Senin, 12 Oktober 2026
Beranda / Sosok Kita / Prof. Samsul Rizal, Ilmuwan Aceh yang Masuk Daftar Paling Berpengaruh di Dunia

Prof. Samsul Rizal, Ilmuwan Aceh yang Masuk Daftar Paling Berpengaruh di Dunia

Minggu, 11 Oktober 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU, ASEAN Eng dan gedung rektorat Universitas Syiah Kuala. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Soki - Peringkat 2.309 dunia terdengar seperti angka yang dingin. Namun di baliknya berdiri seorang lelaki kelahiran Idi Rayeuk yang pernah menimbang retakan logam di laboratorium Jepang, kehilangan dua anaknya oleh gelombang yang menyapu Aceh, lalu memimpin kampus tempat ia pertama kali belajar selama satu dasawarsa.

Nama Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU, ASEAN Eng. kembali tercantum dalam World's Top 2% Scientists 2026, daftar ilmuwan berpengaruh yang disusun tim Universitas Stanford bersama penerbit Elsevier dari data publikasi dan sitasi. Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK) itu berada di urutan 2.309 dunia untuk bidang Polymers (ilmu polimer), pada kategori dampak satu tahun terakhir atau single-year. Tahun lalu 2025 masih tercatat World's Top Scientists sekarang tahun ini mampu mempertahankan. 

Tulisan disajikan Dialeksis menelusuri dan mencoba membaca angka tersebut pelan-pelan: apa yang diukurnya, apa yang tidak, dan perjalanan seperti apa yang membuatnya mungkin.


Dari Idi Rayeuk ke Toyohashi

Samsul Rizal lahir di Idi Rayeuk, ibu kota Kabupaten Aceh Timur, pada 8 Agustus 1962. Itu juga tahun ketika pendirian Universitas Syiah Kuala, perguruan tinggi negeri tertua di Aceh, dikukuhkan lewat Keputusan Presiden. Tak seorang pun saat itu menduga bahwa bayi dari pesisir timur Aceh tersebut kelak memimpin kampus itu.

Ia kuliah Teknik Mesin di USK pada 1981 - 1987. Skripsinya membahas sistem pendingin ruang ICCU di Rumah Sakit Zainal Abidin, jauh sebelum udara di ruang rawat menjadi bidang risetnya kelak. Ia lalu mengajar di kampus yang sama. Beasiswa pemerintah Jepang membawanya ke Toyohashi University of Technology untuk magister (1995 - 1998) dan doktor teknik mesin. Gelar doktornya rampung pada 2001, dengan kajian structural integrity atau integritas struktur.

Bidang itu menyoal hal-hal yang tampak sederhana tetapi menentukan: kapan logam mulai retak, bagaimana kerusakan kecil merambat menjadi patahan, dan mengapa satu komponen bertahan sementara komponen lain menyerah di bawah beban yang sama. Di Jepang ia meneliti mekanika impak di bawah bimbingan Prof. Hiroomi Homma, baik untuk tesis magister maupun disertasinya. Salah satu hasilnya, tentang patah ulet akibat beban pulsa pendek, terbit di International Journal of Impact Engineering pada 2000.

Pengakuan datang bahkan sebelum gelar doktor saat di tahun 1994 ia dipilih sebagai dosen teladan pertama di Fakultas Teknik dan dosen teladan kedua tingkat universitas. Sesudahnya, pada 2001 ia ditetapkan sebagai Toyohashi Goodwill Ambassador untuk Indonesia, dan pada 2004 dinobatkan sebagai peneliti terbaik pertama di Unsyiah, nama USK pada masa itu.


Dua Hari Setelah SK Guru Besar

Pada 24 Desember 2004, surat keputusan pengangkatan Samsul Rizal sebagai Guru Besar terbit. Itu puncak dari perjalanan akademik yang dibangun bertahun-tahun lewat pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Dua hari kemudian, Minggu pagi 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 mengguncang laut di lepas pantai barat Aceh. Tsunami menghantam pesisir dalam waktu kurang dari setengah jam. Samsul ikut terseret gelombang. Ia selamat, tetapi kehilangan dua buah hatinya.

Dua hari. Itulah jarak antara kabar paling membanggakan dalam kariernya dan kehilangan yang tak punya satuan. Tak ada indeks sitasi yang dapat mengukurnya, dan tak ada penghargaan yang bisa menjelaskan bagaimana seseorang melanjutkan hidup sesudahnya.

Kampusnya pun ikut terpukul. Pusat Studi Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) USK mencatat universitas ini kehilangan 213 dosen dan staf serta 1.426 mahasiswa. Kegiatan kampus berhenti hampir setengah tahun dan baru pulih penuh pada akhir 2005. Dua tahun setelah bencana, pada 30 Oktober 2006, USK mendirikan TDMRC.

Pusat itu kini memiliki laboratorium gelombang tsunami, meja getar multi-sumbu, dan observatorium gempa waktu nyata, serta menjalin riset bersama mitra Jepang. Samsul, yang pada 2006 mulai menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik, kemudian turut membesarkan pusat kajian kebencanaan tersebut. Menjelang akhir masa jabatannya sebagai rektor, pembangunan Pusat Riset Kebencanaan USK senilai sekitar Rp180 miliar ikut masuk agenda kampus.

Di titik inilah kisah pribadi bertemu tanggung jawab akademik: bagaimana pengetahuan membantu orang memahami risiko dan menghadapi bencana. Pada Maret 2015 ia membawa pengalaman USK itu ke Konferensi Dunia PBB ketiga tentang Pengurangan Risiko Bencana di Sendai, Jepang, lewat makalah tentang peran universitas dalam penanganan bencana dan pemulihan pascatsunami. Tulisan senada terbit pada 2018 sebagai bab dalam buku seri SpringerBriefs in Economics. Dua puluh satu tahun setelah tsunami, ketika siklon Senyar melanda Aceh pada 25–26 November 2025 dan menewaskan sedikitnya 504 orang di provinsi ini menurut catatan TDMRC, pusat riset itu kembali menjadi simpul: ia mengoordinasikan satgas kebencanaan USK di 10 kabupaten terdampak.


Dari Retakan Logam ke Limbah yang Bernilai

Pada awal kariernya Samsul meneliti perilaku logam di bawah tekanan ekstrem. Perlahan arah risetnya bergeser ke serat alam, nanoselulosa, dan biopolimer. Benang merahnya tetap sama: memahami watak sebuah material, lalu mencari cara memanfaatkannya. Yang berubah adalah dekatnya objek itu dengan persoalan lingkungan dan kebutuhan industri.

Pergeseran ini menjelaskan mengapa seorang insinyur mesin tercatat di bidang Polymers. Polimer adalah molekul berantai panjang, dan selulosa, penyusun utama dinding sel tumbuhan, termasuk polimer alami. Material yang sama yang menyusun serat sawit, sabut kelapa, dan rumput laut itulah yang kini menjadi bahan baku riset Samsul.

Aceh kaya akan sisa produksi semacam itu: tandan kosong kelapa sawit, sabut kelapa, ampas kopi, limbah kapas, rumput laut. Bagi sebagian orang itu sampah. Bagi peneliti material, di sanalah pertanyaan ilmiah bermula. Dapatkah limbah pertanian menjadi kemasan yang terurai? Dapatkah bahan berbasis alam menyerap logam berat? Dapatkah limbah yang melimpah menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi? Riwayat riset yang ia susun pada 2019 menunjukkan pertanyaan-pertanyaan itu sudah lama dikejarnya: komposit berpenguat serat Typha, serat buah biduri dan buah reubek, papan partikel dari limbah kayu meranti berperekat damar, biobriket dengan penyerap cangkang kerang, hingga selulosa mikrokristal dari bambu.

Bersama kelompok risetnya, termasuk lewat kolaborasi panjang dengan Prof. H.P.S. Abdul Khalil dari Universiti Sains Malaysia, Samsul menggarap film kemasan berbasis biomaterial, aerogel untuk penyerapan logam berat, dan material insulasi panas. Potensi itu tentu tidak otomatis menjadi produk industri. Ia masih harus melewati pengujian, konsistensi mutu, perhitungan biaya produksi, dan kesiapan pasar.

Direktori resmi USK mencatat 237 artikel jurnal, 84 prosiding, dan lima buku atas nama Samsul, tersebar di penerbit seperti Elsevier, Springer, Woodhead Publishing, dan IntechOpen. Jejak pergeseran risetnya terbaca dari judul-judulnya: mekanisme patah logam pada 2000 dan 2002, tinjauan ekstraksi hidrokoloid rumput laut pada 2018, pemanfaatan limbah kapas sebagai biomaterial pada 2021, biopolimer untuk kemasan pada 2023, dan pada tahun yang sama aerogel berbasis biopolimer untuk penghantaran terapeutik.

Daftar itu belum berhenti. Pada 2026, di usia 64 tahun, ia menerbitkan penelitian eksperimental dan simulasi computational fluid dynamics (CFD) tentang sistem suplai dan ekstraksi udara untuk ruang isolasi infeksi.


Ketika Riset Masuk ke Ruang Isolasi

Salah satu contoh yang paling jelas tentang pertautan riset dan kebutuhan masyarakat adalah penelitian tata udara ruang isolasi pasien. Sejak 2021, Samsul memimpin riset untuk mendukung penyusunan standar nasional spesifikasi teknis ruang isolasi pasien SARS-CoV-2. Penelitian itu didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sekitar US$300 ribu dan melibatkan mitra industri dari Jerman dan Jepang.

Ruang isolasi bukan sekadar kamar berpintu rapat dengan pendingin udara. Pada ruang isolasi infeksi udara bertekanan negatif, tekanan di dalam dijaga lebih rendah daripada area sekitarnya agar udara tidak mengalir keluar sembarangan. Pedoman yang lazim dirujuk, seperti panduan CDC dan standar ASHRAE 170, mensyaratkan sedikitnya 12 pergantian udara per jam untuk ruang baru (6 untuk ruang lama) dan selisih tekanan negatif sekitar 2,5 pascal. Udara buangnya dialirkan langsung ke luar gedung atau disaring dengan HEPA.

Di sinilah simulasi CFD berguna. Ia memetakan ke mana udara dan partikel bergerak di dalam ruangan, sehingga letak lubang suplai dan ekstraksi dapat dirancang sebelum ruangan dibangun. Pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan betapa pentingnya persoalan ini bagi fasilitas kesehatan.

Hasil riset Samsul juga dibawa ke lapangan: satu unit pengondisi udara untuk ruang operasi dipasang di RSUD Kabupaten Aceh Jaya, daerah yang pada 2004 termasuk yang paling parah dihantam tsunami. Pemasangan itu langkah penerapan. Bukti manfaatnya, termasuk dampak klinis dan efektivitas sistem, tetap menuntut data pengujian dan evaluasi operasional.


Sepuluh Tahun Memimpin USK

Samsul menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik pada 2006–2012, terpilih sebagai Rektor Unsyiah pada 2012, dan dipercaya untuk periode kedua yang dimulai 27 Februari 2018. Total sepuluh tahun ia memimpin hingga 2022, ketika Prof. Marwan, yang terpilih pada 24 Januari 2022, menggantikannya.

Capaian yang paling sering disebut adalah lompatan akreditasi institusi dari C ke A pada 2015. Pada 2017, kantor berita Antara menulis bahwa USK satu-satunya perguruan tinggi negeri yang membuat lompatan itu pada tahun tersebut. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, UIN Sumatera Utara, dan Universitas Mulawarman pun datang untuk belajar dari pengalamannya. Pada tahun yang sama, USK berada di urutan ke-14 dari 50 universitas teratas Indonesia berdasarkan publikasi terindeks Scopus.

Huruf A itu bukan sekadar hiasan sertifikat. Akreditasi institusi menilai tata kelola, mutu pendidikan, sumber daya, dan penelitian. Ia juga tak lahir dari kerja seorang rektor, melainkan dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pengelola fakultas serta unit kerja.

Pada periode itu USK juga mengerjakan proyek 7in1 senilai sekitar Rp400 miliar yang melahirkan tiga fakultas baru. Perubahan status kelembagaan memperluas ruang otonomi kampus sekaligus menambah tanggung jawab akuntabilitas. Dua pusat riset mendapat perhatian khusus: Atsiri Research Center, yang mengembangkan minyak atsiri termasuk minyak nilam, salah satu komoditas unggulan Aceh, dan TDMRC yang telah diceritakan di atas.

Sejumlah tonggak mengiringi masa itu. Pada 2014 ia menjadi Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Dalam Negeri Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri hingga 2016. Pada 2015, selain akreditasi naik, USK beralih dari satuan kerja menjadi Badan Layanan Umum. Atsiri Research Center diresmikan pada 2016, termasuk kerja sama dengan Korean Intellectual Property Office. Pada 2018 Samsul menerima Academic Leader Award dari Kemenristekdikti untuk kategori rektor atau direktur PTN satuan kerja, dan memimpin Program World Class Professor hingga 2022. Pada 2019 ia memimpin Forum IMT-GT University Network dan menjadi salah satu panelis debat calon presiden. Pada 2022 status USK berubah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum.


Apa Arti Masuk Daftar 2% Ilmuwan Teratas Dunia?

Daftar ini mengukur seberapa sering karya seorang peneliti dikutip, bukan seberapa baik ia sebagai ilmuwan secara keseluruhan. Ilmuwan tidak mendaftar. Tim peneliti Universitas Stanford yang dipimpin John P.A. Ioannidis menyusunnya dari data Scopus milik Elsevier, lalu menerbitkannya setiap tahun.

Dalam metodologinya, para ilmuwan dikelompokkan ke dalam 22 bidang dan 174 subbidang menurut klasifikasi Science-Metrix, sehingga perbandingan dilakukan di antara yang sepadan. Pola sitasi di ilmu kedokteran tidak sama dengan di teknik. Peneliti masuk jika berada di antara 100.000 teratas menurut skor komposit (c-score), dengan atau tanpa sitasi diri, atau berada di persentil 2% teratas di subbidangnya, dengan minimal lima publikasi. Skor itu memadukan jumlah sitasi, indeks-h, indeks-hm yang disesuaikan dengan kontribusi kepengarangan, dan posisi nama penulis pada makalah.

Ada dua daftar yaitu dampak sepanjang karier (career-long) dan dampak satu tahun (single-year). Samsul tercatat pada daftar kedua untuk 2026. Edisi 2025 memakai data Scopus per 1 Agustus 2025 dengan sitasi hingga akhir 2024, sehingga "satu tahun" pada daftar semacam ini lazimnya merujuk pada sitasi tahun kalender sebelumnya. Ukurannya adalah pengaruh publikasi pada periode itu, bukan akumulasi seluruh kariernya.

Agar peringkat 2.309 dunia di bidang polimer tidak disalahbaca, ada tiga hal yang perlu diingat. Pertama, peringkat hanya bermakna dalam populasi peneliti, subbidang, tahun, dan metodologi yang dipakai. Angka itu bukan pernyataan bahwa hanya 2.308 ilmuwan polimer di dunia yang lebih berpengaruh darinya. Kedua, indeks-h Samsul tercatat 34, artinya sedikitnya 34 publikasinya masing-masing dikutip minimal 34 kali, menurut basis data yang dipakai. Angka ini berbeda antarbasis data dan bukan ukuran sempurna mutu ilmuwan. Ketiga, indikator bibliometrik paling bermakna jika dibaca bersama jumlah publikasi, mutu jurnal, porsi kepengarangan, dan relevansi penelitian.

Konteks nasional membantu menakar. Pada edisi 2024, perguruan tinggi Indonesia dengan peneliti terbanyak di daftar ini adalah Institut Teknologi Bandung (14 peneliti) dan Universitas Indonesia (13). Reputasi akademik tidak dibangun hanya dengan jabatan; seorang pemimpin kampus tetap membutuhkan rekam jejak keilmuan yang dapat ditelusuri dan diuji. Samsul memilikinya, dengan catatan bahwa setiap angka bibliometrik harus dibaca sesuai konteks dan keterbatasannya.


Lima Peneliti USK, Satu Sinyal

Samsul bukan satu-satunya peneliti USK yang masuk daftar 2026. Empat koleganya turut tercantum, sehingga kelimanya tersebar di empat fakultas. Dari Fakultas Kedokteran, dr. Harapan berada di peringkat 488 dunia pada bidang General & Internal Medicine. Dari Fakultas Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Muchlisin Z.A. berada di peringkat 536 pada bidang Fisheries. Dari Fakultas Teknik, Prof. Dr. M. Faisal berada di peringkat 1.366 pada bidang General Chemistry, disusul Samsul di peringkat 2.309 pada bidang Polymers. Adapun Prof. Dr. rer. nat. Rinaldi Idroes dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam tercatat di peringkat 4.085 pada bidang Mechanical Engineering & Transports.

Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, menyebut capaian ini sebagai kebanggaan bersama sekaligus cermin meningkatnya visibilitas riset kampus di tingkat global. "Ini adalah kebanggaan kita bersama," katanya pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Mirza berharap capaian ini tidak berhenti sebagai prestasi pribadi atau kebanggaan institusi, melainkan mendorong para peneliti meningkatkan produktivitas, kualitas, dan relevansi risetnya agar berdampak bagi masyarakat dan pembangunan daerah. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan jumlah peneliti dalam pemeringkatan, melainkan memastikan produktivitas berjalan seiring mutu penelitian, kolaborasi ilmiah, dan pemanfaatan hasil riset untuk persoalan warga.

Angkanya memang bergerak. Menurut data dalam laporan yang sama, jumlah peneliti USK pada kategori single-year naik dari satu orang pada 2020 menjadi lima orang pada 2026, dan USK disebut masuk enam besar nasional pada pilar Kualitas Riset dalam Times Higher Education World University Rankings 2027.

Kedua indikator itu memberi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan mutu riset secara menyeluruh. Kualitas publikasi, kolaborasi internasional, dampak sosial, pendanaan penelitian, dan keberlanjutan ekosistem riset perlu dibaca pula. Meski begitu, capaian lima peneliti ini penting. Bukan hanya karena nama mereka tercantum dalam daftar internasional, melainkan karena dapat memantik peneliti muda Aceh membangun tradisi ilmiah yang lebih kuat.


Ilmu Tidak Dibangun dalam Semalam

Riset Samsul tidak berhenti ketika masa jabatannya sebagai rektor USK berakhir. Pada 2024 ia terpilih sebagai Rektor Universitas Batam untuk periode 2024 - 2028. Di tengah tugas manajerial itu, namanya tetap muncul di publikasi ilmiah dan daftar peneliti berpengaruh.

Ketika namanya masuk daftar yang sama tahun sebelumnya, ia tidak memandangnya sebagai keberhasilan pribadi. Ia mengaitkannya dengan kerja bersama, pembimbingan mahasiswa, dan kolaborasi lintas negara, seraya berharap anak muda Aceh tidak ragu menekuni penelitian.

Pesan itu terasa wajar jika menengok jalannya sendiri: pendidikan teknik di kampus daerah, studi di Jepang, kembali mengajar, membangun kelompok riset, memimpin universitas, dan terus menulis. Risetnya ikut berubah mengikuti zaman, dari mekanika patah logam ke material berbasis alam dan aliran udara di ruang isolasi.

Ada pelajaran yang lebih luas daripada peringkat dunia. Aceh tidak kekurangan bahan baku, persoalan nyata, maupun generasi muda berbakat. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat pertanyaan lokal tumbuh menjadi penelitian bermutu, diuji secara ilmiah, lalu diterjemahkan menjadi solusi. Tandan sawit, sabut kelapa, ampas kopi, dan rumput laut tidak otomatis menjadi inovasi. Semuanya butuh pengetahuan, teknologi, investasi, dan keberanian mencoba.


Di Atas Sadel

Di sela kesibukannya, Samsul bersepeda. Ia bergabung dengan komunitas road bike Aceh dan ikut menyemarakkan Tour de Gayo, ajang balap sepeda di dataran tinggi Gayo. Etapenya selama ini membentang dari Bireuen ke Takengon, lebih dari seratus kilometer dengan tanjakan panjang.

Di laboratorium ia belajar sabar menghadapi material. Di jalan raya ia menjaga irama bersama kawan-kawan sekayuh. Dua dunia itu berbeda, tetapi sama-sama menuntut disiplin, konsistensi, dan daya tahan.

Peringkat 2.309 dunia pada akhirnya hanya satu penanda di sebuah rute yang jauh lebih panjang: dari Idi Rayeuk ke laboratorium di Jepang, dari kampus di Banda Aceh ke panggung ilmiah dunia, lalu ke jalan-jalan Gayo bersama komunitas pesepeda. Perjalanan seorang ilmuwan ternyata tidak hanya diukur dari seberapa jauh pengetahuannya menjangkau dunia, tetapi juga dari seberapa erat ia tetap terhubung dengan kehidupan di sekitarnya. [Tim Data dan Analisis Dialeksis]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI