DIALEKSIS.COM | Aceh Besar - Pagi menyelimuti Saree dengan cahaya yang lembut. Matahari baru saja menembus sela-sela pepohonan besar yang menaungi Jalan Nasional Banda Aceh - Medan. Hamparan aspal hitam membelah lembah hijau di kaki Bukit Barisan.
Di kiri jalan, rumah-rumah tua beratap seng berdiri dalam diam. Halaman yang dahulu menjadi tempat parkir kendaraan kini dipenuhi rerumputan liar. Warung-warung yang dulu ramai kini lebih banyak memajang pintu yang tertutup daripada pelanggan yang datang. Sulit membayangkan bahwa jalan yang tampak lengang ini pernah menjadi salah satu titik paling hidup di jalur lintas Aceh bagian timur - utara.
Bagi siapa pun yang pernah bepergian dari Banda Aceh menuju Medan atau sebaliknya, Saree yang terletak di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, adalah tempat yang nyaris wajib disinggahi. Letaknya strategis, tepat di kawasan Sekolah Pelatihan Gajah Saree. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam membuat banyak pengendara memilih berhenti sejenak di sini. Ada yang sekadar meregangkan kaki, menikmati udara pegunungan yang sejuk, atau mengajak anak-anak melihat atraksi gajah yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Di sepanjang jalan, aroma jagung rebus dan kacang rebus menyeruak dari warung-warung sederhana. Pedagang dengan ramah menawarkan keripik Saree, camilan khas yang sudah lama menjadi buah tangan para pelintas. Ada pula tape ubi yang rasanya manis dengan sedikit sentuhan fermentasi, menjadi pelengkap perjalanan menuju pantai barat maupun timur Aceh.
Setiap akhir pekan dan musim liburan, Saree berubah menjadi ruang perjumpaan. Bus antarkota, mobil pribadi, hingga sepeda motor memenuhi bahu jalan. Tawa anak-anak bercampur suara pedagang yang memanggil calon pembeli.
Warung-warung nyaris tak pernah sepi. Dalam sehari, seorang pedagang bisa menjual puluhan bungkus keripik, puluhan kilogram jagung rebus, dan berbagai hasil kebun yang menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
Kini, semua itu tinggal cerita. Sejak Jalan Tol Banda Aceh - Padang Tiji dibuka, arus perjalanan berubah. Warung-warung mulai kehilangan pembeli. Rak-rak yang dahulu penuh keripik kini hanya menyisakan beberapa bungkus. Sebagian pemilik warung memilih bertahan dengan harapan pengunjung kembali. Sebagian lainnya menutup usahanya karena tak lagi mampu menutupi biaya operasional.
"Sebelum Tol Padang Tiji dibuka, jagung rebus bisa habis sampai 50 kg/hari. Tapi untuk saat ini, 10 kg saja sulit sekali rasanya," keluh penjaja jagung rebus kepada penulis, Minggu, 5 Juli 2026.
Keluhan yang sama disampaikan Kadri, seorang pedagang makanan ringan yang mangkal di pelataran mesjid Mesjid Saree. Ditempat ini, banyak musafir yang sengaja singgah hanya untuk sekedar melepas lelah sembari menikmati air pegunungan yang mengalir jernih dan dingin dari keran-keran masjid.
"Dulu sehari saya bisa mendapat 500 ribu sehari saat hari libur seperti ini. Namun sekarang, 100 ribu pun payah kali bang. Kalau gak percaya coba abang tanya ibu yang pake baju merah itu," ujar Kadri sembari menunjuk seorang ibu yang duduk termangu menunggu pembeli.
Bagi masyarakat setempat, jalan nasional bukan sekadar infrastruktur. Jalan itu adalah nadi ekonomi. Namun, nadi itu perlahan melemah.
Rumput yang tumbuh tinggi di depan bangunan-bangunan pada foto di atas seakan menjadi simbol lesunya kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Lahan kosong yang dulu menjadi tempat kendaraan berhenti kini dibiarkan ditumbuhi ilalang. Jalan tetap mulus, kendaraan masih melintas, tetapi ritmenya berbeda. Tidak ada lagi antrean mobil yang berhenti membeli keripik atau jagung rebus. Tidak terdengar lagi riuh anak-anak yang berlarian setelah melihat gajah.
Ironisnya, pembangunan jalan tol memang berhasil memangkas waktu tempuh dan meningkatkan konektivitas. Namun, di saat yang sama, ia memindahkan denyut ekonomi dari desa-desa yang selama ini hidup karena keberadaan jalan lama. Saree menjadi salah satu contohnya.
Di balik kemajuan infrastruktur, ada kisah-kisah kecil yang jarang masuk dalam hitungan statistik. Kisah pedagang keripik yang kini hanya menjual beberapa bungkus dalam sehari. Kisah penjual jagung rebus yang lebih sering menunggu daripada melayani pembeli. Kisah warga yang menggantungkan hidup pada pelintas yang kini memilih jalur lain.
Jalan memang masih membentang dari Banda Aceh menuju Medan. Pepohonan masih memberi teduh. Bukit-bukit masih berdiri kokoh mengelilingi Saree.
Namun, sesuatu yang tak kasatmata telah berubah. Saree tidak kehilangan jalannya. Saree hanya kehilangan mereka yang dulu selalu berhenti sejenak untuk menikmati perjalanan dan membawa pulang sedikit cerita tentang sebuah desa yang pernah menjadi ruang singgah paling hangat di jalur Banda Aceh-Medan.