Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Klaim Menang Perang, Gencatan Senjata Dinilai Untungkan Teheran

Iran Klaim Menang Perang, Gencatan Senjata Dinilai Untungkan Teheran

Minggu, 19 April 2026 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi bendera Iran/ Islamic Republic of Iran. SR/Redaksibaru.id


DIALEKSIS.COM | Teheran - Pemerintah Iran mengklaim berada di atas angin dalam konflik bersenjata yang berlangsung beberapa pekan terakhir. Klaim itu disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan bahwa negaranya “menang di medan perang” dan hanya menyepakati gencatan senjata sementara karena tuntutan Teheran telah dipenuhi.

Gencatan senjata berdurasi dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berakhir Rabu mendatang. Hingga kini, upaya menuju kesepakatan permanen masih menemui jalan buntu, meskipun sejumlah mediator, termasuk Pakistan, terus mendorong dialog lanjutan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Ghalibaf menilai Washington gagal mencapai tujuan strategisnya. Ia menegaskan, keputusan Iran menerima gencatan senjata bukan karena tekanan, melainkan karena pihak lawan mulai mengakomodasi tuntutan Teheran.

“Jika kita menerima gencatan senjata, itu karena mereka menerima tuntutan kita,” ujar Ghalibaf, menegaskan bahwa negosiasi merupakan bagian dari strategi perjuangan Iran.

Kontak tingkat tinggi antara Teheran dan Washington kembali terjadi pada 11 April lalu di Islamabad. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Iran bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance. Pertemuan ini menjadi salah satu komunikasi paling signifikan kedua negara dalam beberapa dekade terakhir, pasca Revolusi Islam Iran 1979.

Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan final. Sejumlah isu krusial masih menjadi pengganjal, termasuk sanksi ekonomi dan pengaruh militer di kawasan.

Salah satu faktor yang memperkuat posisi Iran adalah kendalinya atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.

Iran sempat membuka kembali jalur tersebut setelah tercapai gencatan senjata sementara. Namun, keputusan itu dibalik setelah Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran tetap akan berlanjut hingga tercapai kesepakatan akhir.

Teheran pun merespons dengan ancaman pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. “Jika Amerika tidak mencabut blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan terbatas,” kata Ghalibaf.

Langkah ini menunjukkan bahwa Iran masih memegang leverage penting dalam dinamika geopolitik global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia.

Di sisi lain, Iran juga menegaskan kesiapan militernya. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan angkatan laut negaranya siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

Korps Garda Revolusi Islam bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintas tanpa izin di Selat Hormuz dapat dianggap sebagai bagian dari kerja sama dengan musuh dan berpotensi menjadi target militer.

Sejumlah insiden dilaporkan terjadi di kawasan tersebut, mulai dari penembakan kapal tanker hingga ancaman terhadap kapal sipil. Ketegangan ini memicu kekhawatiran internasional, termasuk dari India yang telah melayangkan protes diplomatik atas insiden yang melibatkan kapal berbenderanya.

Meski ada klaim kemenangan dari Teheran, realitas di lapangan menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Ghalibaf sendiri mengakui bahwa masih terdapat banyak perbedaan mendasar yang belum terselesaikan dalam proses negosiasi.

Dengan gencatan senjata yang akan segera berakhir, dunia kini menanti apakah konflik ini akan mereda menuju kesepakatan permanen, atau justru kembali memanas dengan eskalasi yang lebih luas.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI