Rabu, 17 Juni 2026
Beranda / Politik dan Hukum / KIP Aceh Perkuat Humas Pemilu, Aryos dan Destika Ingatkan Bahaya Hoaks

KIP Aceh Perkuat Humas Pemilu, Aryos dan Destika Ingatkan Bahaya Hoaks

Selasa, 16 Juni 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menggelar Rapat Koordinasi Kehumasan KIP Aceh dan KIP Kabupaten/Kota se-Aceh Tahun 2026 di Aula KIP Aceh, Senin (15/6/2026). Foto: for Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menggelar Rapat Koordinasi Kehumasan KIP Aceh dan KIP Kabupaten/Kota se-Aceh Tahun 2026 di Aula KIP Aceh, Senin (15/6/2026).

Kegiatan ini menjadi forum konsolidasi untuk memperkuat fungsi kehumasan penyelenggara pemilu, terutama dalam menghadapi tantangan komunikasi publik, disinformasi, serta kebutuhan penyajian informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat.

Rapat koordinasi tersebut dibuka Ketua KIP Aceh, Agusni AH. Ia didampingi Wakil Ketua KIP Aceh Iskandar Agani, Ketua Divisi Perencanaan dan Logistik Khairunnisak, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat Hendra Darmawan, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan Ahmad Mirza Safwandy, serta Sekretaris KIP Aceh Teuku Joan Virgianshah.

Dalam sambutannya, Agusni AH menegaskan bahwa kehumasan memiliki peran strategis dalam membangun kepercayaan publik terhadap lembaga penyelenggara pemilu. Menurutnya, kerja humas tidak lagi cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan komunikasi antara KIP dan masyarakat.

“Informasi kepemiluan harus disampaikan secara terbuka, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, humas menjadi garda penting dalam menjaga kepercayaan publik,” kata Agusni.

Sementara itu, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat KIP Aceh, Hendra Darmawan, menekankan pentingnya strategi sosialisasi dan publikasi kegiatan kelembagaan yang lebih terencana. Ia menyebut pengelolaan informasi publik perlu dilakukan secara efektif dan berkelanjutan agar citra kelembagaan tetap kuat serta partisipasi masyarakat dalam demokrasi terus meningkat.

Rapat koordinasi ini turut menghadirkan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh, Aryos Nivada, dan influencer sekaligus pegiat anti-hoaks, Destika Gilang Lestari, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Aryos Nivada menyampaikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik dan teknik penulisan berita bagi jajaran kehumasan KIP. Menurut Aryos, kemampuan menulis berita dan siaran pers yang baik menjadi kebutuhan penting bagi penyelenggara pemilu di era digital.

Aryos mengatakan, informasi pemilu seperti jadwal, tahapan, hasil, dan kebijakan kelembagaan harus disampaikan dengan bahasa yang jelas, akurat, dan mudah diverifikasi. Ia menilai kepercayaan publik akan tumbuh ketika informasi yang diterima masyarakat konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Humas KIP harus mampu menulis dengan sederhana, tetapi kuat secara data. Berita yang baik bukan sekadar panjang, melainkan memberi dampak, objektif, seimbang, dan bermanfaat bagi publik,” kata Aryos.

Owner Dialeksis.com dan Nukilan.id itu juga menekankan pentingnya penggunaan prinsip 5W+1H, piramida terbalik, serta pengecekan ulang terhadap ejaan, angka, nama, dan konteks sebelum sebuah informasi dipublikasikan. Menurutnya, kesalahan kecil dalam informasi kepemiluan dapat menimbulkan tafsir keliru di ruang publik.

Aryos juga mengingatkan jajaran KIP kabupaten/kota agar tidak memandang media sosial hanya sebagai kanal publikasi seremonial. Menurutnya, media sosial harus dikelola sebagai ruang edukasi publik yang cepat, ringkas, dan dekat dengan pemilih.

“Format seperti video pendek, infografik, carousel, dan rilis singkat perlu dioptimalkan. Publik hari ini membutuhkan informasi yang cepat, tetapi tetap benar,” ujarnya.

Pada sesi lainnya, Destika Gilang Lestari menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap hoaks dan disinformasi di media sosial. Menurutnya, isu kepemiluan sangat rentan dipelintir, terutama ketika berkaitan dengan hasil suara, tahapan teknis, data pemilih, dan keputusan penyelenggara.

Destika mengingatkan bahwa hoaks biasanya menyebar cepat karena dikemas dengan narasi emosional, sumber tidak jelas, dan potongan informasi yang belum terverifikasi. Karena itu, kata dia, KIP perlu membangun pola klarifikasi cepat melalui kanal resmi.

“Melawan hoaks tidak cukup hanya dengan membantah. Penyelenggara pemilu harus hadir lebih cepat dengan penjelasan yang sederhana, data yang jelas, dan rujukan resmi yang mudah diperiksa masyarakat,” kata Destika.

Ia juga mendorong jajaran kehumasan KIP agar memperkuat literasi digital, memahami karakter pengguna media sosial, serta membangun narasi positif yang informatif dan edukatif. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami proses demokrasi secara lebih utuh.

Rapat koordinasi ini diikuti Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia KIP kabupaten/kota se-Aceh. Kegiatan juga diikuti secara daring oleh kepala subbagian yang membidangi partisipasi dan hubungan masyarakat di lingkungan KIP kabupaten/kota.

Melalui kegiatan ini, KIP Aceh berharap sinergi kehumasan antara KIP provinsi dan KIP kabupaten/kota semakin kuat. Selain menyamakan persepsi, forum tersebut juga menjadi ruang evaluasi dan penguatan kapasitas dalam pengelolaan konten, publikasi kegiatan, serta komunikasi publik yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Bahan presentasi Aryos memuat penekanan tentang pentingnya informasi pemilu yang konsisten, akurat, mudah diverifikasi, penggunaan 5W+1H, piramida terbalik, objektivitas, serta peran media sosial dalam meningkatkan partisipasi dan kepercayaan publik. 

Susunan acara KIP Aceh juga mencantumkan sesi materi panel Aryos Nivada tentang dasar-dasar jurnalistik dan teknik penulisan berita, serta Destika Gilang Lestari tentang menghindari hoaks dalam penggunaan media sosial.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI