DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV di Kabupaten Aceh Jaya menjadi perhatian penting bagi dunia olahraga Aceh. Ajang olahraga empat tahunan terbesar di provinsi ini bukan hanya menjadi arena kompetisi atlet dari seluruh kabupaten/kota, tetapi juga momentum mengukur kesiapan daerah dalam membangun ekosistem olahraga yang lebih maju.
PORA XV sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Aceh Jaya pada 2026. Dalam sejumlah laporan, pelaksanaan PORA XV disebut direncanakan pada November 2026, dengan 29 cabang olahraga dan 26 lokasi venue pertandingan yang disiapkan tuan rumah. Namun belakangan muncul wacana penyesuaian jadwal hingga 2027, sambil menunggu keputusan resmi Pemerintah Aceh terkait dukungan anggaran dan kesiapan teknis penyelenggaraan.
Menanggapi hal tersebut, Dialeksis.com menghubungi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, T. Banta Nuzullah, S.Pd. Ia menegaskan, apa pun keputusan akhir terkait waktu pelaksanaan, PORA XV harus dipersiapkan secara matang, terukur, dan tidak boleh hanya dipandang sebagai seremoni olahraga.
Menurut Banta, sukses PORA harus berpedoman pada lima kunci utama, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses infrastruktur, sukses ekonomi, dan sukses administrasi.
“PORA ini bukan sekadar membuka pertandingan lalu selesai. Harus ada ukuran keberhasilannya. Sukses penyelenggaraan penting, tetapi tidak boleh melupakan sukses prestasi, infrastruktur, ekonomi, dan administrasi. Semua lini harus bergerak bersama,” kata Banta kepada Dialeksis.com, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, sukses penyelenggaraan berarti seluruh tahapan teknis harus dipastikan berjalan sesuai standar. Mulai dari kesiapan venue, jadwal pertandingan, perangkat pertandingan, penginapan atlet, transportasi, konsumsi, hingga pelayanan kepada kontingen dari seluruh kabupaten/kota.
“Kalau penyelenggaraan tertata baik, maka atlet bisa bertanding dengan nyaman. Official juga bisa bekerja maksimal. Ini penting karena PORA adalah panggung pembinaan prestasi olahraga Aceh,” ujarnya.
Untuk sukses prestasi, Banta menilai PORA harus menjadi ajang pembuktian hasil pembinaan atlet di daerah. Karena itu, KONI Aceh, KONI kabupaten/kota, pengurus cabang olahraga, dan pemerintah daerah perlu memastikan atlet yang bertanding benar-benar lahir dari proses pembinaan yang sehat dan berjenjang.
“PORA harus melahirkan atlet-atlet potensial Aceh. Dari PORA inilah kita bisa membaca peta kekuatan menuju level yang lebih tinggi, termasuk Pra PON dan PON. Jadi orientasinya bukan hanya medali, tetapi masa depan olahraga Aceh,” katanya.
Banta juga menekankan pentingnya sukses infrastruktur. Menurutnya, sarana olahraga yang dibangun untuk PORA tidak boleh hanya berfungsi sesaat selama event berlangsung. Infrastruktur tersebut harus menjadi warisan jangka panjang bagi masyarakat Aceh Jaya dan pembinaan atlet di masa depan.
“Venue yang dibangun harus punya manfaat setelah PORA selesai. Jangan sampai setelah event berakhir, fasilitas tidak terawat. Itu sebabnya perencanaan, kualitas pembangunan, dan skema pemanfaatan pasca-PORA harus dipikirkan sejak awal,” ucapnya.
Di sisi lain, Banta menyebut PORA XV juga harus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat tuan rumah. Kehadiran atlet, official, panitia, tamu undangan, pecinta olahraga, dan masyarakat dari berbagai daerah harus mampu menggerakkan sektor UMKM, kuliner, penginapan, transportasi, hingga pariwisata lokal.
“PORA harus membawa manfaat ekonomi. Masyarakat harus ikut merasakan dampaknya. UMKM lokal perlu disiapkan, pelaku usaha kecil diberi ruang, dan potensi wisata Aceh Jaya juga bisa dipromosikan,” katanya.
Selain itu, Banta mengingatkan pentingnya sukses administrasi. Seluruh penggunaan anggaran, proses pengadaan, laporan kegiatan, hingga pertanggungjawaban harus dilakukan secara tertib, transparan, dan sesuai ketentuan.
“Administrasi tidak boleh dianggap urusan belakang. Justru dari awal harus tertib. Semua harus sesuai aturan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” tegasnya.
Ia juga menilai keberhasilan PORA tidak hanya menjadi tanggung jawab KONI Aceh dan tuan rumah Aceh Jaya. Pelibatan unsur keamanan, organisasi perangkat daerah, pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, relawan, media, masyarakat sipil, dan komunitas pecinta olahraga menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh rangkaian berjalan lancar.
“Keamanan harus siap, layanan kesehatan harus tersedia, OPD terkait harus bekerja sesuai peran, dan koordinasi lintas sektor harus kuat. Event sebesar PORA membutuhkan kerja kolektif,” ujar Banta.
Banta berharap KONI Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya sebagai tuan rumah dapat memastikan seluruh indikator sukses tersebut benar-benar berjalan. Menurutnya, apabila PORA XV dipersiapkan dengan baik, ajang ini tidak hanya sukses sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan, sportivitas, dan kebanggaan daerah.
Ia juga mengajak media, masyarakat sipil, tokoh pemuda, komunitas olahraga, dan seluruh elemen masyarakat Aceh untuk memberi dukungan positif terhadap pelaksanaan PORA XV.
“Kita ingin PORA di Aceh Jaya nanti menjadi PORA yang membanggakan. Butuh kritik yang membangun, dukungan publik, dan partisipasi semua pihak. Ini bukan hanya agenda Aceh Jaya, tetapi agenda besar olahraga Aceh,” pungkasnya. [ra]