DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag, menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses transformasi spiritual yang bertumpu pada tiga dimensi utama: aqidah, syariah, dan akhlak.
Pesan itu disampaikan Mujiburrahman dalam ceramah Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Fathun Qarib, kampus setempat, Rabu (18/2/2026). Dalam tausiyah bertajuk Filosofi Ramadan Mubarak, ia mengajak jamaah memaknai puasa sebagai manifestasi konkret dari keimanan.
Mengawali ceramahnya, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa puasa merupakan perintah yang secara eksplisit ditujukan kepada mereka yang memiliki iman, sehingga pelaksanaannya menjadi bukti ketauhidan dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Perintah puasa hanya ditujukan kepada orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum pengejawantahan iman dalam bentuk ketaatan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia mengingatkan bahwa pengakuan iman tidak cukup berhenti pada lisan, tetapi harus dibuktikan dengan kepatuhan menjalankan ibadah, termasuk puasa, kecuali bagi mereka yang memiliki uzur syar’i. Tujuan akhirnya, kata dia, adalah mencapai derajat takwa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Dalam dimensi aqidah, Mujiburrahman menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Ia mengingatkan bahwa praktik syirik, baik dalam bentuk besar maupun kecil seperti riya, dapat menghapus nilai ibadah. Ia merujuk Surah Al-Kahfi ayat 110 sebagai landasan agar setiap amal dilakukan secara ikhlas dan tidak menyekutukan Allah.
Sementara pada aspek syariah, ia menegaskan bahwa ibadah puasa harus dilandasi ilmu dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Tanpa dasar pengetahuan yang benar, amal berpotensi tertolak. Ia mengutip Surah Al-Furqan ayat 23 yang menjelaskan tentang amal yang menjadi sia-sia karena tidak sesuai dengan tuntunan.
“Beribadah tanpa ilmu bisa berujung pada kerusakan yang lebih besar daripada maslahat,” katanya, seraya mengingatkan pentingnya pemahaman agama yang komprehensif.
Adapun dalam konteks akhlak, ia menyoroti pentingnya menjaga etika sosial selama Ramadan. Perilaku seperti ghibah, adu domba, dusta, pandangan yang tidak terjaga, hingga sumpah palsu, menurutnya, dapat menghilangkan pahala puasa.
“Bisa jadi seseorang berpuasa, tetapi yang ia peroleh hanya lapar dan dahaga,” ujarnya, mengutip hadis Nabi.
Menutup ceramahnya, Mujiburrahman berharap Ramadan menjadi momentum perbaikan diri secara menyeluruh”tidak hanya dalam relasi vertikal dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan sosial antar sesama manusia. Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai ruang transformasi untuk kembali pada fitrah dan meraih derajat takwa.