Kamis, 09 Juli 2026
Beranda / Pemerintahan / Disdik Aceh Sasar Anak Putus Sekolah Lewat PJJ

Disdik Aceh Sasar Anak Putus Sekolah Lewat PJJ

Rabu, 08 Juli 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Aceh - Dinas Pendidikan Aceh terus berupaya menekan angka anak putus sekolah melalui berbagai program, salah satunya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang baru mulai disosialisasikan kepada masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun Dialeksis dari berbagai sumber media digital, hingga September 2025 tercatat sekitar 56 ribu anak usia 16 hingga 18 tahun di Aceh tidak mendapatkan pendidikan formal.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan pihaknya sedang melakukan sejumlah langkah terobosan untuk mengembalikan anak-anak putus sekolah ke bangku pendidikan. Salah satunya Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)

“Salah satunya PJJ yang sedang dibuka saat ini. Di samping itu Disdik Aceh juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait persoalan ini sehingga jumlah peserta didik yang sudah terdaftar tahun ini meningkat,” terang Murthalamuddin melalui sambungan langsung kepada Dialeksis, Rabu, 8 Juli 2026.

Menurutnya, Program PJJ dirancang untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak yang terkendala mengikuti pembelajaran reguler di sekolah.

Terkait minat masyarakat terhadap program tersebut, Murthalamuddin mengaku pihaknya masih menunggu data resmi dari SMA Modal Bangsa yang ditunjuk sebagai sekolah induk penyelenggara PJJ.

“Program ini baru dua hari kami sosialisasikan. Saya belum menanyakan langsung ke SMA Modal Bangsa berapa jumlah peserta yang sudah mendaftar. Namun kalau dilihat dari respons di media sosial, banyak yang bertanya, ingin mengetahui, dan tertarik mengikuti program tersebut,” ujarnya.

Untuk memperluas jangkauan program penanganan anak putus sekolah, Disdik Aceh juga menerapkan strategi ‘jemput bola’ melalui para guru di seluruh daerah.

Murthalamuddin menjelaskan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang meminta guru tidak hanya memenuhi jam mengajar, tetapi juga aktif mencari dan mengajak anak-anak yang putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan.

“Disdik Aceh telah membuat edaran agar guru-guru mencukupkan jam belajar mengajar mereka sekaligus bersosialisasi mencari siswa. Istilahnya jemput bola,” katanya.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pemberian seragam sekolah gratis bagi anak-anak putus sekolah, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Misalnya di SMA 13 Banda Aceh yang berada di kawasan pinggiran dan mayoritas siswanya berasal dari keluarga nelayan. Kita berikan seragam gratis. Di beberapa daerah yang kami anggap rentan dan memiliki angka putus sekolah tinggi juga dilakukan hal yang sama,” ungkapnya.

Murthalamuddin menyebut faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama tingginya angka anak putus sekolah di Aceh. Karena itu, Program PJJ diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih fleksibel bagi mereka yang harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

“Misalnya ada anak yang bekerja di warung kopi. Kapan dia punya waktu untuk belajar? Melalui PJJ, modul pembelajaran bisa dikirim dalam bentuk soft copy sehingga lebih fleksibel. Sekitar 30 persen pembelajaran dilakukan melalui pertemuan daring dengan guru dari SMA Modal Bangsa, dan jadwalnya juga bisa dipilih oleh peserta,” jelasnya.

Melalui berbagai kebijakan tersebut, Dinas Pendidikan Aceh berharap semakin banyak anak usia sekolah yang kembali memperoleh akses pendidikan dan angka putus sekolah di Aceh dapat terus ditekan pada tahun-tahun mendatang.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI