DIALEKSIS.COM | Kolom - Melanjutkan kisah "Angsa Hitam" yang sanggup meruntuhkan singgasana, ternyata ada spesies jauh lebih berbahaya. Itulah dia Jubir Brutus. Kalau Black Swan hanya kecelakaan komunikasi yang murni karena "kebegoan" teknis seperti kasus Schabowski, maka Jubir Brutus merupakan sabotase yang dibungkus dengan susunan kalimat nan rapi di balik senyum simpul menggoda.
Sejarah mencatat, fenomena horor Jubir Brutus lebih menegangkan dari film thriller. Fenomena ini merujuk pada Marcus Junius Brutus. Ia sahabat Julius Caesar, yang paling dipercaya. Namun, dia pula yang menghunjamkan belati paling dalam.
Dalam konteks komunikasi, Jubir Brutus tidak memakai pisau setajam silet. Tetapi, dia memakai lapsus linguae (kesalahan bicara) yang disengaja atau rangkaian kalimat untuk menyerang lawan, tanpa ampun. Padahal, sejatinya ingin menunjukkan kelemahan pemimpinnya.
Seorang Jubir Brutus ialah master dalam double-speak (bahasa bermuka dua). Di depan kamera, dia membela pimpinan. Namun di belakang layar, ia melempar kode kepada jurnalis. Tujuannya satu: subversi (upaya menjatuhkan kekuasaan) dari dalam.
Pakar komunikasi Harold Lasswell pernah berteori tentang ‘Who says What to Whom’. Dalam kasus Jubir Brutus, pesannya jelas, "Bukan saya yang salah, tetapi bos saya yang agak 'kurang'." Ini adalah teknik melempar kesalahan yang sangat paripurna dan sempurna.
Mari kita tengok sejarah Jerman tahun 1962. Karl-Günther von Hase adalah jubir yang terjepit dalam Krisis Spiegel. Menterinya, Franz Josef Strauß, ketahuan berbohong. Lalu, Von Hase tak lantas pasang badan sampai mati. Ia memberikan pernyataan "terlalu jujur".
Secara jurnalistik, kejujuran itu mulia. Tapi dalam politik kekuasaan, kejujuran von Hase adalah belati bagi Strauß, dan akhirnya dia tumbang. Von Hase selamat. Apakah dia Brutus? Mungkin ia hanya Jubir yang punya integritas dan kejujuran moral, tetapi bagi Menteri Strauß, itu adalah pengkhianatan inklusif.
Menjadi seorang Jubir Brutus butuh bakat akting. Dia harus mampu memasang wajah melankolis saat ”menjilat” pada tuannya, sementara dalam hati sedang menghitung keuntungan proyek dari calon penguasa baru.
Ada istilah "Throwing under the bus" (melempar ke bawah bus). Di sini, Jubir Brutus adalah supir busnya. Ia mengemudi dengan tenang, lalu tiba-tiba mengerem mendadak agar sang bos terpental keluar pintu. Setelah itu, ia akan berkata kepada media, "Remnya blong, saya sudah ingatkan, tapi beliau keras kepala tidak mau pakai seat belt."
Ini jelas bentuk kesesatan berpikir yang dikemas rapi lewat susunan kalimat meyakinkan. Publik akan mengira sang Jubir adalah pahlawan terkekang, padahal ia sedang melakukan manuver untuk ”lompat pagar”.
Mengapa fenomena ini berbahaya? Sejatinya kekuasaan dibangun di atas trust. Jika orang paling dekat dengan mikrofon sudah mulai "main dua kaki", maka legitimasi pemerintah sudah berada di ujung tanduk.
Seorang Jubir bermental Brutus biasanya memiliki ciri-ciri oportunis. Dia menggunakan istilah-istilah ambigu dalam setiap pernyataan. Bahkan, bila perlu langsung menyerang pelaku kritik. Ia membiarkan publik menafsirkan sendiri keburukan kebijakan pemimpinnya tanpa harus terlihat menyerang secara langsung.
Dalam konteks Aceh hari ini, di mana politik sering kali menjadi panggung teatrikal sandiwara antara loyalitas dan kepentingan, kehadiran sosok Brutus dalam lingkar kekuasaan bisa menjadi kiamat bagi legitimasi seorang pemimpin. Dalam transisi politik, kita sering melihat fenomena oportunisme dan "penyakit" Brutus ini biasanya mewabah.
Bagi pemimpin di Aceh, memiliki Jubir bermental Brutus adalah bencana eksistensial. Di tanah yang menjunjung tinggi nilai-nilai amanah bahwa jabatan adalah titipan dan kepercayaan rakyat, pengkhianatan di podium merupakan dosa tak termaafkan.
Seorang Jubir yang sengaja menciptakan chaos informasi melalui diksi provokatif adalah musuh dalam selimut. Alih-alih menjelaskan suatu kebijakan secara benderang, ia suka memancing Vox Populi (suara rakyat) untuk marah.
Sejarah Tembok Berlin runtuh karena lidah terpeleset (Black Swan). Namun, rezim-rezim besar lain tumbang karena ada orang dalam yang sengaja melicinkan lantai agar tuannya terjerembab. Sejarah mengajarkan kita bahwa penguasa jarang jatuh karena serangan musuh dari luar.
Bagi para pemimpin, pilihlah Jubir yang bukan hanya pintar bicara dan merangkai kalimat rilis, tapi punya loyalitas teruji. Jangan sampai Anda sedang berpidato tentang kejayaan, sementara Jubir di belakang sibuk mengirim pesan rahasia ke grup WhatsApp yang anggotanya terbatas.
Hati-hati bagi pemegang kekuasaan di Aceh. Musuh yang menyerang dari depan dengan kritikan pedas jauh lebih mulia daripada sahabat di samping yang memegang mikrofon, padahal ia diam-diam sedang mengasah ”belati”. Karena pada akhirnya, lingua est hostis homini pessima -- lidah (apalagi lidah Jubir) bisa menjadi musuh paling mematikan bagi siapapun yang sedang duduk di singgasana.
Waspadalah! Jangan sampai singgasana Anda rubuh hanya karena Anda salah memilih "mulut" untuk bicara. Sebab, kalimat seorang Brutus lebih tajam dari pedang mana pun. Pedang hanya bisa melukai tubuh, tapi lidah Jubir mampu meruntuhkan jajaran pemerintahan. Caveat Emptor! [**]
Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis Freelance)