Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Feature / Rantai Manusia Menjaga Negara

Rantai Manusia Menjaga Negara

Rabu, 08 April 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo

Rakyat Iran yang mendukung pemerintah menyatakan kesiapanya menjadi rantai manusia untuk membela negara dari gempuran Amirikan dan Israil ( Foto: Tasnemnews Agency)


DIALEKSIS.COM| Feature- Lebih baik mati berkalang bumi daripada hidup berputih mata. Semangat itu bersemayam di relung hati warga Iran dalam mempertahankan negaranya dari gempuran “penjajah”.

Mereka memilih mati bersama-sama dalam mempertahankan haknya. Sebuah bangsa yang Tangguh ketika rakyatnya siap mati demi membela negara. Bangsa yang kuat karena rakyatnya kuat. Kini kekuatan semangat jihad itu ditunjukan rakyat Iran.

Ditengah meningkatnya ketegangan peperangan antara Amirika-Israil menggempur Iran, justru rakyat di negeri Persia ini menunjukan gelora dalam hatinya untuk membela negara. Ancaman Presiden Amirika Donald Trump, dijawab rakyat Iran dengan kebangkitan.

Dari keterangan resmi Pemerintah Iran, sekitar 14 juta warga Iran sudah mendaftar menjadi tameng untuk mengamankan fasiltas negara dari serangan udara Amirika. Rakyat siap mengorban nyawanya demi membela negara.

Pemerintah Iran pada Selasa (7/4/2026) menyerukan kepada generasi muda untuk membentuk “rantai manusia” di sekitar pembangkit listrik guna melindungi infrastruktur vital dari potensi serangan udara.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan sekitar 14 juta warga telah mendaftar sebagai relawan untuk menghadapi kemungkinan invasi darat oleh AS dan Israel.

“Lebih dari 14 juta rakyat Iran telah menyatakan kesiapan untuk mengorbankan nyawa mereka. Saya juga siap memberikan hidup saya untuk Iran,” kata Masoud, dikutip dari AP.

Sejak perang , Iran yang digempur AS dan Israel pada 28 Februari 2026, setidaknya ada 2.076 orang warga Iran yang tewas akibat serangan AS-Israel. Namun walau banyak korban yang berjatuhan dan infrastruktur yang hancur, warga Iran tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mempertahankan negaranya.

Sementara korban dari AS dan Israil banyak yang ditutupi, pemerintah Israil dan Amirika melarang para wartawan untuk meliput kerusakan akibat perang ini. Data sementara seperti dilansir Al-Jazeera, ada 13 tentara AS yang tewas dan 200 orang lainnya terluka akibat balasan Iran.

Ada 26 orang yang tewas di Israel dan 7.183 orang terluka. Korban tewas juga berjatuhan di beberapa negara lain.Data ini jauh lebih besar, karena sampai saat ini zinois dan AS menutup-nutupi jumlah korban dan membatasi media, berbeda dengan Iran yang terbuka.

Ancaman Donald Trump yang menyatakan akan membuat Iran bagaikan neraka, justru membangkitkan semangat rakyat di negeri Persia ini untuk mempertahankan asset negara. Mereka siap menjadi tameng, mengorbankan nyawa, menjaga fasiltas negara.

Trump mengancam akan membombardir pembangkit listrik dan jembatan dan fasiltas lainya, apabila Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas kapal. Batasnya Selasa (7/4/2026) waktu setempat.

“Seluruh negara bisa dilumpuhkan dalam satu malam,” kata Trump.

Namun menjelang batas waktu itu, Donald Trump kembali membuat pernyataan, mengumumkan penangguhan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu.

Pengumuman pada Selasa 7 April waktu AS atau Rabu 8 April waktu Indonesia itu, dilakukan setelah diskusi dengan para pemimpin Pakistan.

Trump mengatakan bahwa setelah percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir, ia setuju untuk menghentikan serangan yang direncanakan, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz “sepenuhnya, segera, dan aman.”

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” sebut Trump dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Anadolu.

"Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah," tulisnya di platform Truth Social miliknya.

Hingga berita ini diturunkan belum diketahi dengan pasti bagaimana sikap pemerintah Iran soal penangguhan gempuran AS yang meminta selat Hormuz dibuka.

Rakyat di negeri Persia ini sudah menunjukan sikapnya, mereka akan menjadi mata rantai manusia sebagai pertahanan negara. Mereka siap mati. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup berputih mata diatur oleh penjajah.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI