DIALEKSIS.COM | Aceh - Kinerja Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Aceh menunjukkan tren pertumbuhan positif sepanjang 2023 hingga 2025. Peningkatan terjadi pada sejumlah indikator utama, mulai dari aset, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran pembiayaan, hingga ekspansi layanan digital.
Secara bertahap, nilai aset BSI di Aceh terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Jika pada 2023 aset tercatat di kisaran belasan triliun rupiah, maka pada 2024 angkanya menembus lebih dari Rp 20 triliun. Hingga akhir 2025, aset regional dilaporkan melampaui Rp 25 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan ekspansi bisnis yang konsisten di tengah dinamika ekonomi daerah.
Kenaikan aset berjalan seiring dengan pertumbuhan pembiayaan. Penyaluran pembiayaan BSI Aceh meningkat setiap tahun, dengan porsi signifikan mengalir ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pembiayaan konsumtif, serta dukungan terhadap aparatur sipil negara dan pelaku usaha lokal. Tren ini memperkuat fungsi intermediasi perbankan syariah dalam mendorong aktivitas ekonomi di daerah ini.
Di sisi penghimpunan dana, DPK juga menunjukkan pertumbuhan stabil. Simpanan masyarakat yang pada 2023 berada di bawah Rp 20 triliun, meningkat secara bertahap hingga menembus lebih dari Rp 20 triliun pada 2025. Bahkan, rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposit ratio/FDR) di Aceh sempat berada di atas 100 persen. Artinya, penyaluran pembiayaan lebih besar dibandingkan dana yang dihimpun di wilayah ini. Artinya, sebagian sumber pembiayaannya disokong dana dari luar daerah.
Dari sisi kualitas aset, pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) tetap terjaga pada level yang relatif rendah dan stabil. Kondisi ini menunjukkan pengelolaan manajemen risiko pembiayaan masih dalam koridor yang sehat, meski ekspansi berlangsung agresif.
Percepatan digitalisasi turut menjadi pendorong kinerja. Jumlah pengguna layanan mobile banking BSI di Aceh terus bertambah dalam tiga tahun terakhir, didukung perluasan jaringan agen hingga ke wilayah pelosok. Digitalisasi dinilai berkontribusi pada peningkatan volume transaksi ritel dan penggunaan e-money. Ini juga cerminan makin menguatnya inklusi keuangan syariah di tingkat masyarakat.
Terkait capaian BSI Aceh, selanjutnya Dialeksis menghubungi Guru Besar Ekonomi dari Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Rustam Effendi, S.E., M.Econ. Ekonom senior ini menilai tren pertumbuhan BSI di Aceh mencerminkan semakin kuatnya penetrasi keuangan syariah di daerah tersebut.
“Pertumbuhan aset dan pembiayaan menunjukkan fungsi intermediasi berjalan efektif. Apalagi jika pembiayaan banyak disalurkan ke sektor produktif seperti UMKM, dampaknya terhadap ekonomi lokal akan signifikan,” kata Rustam saat dimintai tanggapan, Ahad.
Menurut dia, konsistensi kenaikan DPK juga menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah. “Artinya ada trust yang tumbuh. Masyarakat bukan hanya memanfaatkan pembiayaan, tetapi juga menjadikan bank syariah sebagai tempat menyimpan dana,” ujarnya.
Namun, Rustam mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan likuiditas dan kualitas pembiayaan. Rasio pembiayaan yang melampaui penghimpunan dana lokal, kata dia, perlu dikelola hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan likuiditas di masa mendatang.
“Ekspansi tetap perlu dibarengi dengan penguatan manajemen risiko, tata kelola, dan mitigasi risiko digital. Dengan begitu, pertumbuhan bisa berkelanjutan dan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi benar-benar memperkuat struktur ekonomi daerah, termasuk makin inklusifnya peran lembaga keuangan di tengah kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Selama periode 2023 - 2025, tren kenaikan pada aset, pembiayaan, dan DPK memperlihatkan posisi BSI di Aceh semakin kokoh sebagai pemain utama perbankan syariah. Tantangan berikutnya adalah, memastikan ekspansi tersebut tetap berkualitas serta memberi dampak nyata bagi perekonomian, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh.