DIALEKSIS.COM | Jakarta - Beras fortifikasi kembali menjadi perhatian pemerintah sebagai salah satu upaya mengatasi masalah kurang gizi dan stunting di Indonesia.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pangan yang diperkaya zat gizi tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan, bukan dijual dengan harga tinggi.
Pernyataan itu disampaikan Amran setelah menemukan beras fortifikasi dijual dengan harga Rp20.000 hingga lebih dari Rp42.000 per kilogram. Menurutnya, kondisi tersebut tidak sejalan dengan tujuan utama program fortifikasi pangan yang ditujukan bagi kelompok rentan gizi.
"Ini harus bisa diperuntukkan bagi saudara kita yang kekurangan gizi, masyarakat miskin, dan yang mengalami stunting," kata Amran.
Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya berbagai vitamin dan mineral penting, seperti vitamin A, vitamin B kompleks, asam folat, zat besi, dan zinc. Kandungan tersebut berperan dalam membantu memenuhi kebutuhan mikronutrien, terutama bagi ibu hamil, balita, dan keluarga yang berisiko mengalami kekurangan gizi.
Melalui program bantuan pangan 2026, Bapanas akan menyalurkan beras fortifikasi dan biofortifikasi kepada 960 kepala keluarga. Setiap keluarga akan menerima 15 kilogram beras dalam tiga kali penyaluran dengan sasaran utama keluarga berisiko stunting di wilayah rentan pangan.
Program ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan tahun 2025 yang menjangkau 648 kepala keluarga. Pemerintah berharap perluasan distribusi beras fortifikasi dapat memperkuat upaya menurunkan angka stunting sekaligus mengatasi kekurangan zat gizi mikro di Indonesia.
Bapanas juga menegaskan program bantuan beras fortifikasi berbeda dengan bantuan pangan beras reguler karena tidak menggunakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maupun beras Perum Bulog. [in]