Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Pemerintahan / Disabilitas Aceh Ingin Mandiri, Wagub Dek Fadh Sediakan Toko untuk Tempat Pijat Refleksi

Disabilitas Aceh Ingin Mandiri, Wagub Dek Fadh Sediakan Toko untuk Tempat Pijat Refleksi

Minggu, 05 April 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah menerima audiensi Ketua Persatuan Tunanetra indonesia (Pertuni) Provinsi Aceh, M. Nur Abdullah di Ruang Kerja Wakil Gubernur Aceh, Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Aceh melalui Wakil Gubernur Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, menyatakan komitmennya dengan menyediakan satu toko sebagai tempat usaha pijat refleksi bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

Hal ini diberikan untuk menunjang ekonomi masyarakat Aceh yang berkebutuhan khusus atau disabilitas agar hidup mandiri dan layak.

Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Aceh, Muhammad Nur, menyampaikan apresiasi langsung atas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar dan peluang kerja bagi komunitas tunanetra.

“Alhamdulillah, Pak Wagub menyampaikan bahwa ini sudah clear. Kita sepakat menyediakan satu toko sebagai tempat usaha pijat bagi disabilitas di Aceh. Ini menjadi harapan besar bagi kami untuk bisa bekerja dan mandiri,” ujar Muhammad Nur dalam media sosial yang dikutip media dialeksis.com, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, keberadaan tempat usaha pijat refleksi tersebut bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga menjadi simbol keberpihakan pemerintah terhadap penyandang disabilitas agar bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Meski menyambut baik dukungan tersebut, Pertuni Aceh juga menegaskan masih adanya kebutuhan lain yang mendesak, yakni rumah layak huni bagi penyandang disabilitas.

Muhammad Nur berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada penyediaan tempat usaha, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan dasar.

“Jadi kami berharap kepada Pak Wagub untuk mencarikan solusi bagaimana kami bisa mendapatkan rumah layak huni dan tempat usaha pijat, supaya kami bisa bekerja dan hidup lebih mandiri,” katanya.

Ia menambahkan, profesi sebagai terapis pijat selama ini menjadi salah satu keahlian utama tunanetra. Namun tanpa tempat yang layak dan tetap, mereka kerap kesulitan mengembangkan usaha dan mendapatkan penghasilan yang stabil.

Muhammad Nur menegaskan, komunitas tunanetra di Aceh tidak menginginkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk bekerja dan berkontribusi.

Ia juga menyampaikan doa dan harapan agar dukungan yang diberikan menjadi amal kebaikan bagi semua pihak yang terlibat.

“Semoga apa yang dilakukan Pak Wagub dan semua yang membantu menjadi amal ibadah. Mudah-mudahan Allah membalas segala kebaikan tersebut,” ucapnya.

Muhammad Nur menilai, langkah ini bisa menjadi awal dari program yang lebih luas dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Aceh.

“Alhamdulillah, satu per satu harapan mulai terbuka. Kami berharap ke depan semakin banyak dukungan untuk kemandirian disabilitas di Aceh,” pungkasnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI