DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Maraknya aksi pencurian yang terjadi di sejumlah kawasan di Kota Banda Aceh mulai memantik perhatian serius dari kalangan legislatif.
Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Royes Ruslan, prihatin atas meningkatnya kasus pencurian yang dinilai telah menimbulkan keresahan luas di tengah masyarakat.
Politikus Fraksi Partai Demokrat DPRK Banda Aceh itu menilai situasi keamanan kota saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, aksi pencurian yang terus berulang telah berkembang menjadi ancaman serius terhadap rasa aman warga.
“Kami sangat prihatin atas maraknya aksi pencurian yang terjadi akhir-akhir ini di Kota Banda Aceh. Warga mulai kehilangan rasa aman, terutama setelah kasus pencurian di Jalan Merpati Raya, Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa pada 23 Mei 2026 lalu. Ini tren yang sangat meresahkan,” ujar Royes Ruslan kepada Dialeksis.com.
Royes menegaskan, persoalan keamanan lingkungan harus segera menjadi perhatian bersama antara pemerintah kota, aparat penegak hukum, hingga masyarakat di tingkat gampong.
Ia menilai peningkatan kasus pencurian bukan hanya menyebabkan kerugian materiil, tetapi juga perlahan mengikis kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dan aparat dalam menjaga keamanan kota.
“Kami memandang masalah ini sebagai darurat keamanan kota yang harus ditangani secara serius dan terintegrasi. Pencurian tidak hanya merugikan secara materiil, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah dan aparat,” katanya.
Royes Ruslan menilai penguatan sistem keamanan berbasis masyarakat atau Pageu Gampong perlu segera diaktifkan kembali secara maksimal.
Menurutnya, peran masyarakat dan aparatur gampong sangat penting dalam mendeteksi serta mencegah potensi tindak kriminal di lingkungan masing-masing.
Ia juga mendesak aparat keamanan, khususnya Polresta Banda Aceh dan Satpol PP, untuk meningkatkan patroli mobile serta patroli malam di kawasan yang dinilai rawan pencurian.
“Perlu segera penguatan sistem keamanan berbasis gampong atau Pageu Gampong. Kami juga mendesak Polresta Banda Aceh dan Satpol PP untuk memperkuat patroli mobile dan patroli malam di kawasan rawan,” tegasnya.
Selain itu, Royes menilai pemanfaatan teknologi pengawasan menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya angka kriminalitas. Ia mendorong adanya pemasangan CCTV terintegrasi di titik-titik strategis yang dianggap rawan tindak pencurian.
Menurutnya, langkah tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah kota dengan aparatur gampong agar sistem pengawasan dapat berjalan efektif dan menjangkau kawasan permukiman padat penduduk.
“Perlu adanya pemanfaatan teknologi pengawasan dan pemasangan CCTV terintegrasi di titik-titik strategis kawasan rawan pencurian di tiap gampong. Ini butuh kerja sama dengan Pemko untuk memasang CCTV di tempat umum, taman, dan kawasan perumahan padat penduduk,” ujarnya.
Royes juga mengingatkan bahwa rasa aman merupakan hak dasar masyarakat yang wajib dijamin oleh negara. Karena itu, ia berharap seluruh pihak tidak menganggap remeh keresahan warga yang kini mulai kehilangan kepercayaan terhadap kondisi keamanan lingkungan mereka sendiri.
Sebelumnya, Khairani, warga Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, yang mengaku sudah lima kali menjadi korban pencurian dalam beberapa waktu terakhir.
Khairani yang juga Sekretaris perusahaan media online Dialeksis.com mengatakan, kondisi tersebut membuat dirinya dan keluarga merasa tidak lagi aman tinggal di lingkungan sendiri.
“Sungguh disayangkan selalu begini. Kami sudah kewalahan dan semoga ada solusi,” ujar Khairani dengan nada kecewa, Minggu (24/5/2026).
Peristiwa terbaru yang dialaminya terjadi pada Jumat, 23 Mei 2026 sekitar pukul 06.25 WIB di kawasan Jalan Merpati Raya, Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.
Khairani menjelaskan, lokasi yang menjadi sasaran pencurian merupakan rumah sewa yang digunakan sebagai bengkel sekaligus tempat aktivitas sehari-hari keluarganya. Meski bukan rumah pribadi, kerugian yang ditimbulkan tetap sangat besar dan memukul kondisi ekonomi keluarga.
“Di situ tempat sewa, kami jadikan bengkel, bukan rumah pribadi,” katanya.
Ia mengungkapkan, aksi pencurian sebelumnya juga pernah terjadi pada akhir Februari lalu. Saat itu, pelaku berhasil membawa kabur dompet berisi uang tunai, kartu-kartu penting, STNK dua unit sepeda motor, hingga satu unit telepon genggam.
Meski laporan sudah beberapa kali disampaikan kepada aparat gampong, Khairani mengaku belum melihat adanya langkah konkret yang benar-benar mampu mencegah kejadian serupa kembali terulang.
“Sudah lapor ke aparat gampong, tapi tidak ada solusi dan tindakan apa-apa,” ujarnya.
Rasa frustrasi warga, kata Khairani, kini semakin memuncak karena masyarakat merasa harus menghadapi sendiri persoalan keamanan di lingkungan mereka.
“Jadi dibiarkan kami yang bertindak sendiri,” katanya. [nh]