DIALEKSIS.COM | Aceh - Ketua DPW PKS Aceh Ismunandar, yang akrab disapa Ustadz Is, mengeluarkan pesan bijak kepada seluruh elemen masyarakat agar menghentikan upaya bermain isu kontra dan propaganda yang dinilai dapat menghambat jalannya tata kelola pemerintahan serta proses pembangunan di Aceh.
Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan internal partai yang membahas peran partai dalam mendukung program-program daerah.
“Bermain isu hanya merusak fokus kita. Saat ini yang dibutuhkan Aceh bukan gaduh dan fitnah, melainkan kerja bersama untuk menyelesaikan persoalan rakyat,” ujar Ismunandar kepada Dialeksis saat diminta pendapat terkait kondisi terkini Aceh, Minggu (8/3/2026).
Ia juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati menerima informasi serta mencermati sumber sebelum menyebarluaskannya.
Menurut Ismunandar, masyarakat Aceh juga perlu menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, menahan diri dari provokasi, serta menjaga kondusivitas sosial dan politik di daerah.
“Ramadhan adalah bulan menahan diri, memperbanyak kebaikan, dan memperkuat ukhuwah. Sudah seharusnya kita menjauhi fitnah, hoaks, dan propaganda yang dapat memecah belah masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan Ismunandar menegaskan posisi pengurus lokal partainya dalam upaya menjaga stabilitas politik dan sosial di Aceh. Secara khusus, ia meminta warga tidak mudah termakan kabar bohong terkait kondisi kepemimpinan Muzakir Manaf dan Fadhlullah.
“Jika ada masalah, buka ruang dialog. Jangan biarkan hoaks menentukan opini publik. Kita harus adil dan arif dalam menilai setiap kebijakan dan program,” tambahnya.
Pesan senada datang dari Sekretaris Umum DPW PKS Aceh, Kasibun Daulay. Ia menyerukan agar semua pihak memberikan dukungan penuh dan bersinergi bersama dalam membangun Aceh di bawah kepemimpinan duet Mualem dan Dek Fadh, sehingga visi, misi, dan program yang dicanangkan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
“Ramadhan ini semestinya menjadi waktu terbaik untuk memperkuat kebersamaan. Mari kita isi dengan semangat membangun, bukan memperuncing perbedaan,” kata Kasibun.
Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari elemen adat, ulama, tokoh pemuda, hingga kalangan pengusaha untuk ikut serta menjaga suasana yang damai dan produktif di tengah masyarakat.
“Kritik konstruktif tentu boleh, bahkan dibutuhkan. Tapi serangan pribadi dan penyebaran isu privasi yang tidak jelas justru menyudutkan proses pembangunan,” ujarnya.
Kasibun juga memperingatkan agar tidak ada pihak yang mempergunakan urusan privasi sebagai alat politik, karena dampak buruknya seringkali lebih parah daripada tuduhan yang dilontarkan.
Kedua pemimpin PKS Aceh itu menegaskan pentingnya etika bermedia dan literasi informasi di era digital. Mereka mendorong penegakan mekanisme klarifikasi yang cepat dan transparan dari pihak berwenang serta peran aktif organisasi masyarakat untuk menanggulangi hoaks.
Dalam penutup pernyataannya, Ismunandar dan Kasibun menekankan kembali bahwa keberhasilan program pembangunan sangat tergantung pada dukungan kolektif serta terciptanya iklim sosial dan politik yang kondusif, terlebih di bulan suci Ramadhan yang semestinya menjadi ruang memperkuat persatuan masyarakat Aceh. [arn]