Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Kolom / Mualem, Sakit atau Narasi yang Disakitkan?

Mualem, Sakit atau Narasi yang Disakitkan?

Sabtu, 07 Maret 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Aryos Nivada

Aryos Nivada, Pendiri Jaringan Survei Inisiatif dan Lingkar Sindikasi


DIALEKSIS.COM | Kolom - Dalam beberapa hari terakhir, ruang publik Aceh dipenuhi bisik-bisik politik yang mengarah pada satu kesimpulan yang seolah sudah final yakni kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem sedang menuju peralihan. Narasi itu tumbuh cepat, seperti api yang menyambar jerami. Titiknya sederhana Mualem beberapa kali meminta izin kepada Menteri Dalam Negeri untuk berobat ke luar negeri.

Dari situ, spekulasi berkembang di arena publik Aceh. Dari sekadar perjalanan medis, narasi meloncat menjadi dugaan bahwa kesehatan Mualem bermasalah. Dari dugaan kesehatan, ia bertransformasi menjadi tafsir bahwa kepemimpinannya akan segera berakhir. Dan dari tafsir itu, muncul cerita yang lebih jauh lagi ada skenario politik yang sedang berjalan.

Persoalannya, dalam politik modern, sebuah narasi tidak selalu lahir dari fakta. Ia sering kali lahir dari cara fakta disusun.

Secara administratif, perjalanan kepala daerah ke luar negeri memang harus mendapatkan izin dari Menteri Dalam Negeri. Aturan ini jelas dalam kerangka tata kelola pemerintahan daerah di Indonesia. Ketika seorang kepala daerah melakukan perjalanan termasuk untuk pengobatan mekanisme izin menjadi bagian dari prosedur resmi. Artinya, fakta bahwa seorang gubernur meminta izin tidak otomatis berarti ada keadaan darurat politik.

Namun di ruang publik, fakta sering kali tidak berdiri sendirian. Ia dibungkus oleh tafsir.

Dalam teori komunikasi politik, Robert Entman menyebut proses ini sebagai framing memilih sebagian aspek realitas lalu menonjolkannya agar publik sampai pada kesimpulan tertentu. Dalam kasus Mualem, fakta “berobat ke luar negeri” dipilih dan diperbesar. Sementara konteks lain bahwa izin diberikan secara resmi, bahwa pemerintahan tetap berjalan, bahwa aktivitas publik masih dilakukan sering kali dipinggirkan.

Di titik ini, narasi mulai tampak seperti sesuatu yang terskenario.

Rumor politik sebenarnya bukan fenomena baru. Gordon Allport dan Leo Postman, dalam studi klasik mereka tentang rumor, menjelaskan bahwa kabar burung berkembang paling cepat ketika dua hal bertemu, pertama isu yang sangat penting bagi publik dan kedua informasi yang ambigu.

Kesehatan seorang pemimpin jelas isu penting. Namun kondisi medis hampir selalu bersifat privat. Ambiguitas inilah yang kemudian menjadi ruang kosong bagi rumor untuk berkembang.

Di Aceh, ruang kosong itu kini diisi dengan berbagai tafsir mulai dari spekulasi tentang penyakit tertentu hingga insinuasi bahwa kepemimpinan Mualem sedang menuju akhir.

Padahal jika kita membaca keadaan dengan sedikit lebih tenang, gambaran yang muncul tidak sesederhana itu.

Dalam beberapa agenda publik terakhir, Mualem masih terlihat hadir dan beraktivitas. Salah satu yang paling mutakhir adalah kehadirannya di acara pelantikan pejabat eselon II serta dalam peringatan malam Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat malam, 6 Maret 2026. Termasuk aktivitas lainnya yang menghadirkan sosok Mualem sebagai pemimpin dalam menjalankan tata kelola pemerintah. Di ruang publik itu, ia tidak tampak sebagai figur yang sedang berada dalam kondisi fisik yang melemah sebagaimana digambarkan dalam berbagai rumor.

Kehadiran tersebut tentu bukan bukti medis. Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa narasi “ketidakmampuan total” yang beredar tidak berdiri di atas fakta yang kuat.

Persoalan lain yang jarang dibicarakan adalah bagaimana sistem pemerintahan sebenarnya telah mengantisipasi kondisi seperti ini.

Dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah, jika kepala daerah berhalangan sementara, wakil kepala daerah menjalankan tugasnya. Mekanisme ini dirancang justru untuk menjaga stabilitas pemerintahan.

Artinya, perjalanan berobat seorang gubernur tidak serta-merta berarti terjadinya kekosongan kekuasaan.

Namun dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada struktur.

Narasi tentang kesehatan pemimpin sering dipakai sebagai alat untuk menggoyang legitimasi. Jowett dan O’Donnell dalam kajian propaganda menjelaskan bahwa propaganda modern bekerja dengan cara yang sederhana: memperkuat persepsi tertentu secara berulang hingga publik menerima tafsir itu sebagai kenyataan.

Dalam konteks Aceh, isu kesehatan Mualem bisa saja menjadi alat politik untuk memainkan strategi klasik yakni membangun ketidakpercayaan terhadap stabilitas kepemimpinan.

Ada dimensi lain yang menarik dalam membaca sosok Mualem.

Di Aceh, kepemimpinan tidak selalu dipahami hanya dalam kerangka rasional-administratif. Ada dimensi kultural dan spiritual yang ikut membentuk persepsi publik. Banyak pendukung Mualem melihat dirinya bukan sekadar figur politik, tetapi juga sosok yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.

Sebagian orang bahkan menyebutnya memiliki “jalur langit”.

Istilah ini tentu bukan kategori ilmiah. Namun dalam sosiologi politik, fenomena semacam ini dikenal sebagai charismatic authority otoritas yang lahir dari keyakinan publik terhadap kualitas personal seorang pemimpin. Max Weber menjelaskan bahwa legitimasi karismatik sering muncul justru ketika seorang pemimpin menghadapi tekanan atau keraguan.

Dalam situasi seperti itu, persepsi publik menjadi arena pertarungan.

Satu pihak mencoba membangun cerita bahwa pemimpin sedang melemah. Pihak lain menegaskan bahwa ia masih berdiri kuat.

Pada akhirnya, persoalan sebenarnya bukan terletak pada apakah Mualem pernah berobat atau tidak. Dalam dunia modern, menjaga kesehatan adalah hal wajar bahkan bagi seorang pemimpin. Apalagi jika dilakukan melalui metode medis seperti stem cell, pengaturan pola makan, atau konsumsi suplemen herbal sebagaimana sering disebut oleh orang-orang dekatnya.

Masalahnya adalah bagaimana fakta tersebut digunakan.

Jika fakta perjalanan berobat dipakai untuk membangun kesimpulan bahwa kepemimpinan Mualem akan segera berakhir, maka publik sebenarnya sedang diajak masuk ke dalam permainan narasi.

Dan dalam politik, permainan narasi hampir selalu memiliki kepentingan.

Tentu saja, tidak ada yang bisa melarang siapa pun membangun tafsir politik. Dalam demokrasi, rumor dan spekulasi adalah bagian dari dinamika.

Tetapi publik juga memiliki tanggung jawab intelektual, bahwa tidak menelan narasi mentah-mentah.

Cara paling sederhana untuk menghindari jebakan propaganda adalah dengan melakukan validasi berlapis terhadap setiap informasi. Melihat fakta dari berbagai sisi. Memeriksa konteks sebelum menyimpulkan.

Jika tidak, kita hanya akan menjadi bagian dari arus propaganda yang digerakkan oleh kepentingan tertentu. Dan di situlah permainan politik sebenarnya berlangsung.

Bukan pada kesehatan seorang pemimpin, melainkan pada bagaimana cerita tentang kesehatannya digunakan untuk membentuk persepsi publik.

Dalam politik Aceh, cerita tentang Mualem tampaknya belum selesai. Tetapi satu hal yang pasti yaitu memahami sosok ini tidak cukup hanya dengan membaca potongan narasi.

Ia harus dibaca dengan akal sehat, dengan rasionalitas, dan bagi sebagian orang dengan sedikit keyakinan bahwa ada faktor yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika politik biasa.

Karena dalam banyak pengalaman politik Aceh, tidak sedikit penilaian publik yang akhirnya terpatahkan oleh kenyataan. Dan Mualem, sejauh ini, masih berdiri di tengah masyarakat melayani selaku pemimpin dan itu kenyataannya.

Penulis: Aryos Nivada, Pendiri Jaringan Survei Inisiatif dan Lingkar Sindikasi

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI