DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aksi pencurian yang terus berulang di sejumlah kawasan di Kota Banda Aceh mulai menimbulkan keresahan warga.
Minimnya tindakan tegas dan belum adanya solusi nyata membuat masyarakat merasa kehilangan rasa aman, bahkan sebagian mulai frustrasi karena kasus serupa terus terjadi tanpa penyelesaian.
Keresahan itu disampaikan Khairani, warga Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, yang mengaku sudah lima kali menjadi korban pencurian dalam beberapa waktu terakhir.
Khairani yang juga merupakan Sekretaris perusahaan media online Dialeksis.com mengatakan, aksi maling yang terjadi di rumahnya tempat ia tinggal sudah sangat meresahkan.
Ia mengaku lelah karena kejadian serupa terus terulang tanpa adanya langkah konkret yang mampu memberikan rasa aman kepada warga.
“Sungguh disayangkan selalu begini. Kami sudah kewalahan dan semoga ada solusi,” ujar Khairani dengan nada kecewa kepada media dialeksis.com, Minggu, 24 Mei 2026.
Peristiwa terbaru yang dialaminya terjadi pada Jumat, 23 Mei 2026 sekitar pukul 06.25 WIB di kawasan Jalan Merpati Raya, Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.
Khairani bersama keluarga tinggal di rumah sewa yang dijadikan usaha bengkel. Meski hanya tempat usaha, lokasi itu menjadi pusat aktivitas sehari-hari keluarga sehingga kehilangan berbagai barang akibat pencurian tetap menimbulkan kerugian besar dan rasa tidak aman.
“Di situ tempat sewa, kami jadikan bengkel, bukan rumah pribadi,” katanya.
Ia mengungkapkan, sebelum kejadian terbaru itu, dirinya juga pernah mengalami pencurian pada akhir Februari lalu. Saat itu, pelaku berhasil membawa kabur dompet berisi uang tunai, kartu-kartu penting, STNK dua unit sepeda motor, hingga satu unit telepon genggam.
Meski berbagai laporan telah disampaikan kepada aparat gampong, Khairani menilai belum ada tindakan nyata yang mampu mencegah aksi pencurian kembali terjadi.
“Sudah lapor ke aparat gampong, tapi tidak ada solusi dan tindakan apa-apa,” ujarnya.
Rasa frustrasi yang dirasakan warga, kata Khairani, kini semakin memuncak. Ia menyebut masyarakat mulai kehilangan kesabaran karena merasa harus menghadapi sendiri persoalan keamanan lingkungan mereka.
“Jadi dibiarkan kami yang bertindak sendiri,” katanya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena aksi pencurian disebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi berulang di kawasan permukiman warga.
Warga berharap aparat keamanan maupun pemerintah setempat segera mengambil langkah serius untuk mengatasi maraknya pencurian di Banda Aceh.
Mereka meminta patroli keamanan diperketat dan laporan masyarakat ditindaklanjuti secara cepat agar situasi tidak semakin memburuk.
Menurut Khairani, rasa aman merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang seharusnya menjadi perhatian bersama. Ia berharap kejadian yang dialaminya tidak kembali terulang, baik terhadap dirinya maupun warga lain di Banda Aceh.
“Kami hanya ingin hidup tenang dan merasa aman di lingkungan sendiri,” demikian Khairani.