Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS Mulai Cekik China, Jalur Minyak Jadi Medan Perang Baru

AS Mulai Cekik China, Jalur Minyak Jadi Medan Perang Baru

Jum`at, 17 April 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Ilustrasi jalur minyak. Foto: Ist/net

DIALEKSIS.COM | Internasional - Sebuah laporan media asing menyoroti rangkaian konflik global yang melibatkan Amerika Serikat (AS) belakangan ini. Langkah-langkah tersebut dinilai sebagai strategi Washington untuk menekan aliran minyak menuju China. Media asal India, NDTV, menggambarkan manuver ini layaknya permainan catur yang dijalankan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Permainan dimulai pada Januari 2026. AS disebut “menggerakkan kuda” ke Venezuela dengan operasi militer yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Operasi ini melibatkan jet tempur siluman F-22, F-35, serta pasukan elite seperti Delta Force.

Padahal, Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai sekitar 303 miliar barel menurut Badan Informasi Energi AS.

Langkah berikutnya terjadi pada Februari 2026. AS “menggerakkan ratu” ke Iran. Kapal induk USS Gerald R. Ford meluncurkan serangan udara presisi menggunakan F-35, F/A-18 Super Hornet, serta rudal Tomahawk yang menghantam infrastruktur militer dan energi Iran. Dampaknya, Selat Hormuz”jalur vital yang dilalui sekitar 20“25 persen minyak dunia praktis lumpuh.

Memasuki Maret 2026, AS disebut “menggerakkan gajah” ke Indonesia. Melalui kesepakatan yang masih dalam tahap pembahasan, militer AS berpotensi memperoleh akses operasional di wilayah udara Indonesia. Jika terealisasi, langkah ini dapat meningkatkan pengawasan terhadap Selat Malaka jalur strategis yang mengalirkan sekitar 25 - 30 persen perdagangan global dan hingga 29 persen pengiriman minyak mentah dunia.

Sejumlah pakar menilai, rangkaian langkah ini menunjukkan adanya strategi besar Washington: menekan China bukan lewat konfrontasi langsung, melainkan dengan mempersempit jalur pasokan energi.

Venezuela menjadi titik uji coba, Iran memperkuat tekanan, dan Selat Malaka berpotensi menjadi “kunci akhir”.

Namun situasi tidak sesederhana itu. Iran memberikan perlawanan melalui strategi perang asimetris. Sementara itu, blokade Selat Hormuz justru memberi keuntungan tersendiri bagi AS yang kini menjadi produsen minyak terbesar dunia.

Sebaliknya, tekanan terbesar dirasakan negara-negara Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada jalur tersebut. Harga minyak dunia melonjak, bahkan sempat menembus USD110 per barel.

Di sisi lain, China tidak tinggal diam. Beijing terus menyerap minyak yang terkena sanksi, memanfaatkan “armada bayangan” tanker, serta mengandalkan cadangan minyak strategis yang diperkirakan mencapai lebih dari 1,3 miliar barel.

Selain itu, China juga memperkuat pasokan dari Rusia, mengembangkan jalur pipa darat, serta mempercepat transisi energi”termasuk kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Jika Selat Malaka benar-benar dijadikan alat tekanan, China memiliki beberapa opsi: mengalihkan pasokan melalui jalur darat, memperluas penggunaan armada tanker “gelap”, hingga memainkan pengaruh politik terhadap negara-negara di kawasan seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Pada akhirnya, situasi ini dinilai sebagai permainan catur tingkat tinggi dalam geopolitik global. Tidak ada “skakmat” yang pasti.

Yang tersisa adalah pertanyaan besar: siapa yang akan menyerah lebih dulu Washington atau Beijing?

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI