Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Nasional / Ceramah 2012 Cak Nun Viral, Isinya Soal Konflik Iran-Israel Kini Dinilai Relevan

Ceramah 2012 Cak Nun Viral, Isinya Soal Konflik Iran-Israel Kini Dinilai Relevan

Minggu, 01 Maret 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Penceramah kondang Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun. [Foto: Net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebuah video ceramah penceramah kondang Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun, kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. 

Meski diunggah ulang dari rekaman tahun 2012, pesan dan ramalan geopolitik yang disampaikannya kini dipandang oleh netizen sebagai sesuatu yang seakan terbukti di tengah eskalasi konflik besar antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang tengah berlangsung pada tahun 2026.

Potongan video yang beredar luas di platform Instagram dan TikTok yang dilansir media dialeksis.com, Minggu (1/3/2026), itu menunjukkan Cak Nun sedang berdiri di depan jemaah di Masjid Raya Klaten. 

Dalam ceramahnya lebih dari satu dekade lalu, ia membahas kemungkinan konflik besar di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara besar dunia.

“Suatu hari Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika, dan nanti Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya untuk Indonesia: Indonesia membela mana?” kata Cak Nun dalam video tersebut, sambil menatap tajam para jemaah.

Pesan itu kemudian ia lanjutkan dengan analisis tentang dinamika ideologi, politik, dan agama di kawasan yang terus bergolak. 

"Mohon maaf kalau saya salah, Israel itu juga melakukan provokasi yang luar biasa di Arab Saudi dengan meningkatkan faham-faham yang kemudian menguasai Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Tujuannya sederhana: memutus hubungan batin antara umat Islam dengan Rasulullah SAW,” ujar Cak Nun dengan bahasa yang lugas dan penuh perumpamaan.

Pernyataan Cak Nun kembali ramai setelah kemunculan gelombang konflik besar antara Iran dan Israel yang mulai meningkat sejak pertengahan 2025 dan terus meluas pada awal 2026. 

Perang antara kedua negara ini sempat mencapai puncaknya dalam apa yang disebut perang 12 hari pada 13-24 Juni 2025, di mana serangan udara dan balasan rudal saling terjadi antara militer Iran dan Israel dalam konflik yang melibatkan AS juga di beberapa titik pertempuran. 

Pada akhir Februari 2026, ketegangan kembali meningkat tajam ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar terhadap Iran dalam operasi yang kemudian dikenal sebagai Operation Epic Fury. 

Serangan itu menargetkan pusat-pusat militer termasuk dugaan fasilitas nuklir, serta sejumlah figur penting di pemerintahan dan militer Iran. 

Serangan telah memicu respons Iran yang keras. Menurut laporan terbaru, rudal dan drone Iran diluncurkan ke wilayah Israel serta ke pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk. Serangan itu dilaporkan menimbulkan korban dan memaksa sirene darurat berbunyi di sejumlah kota di Israel. 

Dalam perkembangan paling sensasional, kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, diumumkan oleh pejabat senior Israel pada 28 Februari 2026, setelah serangan gabungan tersebut menargetkan kompleks kepemimpinannya.

Situasi ini memaksa Israel menetapkan status darurat nasional, melarang kerumunan publik, dan menutup sejumlah fasilitas sipil untuk mengantisipasi ancaman lanjutan. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI