Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Viral Warga Filipina Jalan Kaki ke Tempat Kerja di Tengah Krisis Energi

Viral Warga Filipina Jalan Kaki ke Tempat Kerja di Tengah Krisis Energi

Jum`at, 27 Maret 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan terganggunya transportasi umum, banyak warga Filipina terpaksa berjalan kaki ke tempat kerja. Foto: Ist/net


DIALEKSIS.COM | Internasional - Sejumlah video yang memperlihatkan warga Filipina berjalan kaki di jalan raya menuju tempat kerja viral di media sosial, terutama di platform X. Unggahan itu ramai dikaitkan dengan krisis bahan bakar minyak (BBM) yang disebut terjadi sebagai dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.


Dalam salah satu unggahan, seorang warganet menulis bahwa di Filipina cadangan energi nyaris habis sehingga banyak orang harus berjalan kaki ke tempat kerja. Komentar serupa juga bermunculan dari pengguna media sosial lainnya yang menyoroti terbatasnya fasilitas transportasi umum di negara itu.


Dalam rekaman yang beredar, tampak kerumunan warga memenuhi badan jalan layaknya sedang berjalan santai. Sebagian mengenakan pakaian santai, sementara lainnya terlihat berpakaian rapi seolah hendak menuju kantor.


Namun, penjelasan berbeda datang dari salah satu situs berita yang masih satu grup dengan Philstar. Dalam laporan itu, sejumlah warga Filipina menjelaskan bahwa mereka bukan sedang berjalan kaki ke kantor, melainkan menunggu transportasi umum.


Beberapa warga juga menyebut kebiasaan itu sudah lama terjadi di kawasan Commonwealth Avenue, Quezon City. Mereka berjalan menuju kendaraan umum yang baru diberangkatkan dan masih memiliki kursi kosong.


Di sisi lain, sejumlah operator transportasi dilaporkan juga bersiap melakukan aksi mogok kerja pada pekan ini sebagai bentuk protes terhadap dugaan kelalaian pemerintah dalam merespons tingginya harga bahan bakar.


Video viral tersebut muncul tak lama setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun. Kebijakan itu diambil menyusul terganggunya pasokan BBM dan gas akibat perang di Timur Tengah.


Marcos Jr. bahkan memperingatkan adanya “ancaman yang segera terjadi” terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi nasional, terutama setelah meningkatnya ketegangan di kawasan dan penutupan Selat Hormuz.


Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana situasi geopolitik di Timur Tengah dapat memicu dampak berantai hingga ke negara lain, termasuk Filipina, baik dari sisi energi maupun mobilitas masyarakat sehari-hari.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI