hadir bukan sekadar sebagai satu warna baru dalam lanskap politik lokal. Partai ini tumbuh ketika Aceh sedang berusaha menata kembali masa depannya setelah melewati jalan sejarah yang panjang, melelahkan, dan penuh luka.
DIALEKSIS.COM | Opini - Ada peristiwa dalam perjalanan sebuah institusi yang tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk merenungkan kembali nilai nilai perjuangan yang telah diwariskan. Kepergian Almarhumah Prof. Dr. Hj. Kemala Motik Abdul Gafur, SE, MM, pendiri Universitas Esa Unggul, adalah salah satu momen yang mengajak kita untuk mengenang kembali arti sebuah pengabdian dalam dunia pendidikan.
DIALEKSIS.COM | Opini - Dalam kehidupan demokrasi, tidak ada kebijakan publik yang sepenuhnya steril dari kritik. Setiap keputusan pemerintah selalu membawa konsekuensi bagi masyarakat. Karena itu, kritik bukanlah anomali yang harus dihilangkan, melainkan bagian dari mekanisme yang menjaga agar penyelenggaraan negara tetap berada pada rel kepentingan publik. Demokrasi yang sehat bukan diukur dari seberapa banyak tepuk tangan yang diterima pemerintah, melainkan dari seberapa dewasa pemerintah menerima suara yang berbeda.
DIALEKSIS.COM | Opini - Dalam dua hari ini, publik Aceh kembali disuguhi retorika manis yang meninabobokkan. Seorang pengamat kebijakan publik dengan nada berapi-api mendesak Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem untuk mengambil langkah ekstrem: mencabut ”izin prinsip” proyek raksasa gas di Blok South Andaman.
DIALEKSIS.COM | Opini - Membicarakan Tengku Hasan M. di Tiro yang akrab dipanggil Hasan di Tiro hari ini bukan berarti mengajak Aceh kembali ke masa lalu. Sebaliknya, membaca pemikirannya penting untuk memahami bagaimana sejarah membentuk Aceh hari ini.
DIALEKSIS.COM | Opini - Jelang detik detik perhelatan saklar dari partai besar yakni Demokrat akan melangsungkan musyawarah daerah di Aceh. Kondisi hari ini Partai Demokrat Aceh sedang didorong masuk ke dalam satu pilihan yang terdengar sederhana, namun berat menentukan pilih figur yang punya “daya ungkit” agar partai kembali besar.
DIALEKSIS.COM | Opini - Penemuan cadangan migas di kawasan Andaman merupakan salah satu kabar paling menggembirakan bagi masa depan sektor energi Indonesia. Potensi yang dimiliki kawasan tersebut tidak hanya menjanjikan peningkatan produksi energi nasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi transformasi ekonomi Aceh. Namun, keberhasilan pengelolaan migas Andaman tidak semata mata ditentukan oleh besarnya cadangan yang tersedia, melainkan oleh pilihan strategi pembangunan yang diambil pemerintah. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah Andaman akan kembali menjadi sumber bahan baku yang dikirim ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, atau justru menjadi fondasi lahirnya pusat industri hilir yang mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia?
DIALEKSIS.COM | Opini - Musyawarah Daerah Partai Demokrat Aceh yang akan digelar Agustus 2026 bukan sekadar forum administratif untuk mengganti pucuk kepemimpinan. Forum ini adalah ruang di mana pemegang suara dari 23 DPC se-Aceh akan menentukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nama ketua baru: mereka sedang menentukan apakah partai ini akan berjalan di atas nilai kelembagaan yang mereka bangun sendiri selama bertahun-tahun, atau berbelok ke jalan pragmatis yang konsekuensinya baru akan terasa lima, sepuluh tahun ke depan.
DIALEKSIS.COM | Opini - Aceh tidak pernah kekurangan apapun, bukan hanya untuk maju dan berdiri sejajar tapi bahkan unggul dari provinsi-provinsi lain di Indonesia. Aceh tidak pernah kekurangan peluang, sumber daya, status istimewa dan khusus, bahkan posisi strategis : semua faktor pemungkin dan pemudah Aceh mengalami lompatan kemajuan hingga menjadi daerah yang makmur, sejahtera, dan terdapan dalam berbagai sektor pembangunan.
DIALEKSIS.COM | Opini - Namun, di balik riuhnya suasana itu, ada satu pertanyaan yang mengusik pikiran. Mengapa dalam urusan sepak bola kita hanya bisa menjadi penonton tentu mudah dipahami, tetapi mengapa dalam mengelola kekayaan yang dimiliki sendiri Aceh juga masih sering berada di posisi yang sama?
DIALEKSIS.COM | Opini - Kalian yang hari ini sibuk nongkrong di coffee shop kawasan Banda Aceh atau daerah Aceh lainnya, menyeduh sanger hangat sambil menatap layar gawai, mungkin menganggap hiruk-pikuk tentang "Blok Andaman" hanyalah deretan angka mati di rubrik ekonomi berita online. Triliunan kaki kubik gas, Plan of Development (PoD), atau wilayah di atas 12 mil laut, semua itu terdengar seperti bahasa yang belum menyentuh kepentingan Aceh.
DIALEKSIS.COM | Opini - Ada sebuah pertunjukan menarik, akhir pekan kemarin. Di atas podium, Ketua Umum Partai Golkar, yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mempertontonkan keahlian diplomasi tingkat tinggi untuk meredam tuntutan ekonomi Aceh dengan modal kehangatan "kekeluargaan" serta retorika "setengah kamar."