Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Opini / Menyerang Kawan Setia Mualem

Menyerang Kawan Setia Mualem

Jum`at, 06 Maret 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Bisma Yadhi Putra

Bisma Yadhi Putra, Peneliti Sosial dan Sejarah


DIALEKSIS.COM | Kolom - Orang-orang yang pernah menjadi sekretaris daerah biasanya berbagi cerita yang sama waktu mengenang masa bakti mereka. Sebagai bawahan kepala daerah, mereka kurang tidur karena begitu banyak hal mesti diurus. Bahkan ketika atasannya tengah tertidur di malam hari, mereka masih mengerjakan ini-itu semalaman. Terkadang, di waktu-waktu tertentu, tumpukan pekerjaan membuat siang dan malam sama saja.

Setiap kepala daerah tentu membutuhkan sekretaris daerah yang mengerti jalan pikirannya, terbiasa intens dalam bekerja, cakap menyelesaikan tugas dengan cepat, hingga berani merestrukturisasi hal-hal menyimpang yang sudah begitu lama tertradisikan dalam birokrasi lokal. Kualitas-kualitas ini terbentuk dari hasil mengorbankan puluhan jam tidur. Birokrat yang tidur waktu pegawai-pegawai lain tidur mustahil memperoleh kualitas-kualitas tersebut.

Selama krisis pascabanjir, Gubernur Mualem kurang tidur. Ada puluhan jejak digital yang yang memperlihatkan Mualem beraktivitas di berbagai tempat terbuka pada malam hari. Mualem paham betul bahwa di masa krisis, pemimpin tidak boleh banyak di kantor. Tengah malam, waktu sebagian besar aparatur pemerintahan sudah tidur, Mualem ada di pelabuhan untuk memeriksa bantuan korban bencana, di tenda pengungsi, bahkan menyeberangi sungai menuju kampung terisolasi.

Lantas, kalau bos tidak di markas, siapa yang mengurusi admisnistrasi dan memimpin rapat-rapat?

Mualem bisa fokus di lapangan karena punya sekretaris daerah yang dapat diandalkan. Muhammad Nasir cukup intens dalam bekerja, cepat, dan memahami betul jalan pikiran atasannya. Selama Mualem sibuk mengurusi masa krisis dengan bepergian ke banyak tempat, Muhammad Nasir sibuk mengerjakan “birokrasi sehari-hari” seperti menggelar rapat, menghasilkan dokumen-dokumen, mengurusi anggaran, dan seterusnya. Urusan kantor beres selagi bos mengurusi rakyat.

Lebih dari itu, asir juga turut mengecek situasi ke lapangan. Dia tak ingin hanya mendalkan informasi-informasi yang diasup mitra kerjanya. Dia datang ke kampung-kampung yang remuk karena banjir dan memastikan birokrasi berorientasi penuh pada penanganan kawasan bencana. Nasir mengatur sedemikian rupa agar birokrasi selaras dengan situasi aktual.

Sayangnya selagi banyak pekerjaan harus dipacu penyelesaiannya, Sekda Nasir, yang amat diandalkan Gubernur Mualem, justru diserang oleh para pelaku intrik yang bersembunyi di balik narasi demokrasi atau “perbaikan tata kelola”. Mereka menyebut Pemerintah Aceh lambat menangani bencana, tetapi memusatkan titik serangnya pada Sekda Nasir.

Kalau memang Pemerintah Aceh atau sekda lambat dalam bertindak, seharusnya yang dilakukan adalah mengusulkan ide-ide konkret dan teknis mengenai cara mempercepat tindakan. Sayangnya, penyampaian aspirasi seperti ini tidak relevan dengan misi mereka yang sebenarnya, yakni menjatuhkan Nasir karena membenci perbaikan struktural yang dia lakukan. Kenapa dibenci? Karena pembenahan yang dibuat Sekda Nasir telah ini menutup celah penyimpangan yang selama ini dilakukan para pemain intrik tersebut untuk mewujudkan kepentingan-kepentingannya.

Alasan yang sebenarnya itu pastilah tidak akan mereka ungkap secara terang-terangan. Oleh karena itulah serangan yang mendengungkan “copot Nasir” harus dilancarkan secara sistematis agar tetap terkesan sebagai aksi demokrasi. Caranya, para pemain intrik itu menggandeng aktivis hingga mahasiswa. Mereka menciptakan “politik main cantik” dengan mengeksploitasi demonstrasi mahasiswa. Dalam politik ini, celah penyimpangan itu hendak dibuka kembali dengan menjatuhkan orang yang menutupinya.

Di Aceh, pembiayaan demonstrasi mahasiswa oleh elite sudah jadi rahasia umum. Sebagian besar mahasiswa yang berdemonstrasi mungkin memang dengan niat yang bersih, yakni menyuarakan pendapat agar pejabat tidak seenaknya. Namun, kita sudah paham bahwa “elite politik” menciptakan “elite mahasiswa”. Elite mahasiswa ini jumlahnya jauh lebih sedikit daripada mahasiswa yang jujur. Dan, segelintir mahasiswa itu mengkesploitasi para mahasiswa yang berdemonstrasi karena kehendak demokratis yang jernih.

Karena gerakan ini didorong untuk melayani misi politik orang berduit, atau tidak datang dari niat berdemokrasi yang jujur, maka berbagai cacat mudah ditemukan dalam argumentasi dan strategi mereka. Apalagi dalam dokumen yang mereka sebut hasil kajian. Gerakan mahasiswa yang ditunggani para pemain intrik ini pastilah pragmatis seperti majikan mereka. Mereka membuat “kajian” alakadar untuk membuat kesan seolah-olah mereka melakukan demonstrasi dengan basis penelitian ilmiah.

Di tengah berbagai tekanan yang dilakukan para pemain intrik, baik Gubernur Mualem dan Sekda Nasir tetap melanjutkan peran mereka sebagai pelayan publik. Mualem terus bekerja, Nasir terus membantu pekerjaan Mualem. Nasir bahkan menyikapi kritik dan serangan politis terhadapnya dengan dewasa. Dia menyikapi dengan bijak orasi para mahasiswa serta semua aspirasi yang disuarakan.

Artinya selain intens, cepat, cekatan, dan setia, Sekda Nasir juga merupakan karakter yang memiliki daya tahan terhadap tekanan. Serangan-serangan yang dilakukan para pemain intrik justru menampakkan kualitas positif lain pada diri Nasir. Dengan demikian, Mualem memang tidak salah mempertahankan Nasir sebagai anak buah sekaligus rekan kerjanya.

Penulis: Bisma Yadhi Putra, Peneliti Sosial dan Sejarah

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI