DIALEKSIS.COM | Internasional - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dilaporkan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz serta sejumlah pelabuhan Iran.
Blokade tersebut melibatkan lebih dari 15 kapal perang milik AS yang disiagakan untuk mengontrol jalur strategis tersebut. Selain armada utama, AS juga mengerahkan kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa jet tempur siluman F-35B Lightning II serta pesawat tiltrotor MV-22 Osprey. Seluruh kekuatan militer ini ditempatkan di sekitar pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.
Langkah Washington itu langsung mendapat respons keras dari Teheran. Komandan Markas Besar Militer Iran Khatam Al Anbiya, Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam. Ia bahkan mengancam akan menutup Laut Merah jika AS terus melanjutkan aksinya.
“Jika AS yang agresif dan teroris terus melakukan tindakan ilegal dalam memberlakukan blokade maritim di kawasan tersebut dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal komersial dan tanker minyak Iran, tindakan AS ini akan menjadi pelanggaran awal gencatan senjata,” ujar Abdollahi dalam pernyataan resminya, Rabu (15/4), seperti dikutip dari Tasnim News.
Ia menegaskan, Angkatan Bersenjata Iran siap mengambil langkah tegas.
“Angkatan Bersenjata Iran yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun di wilayah Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah untuk terus berlangsung,” tambahnya.
Ancaman penutupan Laut Merah bukan tanpa dampak. Perairan ini merupakan jalur vital perdagangan global sekaligus kawasan wisata terkenal. Sejumlah destinasi populer seperti Sharm El Sheikh, Hurghada, dan Marsa Alam berada di kawasan tersebut dan dikenal luas karena keindahan alam serta aktivitas wisata baharinya.
Secara geografis, Laut Merah terletak di antara benua Asia dan Afrika, di sebelah barat Jazirah Arab. Perairan ini memiliki luas sekitar 438 ribu kilometer persegi, panjang sekitar 2.250 kilometer, dan kedalaman rata-rata mencapai 490 meter. Jalur strategisnya menghubungkan Bab el-Mandeb dan Teluk Aden di selatan, serta Terusan Suez di utara.
Selain nilai ekonominya, Laut Merah juga dikenal kaya akan keanekaragaman hayati. Terdapat lebih dari 1.200 spesies ikan endemik, termasuk puluhan spesies hiu, serta terumbu karang yang diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun lalu.
Dengan posisi strategis tersebut, eskalasi konflik antara AS dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta jalur perdagangan internasional, khususnya distribusi energi global.