DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat kinerja ekonomi daerah sepanjang 2025 mengalami perlambatan.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengungkapkan bahwa tekanan terbesar berasal dari dampak bencana hidrometeorologi Siklon Tropis Senyar yang mengganggu berbagai sendi produksi dan distribusi ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi dihitung dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik menurut lapangan usaha maupun pengeluaran. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Aceh mengalami kontraksi 0,05 persen dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q),” kata Agus Andria dalam pemaparan resmi BPS Aceh yang dilansir media dialeksis.com, Jumat (6/2/2026).
Secara tahunan, kondisi tersebut lebih terasa. Jika dibandingkan dengan triwulan IV 2024, ekonomi Aceh terkontraksi 1,61 persen (y-on-y). Meski begitu, secara kumulatif selama 2025, ekonomi Aceh masih tumbuh 2,97 persen (c-to-c), namun melambat dibanding capaian 2024 yang mencapai 4,66 persen.
Agus menjelaskan, kontraksi ini tidak terjadi tanpa sebab. Siklon Tropis Senyar yang memicu banjir dan kerusakan infrastruktur berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi.
“Terjadi penurunan aktivitas produksi, terutama akibat gagal panen di sektor pertanian, kerusakan perkebunan dan hortikultura, serta gangguan aktivitas industri,” ujarnya.
Selain produksi, distribusi barang dan mobilitas masyarakat juga terganggu. Kerusakan jalan, jembatan, jaringan listrik, dan fasilitas umum membuat rantai pasok tidak berjalan normal.
“Gangguan konektivitas menyebabkan biaya logistik meningkat dan distribusi barang menjadi tersendat,” jelasnya.
Dari sisi perdagangan, BPS mencatat penurunan ekspor, sementara impor justru meningkat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Situasi ini memperlemah neraca perdagangan daerah. Tekanan juga dirasakan rumah tangga.
Menurut BPS, secara pola musiman, triwulan IV biasanya menunjukkan pertumbuhan dibanding triwulan III. Namun pada 2025, tren tersebut berbalik.
“Secara q-to-q, triwulan IV 2025 justru terkontraksi 0,05 persen. Ini pembalikan tren dibanding tahun-tahun sebelumnya yang cenderung tumbuh,” kata Agus.
Secara y-on-y, kontraksi 1,61 persen menunjukkan tekanan ekonomi yang cukup dalam, terutama karena terjadi pada periode yang biasanya ditopang konsumsi akhir tahun dan belanja pemerintah.
Meski triwulan IV tertekan, secara kumulatif 2025 Aceh masih mencatat pertumbuhan 2,97 persen. Namun angka ini menunjukkan perlambatan dibanding tren beberapa tahun terakhir.
“Pertumbuhan kumulatif tetap positif, tetapi momentumnya melemah. Ini sinyal bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya kuat,” tutupnya. [nh]