Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Belajar dari Perang Iran, China Diingatkan: Kekuatan Militer Tak Selalu Menjamin Kemenangan

Belajar dari Perang Iran, China Diingatkan: Kekuatan Militer Tak Selalu Menjamin Kemenangan

Senin, 11 Mei 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi bendera negara China dan negara Iran. Foto:  Shutterstock


DIALEKSIS.COM | Beijing - Memasuki bulan ketiga, perang di Iran bukan hanya menjadi ajang unjuk kekuatan antara Teheran dan Washington. Konflik ini juga diam-diam menjadi laboratorium strategis bagi China untuk membaca ulang cara kerja militer Amerika Serikat di bawah tekanan sekaligus menguji asumsi mereka sendiri tentang perang modern.

Sejumlah analis yang berbicara seperti dilansir media CNN menilai, dinamika pertempuran di Teluk Persia dalam dua bulan terakhir memberi pelajaran penting bagi Beijing. Bukan hanya soal teknologi dan persenjataan, tetapi juga tentang bagaimana perang ditentukan oleh variabel yang sering kali tak terduga melalui respons musuh.

Para pakar dari China, Taiwan, hingga Barat mengingatkan bahwa Beijing berisiko salah menilai kekuatannya sendiri. Minimnya pengalaman tempur dan kecenderungan melihat konflik secara sempit dinilai bisa menjadi titik lemah jika kelak berhadapan langsung dengan Washington.

Salah satu pelajaran paling nyata datang dari kemampuan Iran menembus sistem pertahanan udara Amerika. Mantan kolonel Angkatan Udara China, Fu Qianshao, menilai keberhasilan Teheran menghindari sistem seperti Patriot dan THAAD menjadi peringatan serius.

“Iran menunjukkan bahwa bahkan sistem pertahanan paling canggih pun memiliki celah,” ujarnya.

Menurut Fu, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) tak boleh hanya fokus pada kekuatan ofensif. Dalam beberapa tahun terakhir, China memang mempercepat pengembangan rudal hipersonik dan platform peluncurnya. Namun, pertahanan tetap menjadi sisi yang tak boleh diabaikan.

Di udara, China terus mengejar ketertinggalan. Angkatan Udara PLA diperkirakan akan mengoperasikan sekitar 1.000 jet tempur siluman J-20”jumlah yang disebut-sebut mendekati armada F-35 milik Amerika Serikat.

Selain itu, Beijing juga mengembangkan pembom siluman jarak jauh yang setara dengan B-2 dan B-21. Namun, para analis menilai kekuatan udara saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan sistem pertahanan yang solid.

Perang Iran juga memperlihatkan satu hal penting: teknologi murah bisa menjadi senjata mematikan. Drone berbiaya rendah dan rudal sederhana milik Iran terbukti mampu menembus pertahanan canggih Amerika.

Sebaliknya, Washington mengombinasikan senjata mutakhir seperti F-35 dan B-2 dengan amunisi yang lebih murah untuk efisiensi serangan. Strategi campuran ini dinilai menjadi model yang perlu diperhatikan Beijing.

“Kombinasi senjata mahal dan murah adalah kunci. Ini bukan lagi soal siapa paling canggih, tapi siapa paling adaptif,” kata Fu.

Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah potensi produksi massal drone. Laporan analis militer menyebut industri sipil China mampu beralih dengan cepat untuk memproduksi hingga satu miliar drone per tahun.

Kapasitas ini memunculkan kekhawatiran di Taiwan. Lembaga pengawas setempat bahkan menyebut sistem pertahanan anti-drone mereka masih belum efektif menghadapi ancaman dalam skala besar.

Namun, fenomena ini juga menjadi pedang bermata dua. Amerika Serikat kini mulai mengantisipasi skenario perang drone di kawasan Indo-Pasifik, termasuk kemungkinan “membanjiri” Selat Taiwan dengan ribuan drone untuk menghambat pergerakan militer China.

Strategi ini dinilai dapat mengubah kalkulasi perang. Drone murah mampu menghancurkan kapal atau pesawat bernilai tinggi”membuat biaya serangan menjadi jauh lebih mahal bagi pihak penyerang.

Di atas semua itu, ada satu persoalan mendasar yang sulit ditutup oleh teknologi: pengalaman tempur.

PLA belum pernah terlibat perang besar sejak konflik dengan Vietnam pada 1979. Sebaliknya, militer Amerika memiliki pengalaman panjang dari Irak, Afghanistan, hingga berbagai operasi militer lainnya.

Analis militer China, Song Zongping, menyebut perang Iran sebagai gambaran nyata bagaimana konflik modern berlangsung.

“Inilah wajah perang sesungguhnya,” katanya.

Sementara itu, peneliti senior Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, menegaskan bahwa kemenangan militer tidak selalu berujung pada keberhasilan politik.

“Tekanan militer tidak otomatis menghasilkan penyelesaian yang langgeng,” ujarnya. “Bagi China, ini pelajaran penting: keberhasilan di medan perang belum tentu membawa hasil akhir yang diinginkan.”

Dalam konteks yang lebih luas, semua pelajaran ini bermuara pada satu skenario yang terus dibayangi ketegangan: konflik di Selat Taiwan.

Beijing telah lama menyatakan ambisinya untuk “menyatukan kembali” Taiwan, bahkan dengan opsi militer. Namun, perang Iran menunjukkan bahwa invasi bukan sekadar soal kekuatan, melainkan juga kesiapan menghadapi respons tak terduga dari lawan.

Roket jarak jauh, drone dalam jumlah besar, hingga perang asimetris diperkirakan akan menjadi elemen kunci. Tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah itu cukup untuk memenangkan perang?

Perang Iran, pada akhirnya, memberi satu pesan yang sulit diabaikan: dalam konflik modern, tidak ada kemenangan yang benar-benar pasti. Bahkan bagi kekuatan militer terbesar sekalipun. (CNN)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI