DIALKEKSIS.COM | Kolom - Pelantikan para Dekan dan direktur Pascasarjana di lingkungan Universitas Syiah Kuala oleh Rektor Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A. pada 9 Maret 2026 adalah penanda dimulainya fase baru USK. Ini bukan seremoni biasa. Ini adalah eksekusi dari janji kampanye “Reset, Refresh, Renew, dan Restart” yang ia sampaikan saat pemilihan rektor.
Momentum ini penting karena diawali dengan asesmen yang terbuka. Untuk pertama kali, USK membuka peluang bagi siapa saja yang mumpuni untuk maju sebagai calon dekan dan direktur. Tujuannya satu: menyelaraskan kepemimpinan fakultas dengan visi rektor membangun kampus yang berdampak nyata bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.
Artikel ini menguji klaim “USK Bergerak Cepat tapi Terukur serta Berdampak Nyata” dengan data, fakta, dan teori. Kita bedah satu per satu.
Mengapa “Cepat, Terukur, Berdampak” Penting untuk PTN-BH?
Tiga konsep ini bukan jargon. Ketiganya punya landasan teori kuat di manajemen pendidikan tinggi. Bergerak Cepat: Teori Change Management Kurt Lewin
Lewin menyebut tiga tahap perubahan: unfreezing, changing, dan refreezing. PTN-BH seperti USK harus unfreezing dari birokrasi lama. Caranya dengan mengganti pola rekrutmen tertutup jadi asesmen terbuka. Rektor baru memilih cepat unfreezing lewat pelantikan dekan hasil seleksi, bukan penunjukan. Ini memutus inersia organisasi.
Terukur: Teori New Public Management. NPM menekankan akuntabilitas, efisiensi, dan pengukuran kinerja. PTN-BH wajib pakai IKU, IKT, dan IKK. USK sudah terikat 10 indikator BAN-PT untuk Akreditasi Unggul: jumlah mahasiswa baru, rasio dosen, lulusan, akreditasi prodi, doktor, jabatan akademik, kelulusan tepat waktu, dan keberhasilan studi. Semua bisa diukur. Jadi “terukur” bukan kata sifat. Itu sistem.
Berdampak Nyata: Teori Triple Helix. Etzkowitz bilang universitas harus bersinergi dengan pemerintah dan industri. Dampak harus terasa di masyarakat. Untuk USK, dampak berarti riset yang dipakai Pemda Aceh, lulusan yang kerja di industri, dan inovasi yang naik kelas UMKM.
Dengan tiga teori ini, kita uji langkah Rektor Prof. Mirza Tabrani.
Bukti Bergerak Cepat: Dari Pemilihan hingga Pelantikan dalam 36 Hari
Kecepatan adalah indikator responsivitas organisasi. Mari lihat linimasanya.
2 Februari 2026: Majelis Wali Amanat USK memilih rektor baru. Prof. Mirza Tabrani meraih 13 suara dari 19 anggota MWA. Prof. Agussabti 5 suara. Petahana Prof. Marwan 1 suara. Proses ini sah, cepat, dan demokratis.
9 Maret 2026: Hanya 36 hari setelah terpilih, Rektor langsung melantik para Dekan dan Direktur Pascasarjana di Gedung AAC Dayan Dawood. Ini kecepatan eksekusi. Di banyak PTN, jeda pemilihan ke pelantikan pejabat bisa 3-6 bulan.
1 April 2026: Rektor melakukan kunjungan kerja ke FISIP USK. Ia langsung bicara program prioritas: kesejahteraan dosen dan tendik berbasis IKU, pembukaan Prodi Hubungan Internasional, dan rekrutmen dosen baru. Artinya, 23 hari setelah pelantikan dekan, arah kebijakan sudah turun ke fakultas.
Kecepatan ini didukung oleh asesmen terbuka. Rektor tidak tunggu tim lama habis masa jabatan. Ia buka seleksi. Yang lolos langsung kerja. Ini memotong waktu transisi.
Bukti Terukur: Data Akreditasi, Peringkat, dan Alokasi Anggaran
Klaim “terukur” harus dibuktikan dengan angka. USK punya datanya.
Akreditasi Institusi Unggul hingga 2030. BAN-PT menerbitkan SK Nomor 2677/BAN-PT/PMT1/2024 tanggal 15 Desember 2024. USK memenuhi 10 syarat dan berhak menyandang Akreditasi Unggul sampai 11 Juli 2030. Sepuluh syarat itu: jumlah mahasiswa baru, rasio dosen dengan prodi, rasio dosen tetap dan tidak tetap, rasio dosen dengan mahasiswa, jumlah lulusan, akreditasi prodi, doktor, jabatan akademik, kelulusan tepat waktu, dan keberhasilan studi. Semua terukur. Semua diaudit.
Akreditasi Program Studi. USK punya 165 prodi aktif per 2025. Rinciannya: 24 prodi Unggul, 10 Baik Sekali, 9 Baik. Fakultas Ekonomi dan Bisnis mencatat 5 prodi Unggul. MIPA 5 prodi Unggul. Teknik 4 prodi Unggul. Data ini real time di Portal Data USK dan diupdate 11 jam lalu.
Beberapa prodi baru juga langsung tancap gas. Akuntansi D3 raih Unggul 24 Juni 2025 berlaku sampai 24 Juni 2030. Bisnis Digital S1 raih Baik dan berlaku sampai 5 Desember 2030. Artinya, USK cepat buka prodi sesuai pasar dan langsung kejar mutu.
Peringkat Nasional Naik
Scimago Institutions Rankings 2025 menempatkan USK di posisi 9 nasional. Naik dari posisi 11 tahun 2024. SIR mengukur tiga hal: performa riset, inovasi, dan dampak sosial. Rektor Prof. Marwan saat itu bilang kenaikan ini bukti langkah strategis USK sudah di jalur tepat. Data lain: EduRank USK posisi 7, Webometrics 13, URAP 11.
Anggaran Terukur: 60 persen untuk Fakultas
Saat kunjungan ke FISIP, Rektor tegaskan kebijakan money follow program. Sebesar 60persen anggaran dikembalikan ke fakultas. Syaratnya: RKAT berbasis IKU. IKU 1 dan 2 jadi prioritas: lulusan dapat kerja dan mahasiswa dapat pengalaman di luar kampus. Ini mengubah logika anggaran dari input-based ke output-based. Setiap rupiah bisa dilacak dampaknya.
Bukti Berdampak Nyata: Dari Banda Aceh untuk Indonesia
Dampak adalah muara dari cepat dan terukur. Apa bukti USK berdampak?
A. Dampak Kebijakan
Asesmen terbuka untuk dekan menciptakan legitimasi. Dekan terpilih punya mandat kuat karena lolos seleksi. Mereka lebih leluasa eksekusi program rektor. Ini memutus politik fakultas yang sering hambat inovasi.
B. Dampak Akademik
Pembukaan Prodi Hubungan Internasional di FISIP jawab kebutuhan Aceh. Aceh butuh diplomat, analis global, dan ahli kerja sama internasional. Selama ini lulusan HI banyak dari Jawa. USK ambil peran. Rektor juga dorong rekrutmen dosen baru khusus HI. Artinya, USK tidak hanya buka prodi. USK siapkan SDM pengajar.
C. Dampak Sosial dan Keamanan
BIDHUMAS POLDA ACEH secara resmi ucapkan selamat ke Prof. Mirza Tabrani sebagai Rektor USK 2026-2031. Ucapan dari aparat keamanan bukan basa-basi. Ini sinyal sinergi kampus dan pemerintah daerah. USK butuh Polda untuk KKN, riset konflik, dan pengabdian masyarakat di daerah rawan. Polda butuh USK untuk kajian kebijakan dan SDM.
D. Dampak Ekonomi Lewat Tata Kelola
Kebijakan 60 persen anggaran ke fakultas memaksa dekan jadi entrepreneur. Dekan harus cari dana, kelola aset, dan efisienkan SPPD. Jika berhasil, PNBP USK naik. Jika gagal, anggaran tahun depan turun. Ini reward and punishment yang jelas. Dampaknya: fakultas berlomba inovasi. Contoh: Fakultas Ekonomi bisa kembangkan pusat inkubasi bisnis. Fakultas Teknik bisa komersialkan paten.
E. Dampak Riset
USK masuk 10 besar SIR karena riset dan inovasi. Artinya, publikasi USK banyak disitasi dan dipakai. Ke depan, dengan anggaran 60% ke fakultas, riset terapan untuk Aceh bisa didorong. Misalnya riset tsunami, pertanian lahan gambut, dan halal food.
Tantangan: Menjaga Irama Cepat agar Tidak Tergelincir
Cepat itu bagus. Tapi ada tiga risiko.
Risiko 1: Beban Administrasi Dekan
Dekan sekarang urus akademik dan keuangan besar. Jika tidak siap, bisa habis waktu untuk SPJ. Solusinya: rektorat harus kuatkan sistem SPI dan SDM keuangan fakultas.
Risiko 2: Kesenjangan Antar Fakultas
Fakultas Ekonomi dan Teknik sudah kuat. Punya banyak prodi Unggul. Fakultas baru atau kecil bisa tertinggal jika alokasi 60 persen murni berbasis kinerja lalu. Perlu affirmative policy agar yang lemah bisa kejar.
Risiko 3: Resistensi Budaya
Asesmen terbuka tabrak budaya “senioritas”. Rektor harus jaga soliditas. Caranya: transparan umumkan indikator seleksi dekan. Buka data ke publik. Dengan begitu, yang tidak terpilih paham alasannya.
USK sebagai Laboratorium PTN-BH Lincah
Pelantikan dekan hasil asesmen terbuka adalah langkah unfreezing yang berani. USK bergerak cepat dalam 36 hari. USK punya meteran jelas: Akreditasi Unggul 2030, 24 prodi Unggul, peringkat 9 SIR 2025. USK mulai berdampak lewat kebijakan anggaran, prodi baru, dan sinergi dengan Polda.
Prof. Mirza Tabrani membawa filosofi “Reset, Refresh, Renew, Restart”. Empat kata itu operasional. Reset tata kelola lewat asesmen. Refresh SDM lewat rekrutmen dosen HI. Renew kurikulum agar sesuai IKU. Restart semangat fakultas dengan 60 persen anggaran.
Jika konsisten, lima tahun ke depan USK bukan hanya 10 besar nasional. USK bisa jadi model PTN-BH yang lincah, akuntabel, dan membumi di Aceh. Kuncinya: jaga irama. Cepat tapi tidak ugal-ugalan. Terukur tapi tidak kaku. Berdampak tapi tidak elitis.
Karena universitas hebat tidak diukur dari megahnya gedung. Tapi dari cepatnya ia menjawab masalah, terukurnya ia mengelola sumber daya, dan nyatanya ia mengubah masyarakat.
Penulis Oleh : Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh (Email: apridar@usk.ac.id)