DIALEKSIS.COM | Feature - Tubuh itu satu kesatuan, bila sakit di kaki, kepala juga akan merasakanya. Demikian dengan seorang pemimpin keluarga, bila keluarganya ada masalah dia ikut menanggung bebannya.
Harga diri keluarga di atas segala-galanya. Namun bagaimana kalau keluarga membuat ulah, kebetulan sang pemimpin keluarga ini dipercayakan menjadi pejabat publik?
Ada sebagian orang akan membela diri untuk mempertahankan jabatanya. Urusan keluarga adalah masalah pribadi, tidak ada hubunganya dengan jabatan.
Namun ada pula yang menunjukan sikap kesatria, ketika ada persoalan keluarga yang menjadi konsumsi publik, dia bukan hanya meminta maaf, namun dia meletakan jabatan yang diamanahkan di pundaknya.
Diantara manusia yang meminta maaf dan meletakan jabatanya, satu diantaranya dilakukan dr. H. Nevirizal. M.Kes, MH, Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesra, Setdakab Gayo Lues.
Nevirizal menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah dan masyarakat Aceh, menyusul viralnya konten media sosial yang menampilkan gaya hidup mewah anaknya. Konten tersebut menuai kecaman public, karena dinilai tidak mencerminkan empati terhadap kondisi masyarakat Gayo Lues yang sedang dalam proses pemulihan pascabencana banjir.
Dalam keterangannya kepada Dialeksis melalui sambungan langsung, Rabu, 22 Juli 2026, Nevi mengaku menyesali perilaku anaknya.
"Yang pertama, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, baik kepada masyarakat dan pemerintah, atas kelakuan anak kami. Saya tidak tahu dia memiliki medsos TikTok. Memang itu kesalahan dia," kata Nevi.
Nevi mengaku sangat menyesalkan kejadian tersebut karena telah menyeret nama pemerintah daerah dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia pun secara terbuka meminta maaf atas perilaku anaknya yang dianggap melukai perasaan publik.
"Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, kepada pimpinan daerah saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini karena sudah menyeret nama pemerintah. Kepada publik, saya menghaturkan ribuan maaf atas perilaku anak saya yang sudah melukai perasaan masyarakat," katanya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Nevi mengaku telah memberikan peringatan keras kepada anaknya agar tidak lagi menggunakan media sosial untuk mengunggah konten serupa. Ia juga meminta anaknya mengubah pola hidup dan lebih bijak dalam bersikap.
"Anak saya yang memposting konten-konten yang melukai perasaan masyarakat itu sudah saya ultimatum untuk tidak menggunakan media sosial. Gaya hidup juga harus diubah. Mereka juga berjanji tidak akan mengulangi lagi," ujarnya.
Bukan hanya sampai di sana, sehari kemudian, Kamis (23/07/2026) secara terbuka Nevi menyampaikan ke public dia mundur dari jabatanya sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesra, Setdakab Gayo Lues.
Dia menunjukan sikap kesatria, memilih mengambil keputusan pertarungan bathin karena ulah anaknya. Keputusan yang berat itu resmi dia sampaikan ke publik, hingga kembali menjadi pembahasan yang hangat.
Sebuah keputusan yang membuat publik mayoritas mengacungkan jempol. Dia mundur bukan karena tersandung hukum, bukan karena dia melakukan kesalahan, namun ketika buah hatinya bermasalah, dia yang menunjukan sikap tauladan.
Dia tidak mempertahankan jabatanya, walau ulah anaknya tidak ada sangkut paut dengan jabatanya. Namun dia menunjukan harga dirinya sebagai tauladan, ketika anaknya bermasalah di media social, justru dia yang mundur.
Dia tahu kapan bertahan dan kapan harus mempertanggungjawabkan nuraninya ke public. Ketika kesalahan hadir dari lingkaran keluarga dan berdampak pada kepercayaan publik, dia memilih mundur.
Ini bukan satu kelemahan, justru dia menunjukan budi yang luhur. Berani meletakkan jabatan demi menjaga kehormatan, mengambil tanggungjawab, dan tidak memaksakan keadaan. Nevirizal mengakui, keputusan itu diambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Keputusan ini saya ambil dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” sebut Nevirizal di hadapan awak media, di ruang rapat wakil Bupati Gayo Lues, Kamis (23 Juli 2026).
Nevi menjelaskan, persoalan yang menjadi sorotan merupakan persoalan pribadi. Namun, sebagai seorang pejabat publik, ia merasa tidak dapat memisahkan begitu saja kehidupan pribadi dari tanggung jawab moral dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Baginya, jabatan bukan hanya tentang kursi, kewenangan ataupun kedudukan. Ada integritas, etika dan kepercayaan publik yang harus dijaga.
“Meskipun persoalan tersebut bersifat pribadi, saya menyadari bahwa sebagai pejabat publik saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga integritas, etika, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga,” ujarnya.
Surat tertanggal 23 Juli 2026 yang ditanda tangani Nevirizal mengajukan permohonan, perhatian, persetujuan dan atensi pimpinannya. Kini, keputusan berada di tangan pimpinan daerah sesuai mekanisme kepegawaian yang berlaku.
Surat pengunduran Nevi sudah menyematkan kesan, ada kalanya tanggungjawab seorang pejabat tidak berhenti pada kesalahan yang dilakukan dirinya sendiri. Ketika kepercayaan publik mulai dipertaruhkan, demi menjaga marwah sebuah institusi, dia rela mengundurkan diri.
Namun sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, ada sebagian manusia yang mempertahankan kursi kekuasaan sampai titik terakhir, walau dia telah melakukan kesalahan. Tidak bagi Nevi, walau bukan dia yang melakukan kesalahan, dia rela meletakan jabatan.
Dia menunjukan etiko moral. Sebuah keputusan sulit, namun akan melekat di memori publik. Masih ada pejabat berhati nurani di negeri ini, walau bukan dia yang melakukan kesalahan, namun beban itu tetap diemban di pundaknya.
Hari ini sosok seorang pejabat di Gayo Lues sudah memberikan tauladan, bagaimana dengan pejabat lainya ketika dia berbenturan dengan masalah? Semoga jejak yang mengandalkan nurani ini bersemayam di relung sanubari para pejabat anak negeri. *Bahtiar Gayo 23 Juli 2026.