Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / RSUDZA Tegaskan Pelayanan Tetap Berjalan, Isu Penghentian Operasi Dibantah

RSUDZA Tegaskan Pelayanan Tetap Berjalan, Isu Penghentian Operasi Dibantah

Kamis, 07 Mei 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Dirut RSUDZA Banda Aceh Dr. Muhazar. H, S.K.M., M.Kes. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh - RSUD dr. Zainoel Abidin atau RSUDZA Banda Aceh menegaskan bahwa pelayanan kesehatan di rumah sakit rujukan utama di Aceh tersebut tetap berjalan normal dan tidak mengalami penghentian layanan, meski sempat beredar informasi mengenai terhentinya sejumlah tindakan operasi akibat krisis Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

Direktur RSUDZA, Dr. Muhazar H., SKM., M.Kes., menyebutkan bahwa informasi yang berkembang di tengah masyarakat tidak sepenuhnya benar dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik terhadap kondisi pelayanan rumah sakit.

“Yang pertama, tidak benar jika dikatakan pelayanan operasi di rumah sakit ini berhenti total atau tidak berjalan. Memang ada keterbatasan pada beberapa obat dan BMHP. Namun pihak manajemen terus berupaya melalui pengadaan dan koordinasi dengan vendor untuk mengoptimalkan pelayanan, khususnya di kamar operasi, laboratorium, cath lab, dan hemodialisa,” ujar Muhazar saat dikonfirmasi Dialeksis, Selasa (6/5/2026).

Ia menjelaskan, selama ini manajemen rumah sakit tetap memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat, terutama pada unit-unit vital yang bersentuhan langsung dengan keselamatan pasien. Menurutnya, keterbatasan stok pada sejumlah item tertentu dipengaruhi oleh kondisi keuangan rumah sakit yang masih memiliki kewajiban pembayaran atau utang sejak tahun 2025.

“Utang yang ada saat ini sedang kita audit. Setelah proses audit selesai, baru dilakukan pembayaran secara bertahap. Selain itu, rumah sakit juga masih menyelesaikan pembayaran kegiatan operasional tahun 2026 untuk Januari, Februari, dan Maret. Semua ini sedang diproses terus,” jelasnya.

Muhazar menegaskan, meskipun terdapat tantangan dalam pengelolaan anggaran dan distribusi BMHP, pelayanan terhadap pasien tidak pernah dihentikan. Ia bahkan membantah adanya penolakan pasien maupun penundaan operasi sebagaimana yang ramai diperbincangkan.

“Tidak ada tindakan medis yang dihentikan. Kalau memang ada informasi seperti itu, silakan disebutkan siapa pasiennya, siapa dokternya, dan kapan kejadiannya. Sampai hari ini tidak ditemukan kasus sebagaimana yang disampaikan,” tegasnya.

Menurutnya, isu yang berkembang terkait kamar operasi, cath lab, maupun layanan hemodialisa telah dipelintir sehingga memunculkan persepsi negatif terhadap rumah sakit. Padahal, kata dia, tenaga kesehatan dan manajemen tetap bekerja maksimal untuk memastikan pelayanan berjalan sebagaimana mestinya.

“Jangan sampai informasi yang diplesetkan justru menjatuhkan marwah rumah sakit. Posisi kami tetap sama, yakni memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya pasien yang membutuhkan penanganan segera,” katanya.

Lebih lanjut, Muhazar mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan layanan kesehatan. Ia menilai informasi yang akurat harus memiliki data yang jelas dan dapat diverifikasi agar tidak menjadi hoaks yang menyesatkan publik.

“Masyarakat harus berhati-hati melihat berita. Kalau informasinya akurat, tentu ada orangnya, ada tempatnya, ada waktunya, sehingga bisa kita klarifikasi dan tindak lanjuti. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya justru dianggap sebagai fakta,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Muhazar juga menyampaikan bahwa pelayanan RSUDZA tetap berjalan sesuai arahan Pemerintah Aceh. Ia menyebutkan, Muzakir Manaf menekankan agar rumah sakit tetap memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat tanpa melakukan penolakan pasien dalam kondisi apa pun.

“Pak Gubernur menginginkan pelayanan tetap berjalan. Apa pun kondisi yang ada, pelayanan kepada masyarakat harus terus dilakukan dan tidak boleh ada penolakan pasien. Itu menjadi pesan dan amanah yang harus kami jalankan,” ungkapnya.

Di akhir keterangannya, Muhazar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan dengan mengedepankan klarifikasi, tabayyun, dan informasi yang bertanggung jawab.

“Rumah sakit adalah tempat masyarakat mencari harapan dan pertolongan. Karena itu, mari sama-sama menjaga suasana yang kondusif, menyampaikan informasi secara benar, dan mendukung pelayanan kesehatan agar tetap berjalan optimal demi keselamatan masyarakat Aceh,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI