DIALEKSIS.COM | Soki - Tgk. Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh, merupakan salah satu ulama berpengaruh di Aceh saat ini. Ia lahir pada 7 Januari 1968 di Gampong Janguet, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, dari pasangan M. Ali Daud dan Rusni Yunus. Tumbuh dalam keluarga sederhana, Faisal kecil telah ditempa dalam tradisi pendidikan dayah yang kuat.
Selama 15 tahun, sejak 1985 hingga 1999, ia menimba ilmu di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Di sana, selain mendalami ilmu agama, ia juga aktif dalam berbagai organisasi santri. Pendidikan formalnya dilanjutkan ke jenjang S1 di STAI Al-Aziziyah Samalanga. Setelah menyelesaikan studi, ia kembali ke Lamno dengan tekad membangun lembaga pendidikan sendiri.
Pada 1999, berbekal tanah wakaf seluas 6.000 meter persegi di kawasan Sibreh, ia mendirikan Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah dan menjadi mudir atau pimpinan pertamanya. Pesantren tersebut berkembang pesat. Pada 2013, didirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan dua tahun kemudian, tepatnya 2015, berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh. Kehadiran lembaga-lembaga ini memperluas akses pendidikan bagi generasi muda Aceh, khususnya dalam bidang keagamaan dan kejuruan.
Jejak kepemimpinan Faisal Ali telah terlihat sejak masa santri. Ia pernah memimpin Ikatan Santri Lamno (1991 - 1993) dan menjadi pengurus di Pesantren MUDI Samalanga (1994 - 1998). Kariernya kemudian merambah ke ranah kelembagaan dan pemerintahan.
Sejak 2009, ia dipercaya sebagai Staf Ahli DPRA Komisi E. Dalam organisasi keagamaan, perannya semakin menonjol. Ia menjabat sebagai Ketua PWNU Aceh sejak 2010 dan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Aceh sejak 2015. Pada periode 2017 - 2022, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua MPU Aceh periode 2022 - 2027.
Dalam kehidupan pribadi, Abu Sibreh didampingi istrinya, Erma Suryani, S.Tp. Pasangan ini dikaruniai tiga putra yakni Muhammad Ihlal Fikri, Muhammad Iswa Fikri, dan Muhammad Irsa Fikri.
Dalam aktivitas dakwahnya, Abu Sibreh dikenal konsisten mengusung nilai moderasi dan ukhuwah Islamiyah. Ia kerap menyerukan pentingnya toleransi dan saling menghormati di tengah perbedaan. Saat menanggapi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, misalnya, ia mengajak umat untuk “menjaga ukhuwah dan kebersamaan” serta “saling menghargai dan menghormati” perbedaan yang ada.
Sikap moderatnya juga terlihat dalam menyikapi wacana pelaksanaan hukuman cambuk secara tertutup di Aceh. Ia menilai pelaksanaan cambuk tetap perlu dilakukan secara terbuka sebagai bentuk edukasi publik, namun tetap dalam koridor syariat dan etika, bukan sebagai langkah untuk menekan atau mengusir investor.
Selain itu, ia aktif mengulas isu-isu keagamaan kontemporer, termasuk mengkaji ciri-ciri paham menyimpang dengan pendekatan agama dan sosiologi. Pendekatan ini menunjukkan upayanya dalam menegakkan syariat Islam secara bijak dan kontekstual.
Sebagai Ketua MPU Aceh dan Ketua PWNU Aceh, Abu Sibreh memiliki pengaruh luas dalam jaringan ulama dan masyarakat. Ia kerap menjadi rujukan dalam berbagai forum keagamaan dan kebijakan publik. Dalam Musyawarah Ulama Aceh tahun 2025, misalnya, ia memimpin lahirnya sejumlah rekomendasi penting, termasuk usulan penetapan status bencana nasional dan penguatan peran masjid dalam penanggulangan bencana.
Di bawah kepemimpinannya, MPU Aceh juga meraih BAZNAS Award 2025 sebagai Mitra Terbaik dalam Pengumpulan Zakat. Capaian ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas sinergi lembaga ulama dengan pengelolaan zakat yang profesional dan berdampak sosial.
Selain memimpin MPU Aceh, Faisal Ali juga tercatat memimpin asosiasi ulama dayah Aceh (HUDHA), yang memperkuat posisinya dalam jaringan pendidikan tradisional di Tanah Rencong. Melalui peran-peran tersebut, ia menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam isu-isu sosial keagamaan.
Rekam Jejak Singkat
• 1968: Lahir di Janguet, Lamno, Aceh Jaya (7 Januari 1968)
• 1985-1999: Santri di Dayah MUDI Samalanga
• 1999: Mendirikan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Sibreh
• 2000-2005: Studi S1 STAI Al-Aziziyah Samalanga
• 2009-sekarang: Staf Ahli DPRA Komisi E
• 2010-sekarang: Ketua PWNU Aceh
• 2015-sekarang: Ketua BWI Aceh
• 2017-2022: Wakil Ketua MPU Aceh
• 2022-2027: Ketua MPU Aceh
• 2025: MPU Aceh raih BAZNAS Award
Secara keseluruhan, Tgk. Faisal Ali atau Abu Sibreh tampil sebagai figur ulama yang menekankan moderasi Islam, menjaga persatuan umat, serta memperkuat konektivitas antara pesantren, masyarakat, dan pemerintah. Melalui pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan organisasi, ia berkontribusi dalam membentuk wajah Islam Aceh yang religius sekaligus inklusif. [arn]