DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) Yayasan Matahari kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan data Program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) 2026, Yayasan Matahari berhasil naik ke peringkat 2 nasional dalam jumlah pengajuan sertifikat halal, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kontributor terbesar dalam pengembangan industri halal Indonesia.
Kenaikan peringkat tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten sepanjang tahun 2026. Pada awal tahun, Yayasan Matahari berada di jajaran tiga besar nasional. Memasuki akhir April 2026, jumlah pengajuan sertifikat halal telah mencapai 52.681 pengajuan, kemudian meningkat menjadi 57.358 pengajuan pada akhir Mei, dan kembali bertambah menjadi 59.105 pengajuan pada awal Juni 2026.
Peningkatan jumlah pengajuan tersebut mendorong Yayasan Matahari melesat ke posisi kedua nasional dan berhasil mengungguli banyak LP3H besar yang berbasis perguruan tinggi maupun organisasi kemasyarakatan Islam yang telah lebih dahulu berkiprah dalam program sertifikasi halal.
Direktur Yayasan Matahari, Pujo Basuki, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh Pendamping Proses Produk Halal (P3H) yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
"Alhamdulillah, capaian ini merupakan hasil kerja bersama para pendamping yang setiap hari mendampingi pelaku usaha mikro dan kecil untuk mendapatkan sertifikat halal. Kenaikan ke peringkat dua nasional menjadi bukti bahwa kerja kolaboratif yang dibangun selama ini berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Pujo, keberhasilan tersebut juga menjadi bukti bahwa lembaga yang berkantor pusat di Banda Aceh mampu memberikan kontribusi besar pada skala nasional. Dengan jaringan pendamping yang tersebar di berbagai daerah, Yayasan Matahari terus memperluas akses layanan sertifikasi halal hingga menjangkau pelaku usaha di pelosok Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan regulasi, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk meningkatkan daya saing produk UMK. Melalui pendampingan yang dilakukan, pelaku usaha memperoleh pemahaman mengenai proses produk halal, penggunaan bahan yang sesuai, hingga penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).
Kenaikan peringkat Yayasan Matahari juga memperlihatkan semakin besarnya kontribusi Aceh dalam pembangunan ekosistem halal nasional. Dari daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, Yayasan Matahari berhasil berkembang menjadi salah satu LP3H dengan capaian tertinggi di Indonesia dan berperan aktif dalam menyukseskan Program Sehati yang digagas pemerintah.
"Peringkat tentu menjadi motivasi, tetapi tujuan utama kami tetap bagaimana semakin banyak pelaku usaha yang mendapatkan sertifikat halal dan merasakan manfaatnya bagi pengembangan usaha. Ketika UMK semakin kuat, maka ekosistem halal nasional juga akan semakin berkembang," kata Pujo.
Dengan capaian lebih dari 59 ribu pengajuan sertifikat halal dan posisi peringkat kedua nasional, Yayasan Matahari membuktikan bahwa lembaga yang lahir dari Aceh mampu menjadi salah satu motor penggerak percepatan sertifikasi halal Indonesia serta berkontribusi besar dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.[*]