Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Analisis / Membaca Dibalik Motif AS-Israel Gempur Iran

Membaca Dibalik Motif AS-Israel Gempur Iran

Minggu, 01 Maret 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi Bendera Iran dan Israel. Foto: Antara/Shutterstock/aa.


DIALEKSIS.COM | Analisis - Ledakan pertama mengguncang Teheran, Sabtu 28 Februari 2026, saat fajar baru saja merekah. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilancarkan secara serentak dari udara dan laut itu tidak hanya meratakan instalasi militer Iran, tetapi juga menghancurkan ilusi tentang perdamaian di Timur Tengah. Di balik sandi operasi "Epic Fury", tersimpan narasi besar yang saling bertaut dimulai ambisi nuklir yang tak terbukti, kalkulasi politik domestik dua pemimpin yang tengah terdesak, dan keyakinan bahwa rezim di Teheran sedang berada di titik terlemahnya.

Kementerian Pertahanan Israel tak ragu menyebut serangan ini sebagai tindakan "pre-emptive", sebuah pembelaan diri terhadap ancaman yang akan datang. Namun, di mata para analis internasional, label itu hanyalah bungkus propaganda untuk apa yang sejatinya adalah perang pilihan. Jeremy Bowen, International Editor BBC, dengan tegas menyatakan bahwa serangan ini lebih merupakan eksploitasi atas kerentanan Iran ketimbang respons atas ancaman nyata yang membayang .

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memang telah lama menjadi duri di mata Washington dan Tel Aviv. Namun, keputusan untuk melancarkan gempuran besar-besaran kali ini yang menurut laporan Palang Merah Iran telah menewaskan setidaknya 201 orang dan melukai 747 lainnya di 24 provinsi dibaca sebagai keyakinan bahwa "saat yang tepat" telah tiba . "Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan," tulis Bowen, merujuk pada kalkulasi elite intelijen di kedua negara .

Dalam pernyataan video yang diunggah ke platform Truth Social, Presiden Donald Trump dengan gaya khasnya menegaskan bahwa operasi ini bertujuan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran. "Kita akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah," ujarnya, seraya menuduh Teheran membangun kembali program nuklirnya setelah dihantam pada Juni tahun lalu .

Namun, narasi "ancaman nuklir" ini mendapat sorotan tajam. Julian Borger, koresponden senior The Guardian, mengingatkan bahwa pidato Trump yang direkam delapan menit itu justru memperjelas bahwa serangan ini bukanlah aksi terbatas untuk memaksa konsesi di meja perundingan, melainkan upaya perubahan rezim secara terang-terangan . Apalagi, serangan diluncurkan di saat perundingan di Jenewa justru disebut "positif" oleh utusan Trump sendiri .

Ironisnya, Trump sendiri pernah mendeklarasikan bahwa program nuklir Iran telah "dimusnahkan" setelah perang singkat pada musim panas 2025 . Lalu, mengapa tiba-tiba ancaman itu digaungkan kembali? Jurnalis Drop Site, Jeremy Scahill, menyebut taktik ini sebagai pengulangan skenario lama. "AS sekali lagi menggunakan perundingan sebagai kedok untuk mengebom Iran... Taktik propaganda ini sama persis dengan yang digunakan dalam perang Irak 2003," tulisnya, merujuk pada kebohongan soal senjata pemusnah massal Saddam Hussein .

Analis dari Chinese Academy of Social Sciences, Tang Zhichao, bahkan menyebut perundingan itu "sepenuhnya tabir asap". Menurutnya, pengerahan dua kapal induk dan berbagai aset militer AS di kawasan sudah rampung jauh sebelumnya. "Ini adalah hasil yang direncanakan dengan matang. Ini menunjukkan bahwa AS dan Israel telah benar-benar kehilangan harapan pada negosiasi, dan pergantian kepemimpinan di Iran adalah tujuannya," ujarnya kepada CGTN .

Jika tahun lalu Israel lebih banyak bergerak sendiri dengan persuasi dari Washington, kali ini AS mengambil peran utama. Skala dan target serangan meluas, tidak lagi terbatas pada fasilitas nuklir, tetapi juga menyasar kantor Kementerian Intelijen, Kementerian Pertahanan, kompleks militer Parchin di Teheran, hingga lokasi-lokasi yang dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei .

Para pengambil kebijakan di AS dan Israel meyakini waktu sedang berpihak pada mereka. Liu Qiang, mantan atase pertahanan di Iran, menilai bahwa isolasi diplomatik Iran dan tekanan ekonomi internal telah menciptakan "jendela strategis" yang langka. Rezim di Teheran disebut sedang bergulat dengan krisis ekonomi parah, dampak dari tindakan keras brutal terhadap pengunjuk rasa awal tahun ini, serta pertahanan yang masih porak-poranda akibat perang musim panas lalu .

Kerentanan ini coba dieksploitasi dengan dua cara: pendekatan keras dan rayuan. Trump mengancam IRGC dengan "kematian pasti" jika tidak menyerah, namun di saat yang sama menjanjikan amnesti bagi personel militer Iran yang membelot . Netanyahu, dalam pidatonya, bahkan secara langsung merayu rakyat Iran. "Waktunya telah tiba bagi seluruh rakyat Iran untuk melepaskan belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai," katanya, seraya menyebut operasi gabungan ini akan "menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil kendali atas nasib mereka sendiri".

Namun, Lawrence Pintak, pengamat Timur Tengah dari Washington State University, mengingatkan bahaya narasi perubahan rezim ini. "Mereka tahu apa artinya turun ke jalan; mereka telah melihat ribuan warga Iran terbunuh dalam beberapa bulan terakhir," katanya. Lebih jauh, ia mempertanyakan apa yang akan menggantikan rezim lama jika benar tumbang. "Jika kita melihat sejarah, jarang sekali seorang tiran digulingkan dan demokrasi yang menang. Dia biasanya digantikan oleh tiran lain dengan warna berbeda," ujarnya, mengutip pengalaman pahit di Irak, Libya, dan Afghanistan .

Meski berjalan beriringan, kepentingan Washington dan Tel Aviv tidak sepenuhnya identik. Tang Zhichao membedah perbedaan ini dengan cermat. Israel, menurutnya, memiliki ambisi eksistensial: ingin melenyapkan total ancaman strategis dari Iran, tidak hanya nuklir dan rudal balistik, tetapi juga jaringan proksinya seperti Hizbullah dan Hamas yang selama ini menjadi duri di perbatasan .

Sementara itu, Trump memiliki kalkulasi yang lebih luas namun juga lebih pragmatis. Ia ingin melenyapkan program nuklir Iran dan, jika kondisi menguntungkan, tidak menutup kemungkinan untuk menjatuhkan kepemimpinan Teheran. Namun, ia disebut tidak bersedia menguras terlalu banyak sumber daya atau terjebak kembali dalam perang darat yang melelahkan seperti di Irak dan Afghanistan . Ryan Crocker, mantan Duta Besar AS untuk Irak dan Afghanistan, menegaskan hal serupa. "Jika Irak dan Afghanistan berubah menjadi rawa-rawa yang buruk bagi kita, selamat datang di liga utama. Iran tiga atau empat kali lipat populasi kedua negara itu, dengan medan yang sangat tidak ramah dan sejarah reaksi buruk terhadap intervensi asing," katanya .

Namun, bukan berarti AS hanya main aman. Sun Taiyi, pakar politik dari Christopher Newport University, melihat ada "kalkulus geopolitik yang lebih luas" di balik serangan ini. Dengan menghancurkan militer Iran, AS juga ingin mengganggu kerja sama teknologi dan militer Teheran dengan aktor-aktor seperti Rusia dan Korea Utara. "Tekanan di satu front dimaksudkan untuk bergema di front-front lainnya," jelasnya .

Tidak bisa diabaikan, faktor politik domestik dua pemain utama ini ikut menyumbang kayu ke dalam api perang. Netanyahu, yang saat ini sedang menghadapi pemilihan umum, memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan situasi perang untuk memperkuat posisi politiknya. Jeremy Bowen mengamati bahwa pengalaman selama dua tahun perang dengan Hamas membuktikan bahwa perdana menteri Israel itu percaya posisinya menguat ketika Israel dalam keadaan perang. Analis CGTN juga mencatat bahwa Netanyahu memiliki insentif kuat untuk mempertahankan sikap konfrontasi eksternal guna mengonsolidasikan dukungan politik dan memperpanjang masa pemerintahannya .

Di sisi lain, Trump yang baru kembali ke kursi kepresidenan tengah gencar mempromosikan "Board of Peace" (BoP), sebuah inisiatif perdamaian global yang justru kini dinodai oleh serangan pertama di eranya. Dalam editorial tajamnya, Republika menyoroti ironi ini. Julian Borger menyebut serangan ini sebagai "perang pertama di era Dewan Perdamaian Donald Trump," sebuah tindakan perubahan rezim tanpa alasan jelas, tanpa dasar hukum, dan diluncurkan di tengah upaya diplomatik .

Dari sudut pandang hukum internasional, serangan gabungan ini mendapat kecaman keras. Piagam PBB dengan tegas melarang ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial suatu negara, kecuali dalam pembelaan diri atau dengan mandat Dewan Keamanan. Tak satu pun kondisi itu terpenuhi. Serangan terjadi saat perundingan berlangsung, dan mandat PBB jelas tidak ada. "Ini merupakan pukulan lain terhadap sistem hukum internasional yang sudah goyah," tulis Bowen .

Pemerintahan Trump juga dituding melanggar undang-undang AS sendiri yang memberikan wewenang menyatakan perang hanya kepada Kongres . Namun, di tengah hiruk-pikuk patriotisme dan berita korban, protes konstitusional ini tenggelam.

Hingga berita ini diturunkan, Iran telah membalas. IRGC mengklaim telah menghantam 14 pangkalan penting AS di kawasan dan pusat-pusat vital Israel, menewaskan "ratusan tentara agresor" . Komandan IRGC dengan tegas menolak ultimatum Trump. "Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh kalah telak," bunyi pernyataan resmi mereka . Kawasan Teluk kini sepenuhnya berubah menjadi medan perang terbuka, dengan Bahrain, Qatar, UEA, dan Kuwait ikut terseret akibat serangan balasan yang menyasar pangkalan AS di wilayah mereka.

Yang jelas, asap masih mengepul di atas Teheran, dan tidak ada yang bisa memprediksi kapan atau apakah api ini akan padam. Satu hal yang pasti, Timur Tengah kembali memasuki babak kelam barunya.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI