Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Naskah Kuno Aceh Terancam Rusak Pascabanjir, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

Naskah Kuno Aceh Terancam Rusak Pascabanjir, Pemerintah Diminta Segera Bertindak

Jum`at, 03 April 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kondisi manuskrip kuno Aceh akibat terdampak bencana banjir dan longsor akhir November 2025 lalu. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya menyisakan kerusakan infrastruktur dan kerugian material, tetapi juga mengancam keberlangsungan warisan intelektual dan budaya berupa naskah kuno atau manuskrip.

Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Aceh, Hermansyah, yang juga dosen filologi di UIN Ar-Raniry, mendesak pemerintah pusat hingga daerah untuk segera mengambil langkah cepat dalam upaya penyelamatan naskah-naskah kuno yang terdampak banjir.

“Ini perlu menjadi perhatian serius. Kami menghimbau pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kebudayaan, Perpustakaan Nasional RI, dan Kementerian Sosial, agar segera melakukan langkah-langkah preservasi dan restorasi terhadap manuskrip yang terdampak banjir di Aceh,” ujar Hermansyah kepada media dialeksis.com, Jumat (3/4/2026).

Menurutnya, upaya penyelamatan ini tidak hanya menyasar lembaga penyimpan naskah, tetapi juga masyarakat yang selama ini menjadi kolektor atau penjaga manuskrip secara mandiri. Dalam hal ini, keterlibatan semua pihak penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.

Hermansyah juga meminta Pemerintah Aceh untuk menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan ini, dengan menghadirkan program konkret seperti pendataan, konservasi, hingga penyelamatan berkelanjutan terhadap benda cagar budaya.

“Pemerintah Aceh diharapkan memberi atensi khusus terhadap penyelamatan warisan budaya, termasuk naskah kuno. Harus ada langkah nyata dan terencana, mulai dari pendataan hingga konservasi jangka panjang,” tegasnya.

Fakta di lapangan, lanjut Hermansyah, menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Banyak manuskrip yang belum tersentuh penanganan, bahkan sebagian telah mengalami kerusakan berat akibat terendam air dan lumpur.

“Sebagian naskah bahkan sudah membatu karena lumpur yang mengering, sementara lainnya rusak parah. Ini situasi darurat bagi warisan intelektual kita,” ungkapnya.

Selain kepada pemerintah, Hermansyah juga mengimbau masyarakat agar tidak mengambil langkah keliru terhadap naskah yang rusak. Ia menegaskan bahwa manuskrip, meskipun dalam kondisi rusak, tetap memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

“Kami menghimbau masyarakat untuk tidak membakar atau menguburkan manuskrip yang dianggap sudah rusak. Itu adalah warisan indatu yang sangat berharga. Sebaiknya segera dilaporkan ke pemerintah kabupaten/kota atau ke Manassa Aceh agar bisa kita carikan solusi penyelamatannya,” ujarnya.

Berdasarkan data awal yang dihimpun Manassa Aceh, sejumlah koleksi naskah di berbagai wilayah terdampak banjir dengan kondisi yang beragam. Di antaranya, Dayah Pulo di Aceh Utara dengan sekitar 20 naskah terendam lumpur dan air. Kemudian koleksi milik Suryadi di Aceh Timur sebanyak 20 naskah terdampak air.

Selain itu, naskah kuno koleksi Museum Langsa serta manuskrip di Museum Samudera Pasai, Aceh Utara, juga mengalami kerusakan akibat lumpur dan air. Sejumlah kolektor pribadi di Aceh Utara dan Aceh Timur turut terdampak, dengan kondisi naskah yang belum seluruhnya terdata.

Di Bireuen, koleksi naskah di Zawiyah Awee Geutah yang mencapai 53 naskah juga dilaporkan terdampak, meskipun detail kerusakan masih dalam pendataan. Sementara itu, koleksi terbesar berada di Masykur Pedir Museum di Pidie Jaya dengan sekitar 300 naskah dilaporkan dalam kondisi aman.

Adapun koleksi di Aceh Barat sebanyak 10 naskah dilaporkan dalam kondisi lembab, serta sekitar 40 naskah milik kolektor pribadi di Aceh Timur mengalami kerusakan akibat lumpur. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI