Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Puluhan Hektar Padi di Indra Puri Terancam Kering Akibat Kemarau

Puluhan Hektar Padi di Indra Puri Terancam Kering Akibat Kemarau

Kamis, 05 Februari 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Puluhan hektar sawah di Kecamatan Indrapuri di kawasan Lampanah Tunong, terancam gagal panen akibat kemarau. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Puluhan hektar sawah di Kecamatan Indrapuri, tepatnya di kawasan Lampanah Tunong, terancam gagal panen akibat kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut. Tanaman padi yang sebelumnya tumbuh subur kini mulai menguning lebih cepat dari masa panen normal karena kekurangan air.

Amatan dialeksis.com di lapangan menunjukkan kondisi tanah sawah yang retak dan mengering. Saluran irigasi terlihat menyusut, bahkan di beberapa titik tidak lagi mengalirkan air. Padi yang semestinya masih dalam fase pengisian bulir kini tampak layu dan pertumbuhannya terhenti.

Khairudin, salah seorang petani setempat, mengaku cemas dengan kondisi tersebut. Ia menyebut musim tanam kali ini berpotensi merugi besar jika hujan tak segera turun.

“Padi kami sudah menguning sebelum waktunya. Air tidak ada, tanah kering. Kalau begini terus, bisa gagal panen,” ujar Khairudin saat ditemui di sawahnya, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Namun, kemarau awal tahun ini dirasakan lebih parah dibanding musim sebelumnya. Sumber air dari saluran irigasi kecil yang biasa membantu saat hujan jarang turun kini tak lagi bisa diandalkan.

“Biasanya masih ada sisa air dari gunung atau hujan sesekali. Sekarang benar-benar kering,” tambahnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di seluruh wilayah Aceh saat ini berada pada kategori rendah dan diperkirakan berlangsung hingga 10 Februari 2026.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nasrol Adil, mengatakan kondisi ini terpantau dari analisis dasarian terakhir.

“Kalau kita melihat analisis dasarian terakhir, termonitor bahwa curah hujan di seluruh Aceh cukup rendah,” kata Nasrol.

BMKG juga menyebut sebagian besar wilayah Aceh mulai memasuki musim kemarau tahap awal. Wilayah pesisir utara dan timur seperti Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Pidie, dan Pidie Jaya diprediksi mengalami awal musim kemarau pada Februari.

 Kondisi serupa juga terjadi di sebagian Aceh Besar, Banda Aceh, dan Sabang.

Dalam beberapa hari ke depan, cuaca di Aceh umumnya diprakirakan cerah berawan. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di wilayah barat Aceh seperti Aceh Barat dan Nagan Raya, terutama pada sore hari.

BMKG juga mencatat suhu udara di wilayah dataran rendah Aceh berkisar antara 23“34 derajat Celsius, sedangkan wilayah dataran tinggi seperti Aceh Tengah berada pada kisaran 18“26 derajat Celsius.

Kondisi kekeringan ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membakar sampah sembarangan.

Beberapa daerah yang sebelumnya terpantau memiliki titik panas antara lain Kabupaten Aceh Besar, Aceh Tengah, Aceh Timur, dan Bener Meriah.

“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama di musim kemarau seperti sekarang karena potensi kebakaran meningkat,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI