DIALEKSIS.COM | Jantho - Kemarau yang melanda sebagian wilayah Aceh Besar dalam tiga pekan terakhir mulai memukul kebutuhan dasar warga.
Di Desa Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Selasa (3/2/2026), warga tampak mengantre di sekitar sumur-sumur galian untuk mendapatkan air bersih yang kini semakin terbatas. Ember, jeriken, hingga galon bekas berjejer di tepi sumur.
Warga bergantian menimba air yang debitnya tidak lagi seperti biasanya. Beberapa sumur bahkan sudah mengering, memaksa warga berjalan lebih jauh mencari sumber air yang masih tersisa.
Faudhah (38), seorang warga setempat, mengaku kondisi ini menjadi rutinitas berat yang harus dijalani keluarganya setiap hari.
“Biasanya kami pakai air PDAM di rumah, tapi sekarang airnya padam sudah beberapa hari. Jadi harus ke sini, antre mendapatkan air jadi harus hemat sekali,” ujar Faudhah sambil menimba air sumur sata ditanyai media dialeksis.com.
Menurutnya, air yang didapatkan hanya cukup untuk kebutuhan paling mendesak seperti memasak dan minum. Untuk mandi dan mencuci, keluarganya terpaksa mengurangi frekuensi pemakaian.
“Anak-anak jadi mandi sekali sehari saja. Baju juga tidak bisa langsung dicuci. Kami tunggu benar-benar banyak baru mencuci,” katanya.
Warga yang tidak memiliki sumur bor terpaksa bergantung pada sumur umum atau membeli air dari mobil tangki swasta, yang harganya mahal.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih secara rutin, terutama ke desa-desa yang paling terdampak. Mereka juga meminta pengecekan sumur-sumur umum dan kemungkinan pengeboran sumur dalam sebagai solusi jangka menengah.
“Kami sangat berharap ada bantuan rutin, jangan hanya sekali. Kemarau belum tahu sampai kapan. Kalau begini terus, kami benar-benar kesulitan,” tutupnya. [nh]