DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan sektor industri manufaktur Indonesia tetap tumbuh kuat di tengah tekanan global. Bahkan, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2025 tercatat mencapai 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan capaian ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri kembali lebih tinggi dari ekonomi nasional.
“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026)
Selain dari sisi pertumbuhan, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga terus menguat. Dalam periode Triwulan II 2022 hingga Triwulan IV 2025, kontribusinya naik dari 17,92% menjadi 19,20%, menegaskan peran strategis sektor ini dalam struktur ekonomi Indonesia.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor industri pengolahan nonmigas juga menunjukkan pemulihan signifikan pascapandemi. Berdasarkan data Sakernas, jumlah tenaga kerja meningkat dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Sementara itu, investasi di sektor manufaktur terus mengalir deras. Pada Triwulan I 2026, tercatat 633 perusahaan tengah membangun fasilitas produksi baru dengan total nilai investasi mencapai Rp418,62 triliun. Proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 219.684 tenaga kerja.
Febri menyebut, derasnya investasi dan peningkatan kinerja industri tidak lepas dari kebijakan pro-industri yang dijalankan pemerintah, termasuk penguatan TKDN, hilirisasi, serta perlindungan terhadap industri dalam negeri.
“Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat,” katanya.
Ke depan, Kemenperin optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring dorongan pada sektor prioritas seperti makanan dan minuman, kimia, hingga logam dasar. Pemerintah juga terus memperluas pasar ekspor dan memperkuat rantai pasok industri guna menjaga momentum pertumbuhan manufaktur nasional. [red]