Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / IKM Fesyen dan Kriya Berpotensi Tembus Global, Kemenperin Tekankan Riset Pasar

IKM Fesyen dan Kriya Berpotensi Tembus Global, Kemenperin Tekankan Riset Pasar

Rabu, 29 April 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Dekranasda Pidie tampil pada Pameran Kriya Unggulan tahun 2025. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menekankan pentingnya strategi bisnis dan pemahaman pasar bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dan kriya agar mampu bertahan di tengah perubahan tren yang kian cepat. 

Hal ini dinilai menjadi kunci agar produk lokal tidak hanya menarik secara desain, tetapi juga kompetitif secara komersial.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, inovasi produk harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen yang terus berkembang. 

“Inovasi produk yang diciptakan desainer, perajin, maupun produsen harus sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

Menurut Agus, pelaku IKM dalam negeri sejatinya memiliki potensi besar dari sisi kreativitas dan kualitas produk. Namun, tanpa didukung strategi bisnis yang tepat dan riset pasar yang kuat, peluang untuk naik kelas akan sulit tercapai. Ia bahkan menilai produk fesyen dan kriya Indonesia mampu bersaing dengan produk luar negeri jika dikelola dengan strategi yang tepat.

Kemenperin mencatat, sektor fesyen dan kriya menunjukkan kinerja positif dengan nilai ekspor mencapai USD 806,63 juta pada 2025, naik 15,46% dibanding tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar global masih terbuka lebar bagi produk IKM nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan, pihaknya terus memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui berbagai program literasi bisnis, salah satunya kegiatan Creative Talk yang digelar di Bali. 

“Penguatan literasi bisnis dan strategi desain mutlak diperlukan agar produk fesyen dan kriya IKM tidak hanya unggul secara estetika, tetapi juga kuat secara komersial,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Dickie Sulistya Aprilyanto mengingatkan, banyak bisnis gagal karena produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. 

“Keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga kemampuan memahami dan menjawab kebutuhan pelanggan,” tegasnya. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI