DIALEKSIS.COM | Teheran - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertanggung jawab atas jatuhnya ribuan korban jiwa selama gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak akhir Desember lalu. Tuduhan tersebut disampaikan Khamenei dalam pidato di hadapan para pendukungnya pada Sabtu (17/1).
“Kami menuduh Presiden Amerika Serikat bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan berbagai tuduhan yang ia lontarkan terhadap bangsa Iran,” ujar Khamenei, seperti dikutip dari AFP.
Ia menegaskan bahwa gelombang protes yang terjadi di negaranya merupakan bagian dari konspirasi Amerika Serikat. “Ini adalah konspirasi Amerika,” katanya.
Menurut Khamenei, tujuan utama Washington adalah melemahkan Iran dan kembali menempatkan negara tersebut di bawah dominasi militer, politik, dan ekonomi Amerika Serikat. Ia menilai tekanan eksternal menjadi faktor utama di balik instabilitas yang terjadi.
Gelombang demonstrasi di Iran pecah sejak akhir Desember dan berlangsung di berbagai wilayah. Media pemerintah Iran melaporkan aksi unjuk rasa tersebut disertai pembakaran fasilitas umum dan pertokoan. Para demonstran memprotes lonjakan inflasi serta krisis ekonomi, bahkan sebagian di antaranya menuntut agar Khamenei mundur dari jabatannya.
Di sisi lain, kelompok pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan jumlah korban tewas akibat penanganan aparat keamanan terus bertambah. Dalam laporan yang dirilis Jumat (16/1), HRANA mencatat sedikitnya 3.090 orang tewas, dengan 2.885 di antaranya merupakan demonstran.
Sejumlah lembaga dan media internasional menyajikan estimasi korban yang berbeda. Intelijen Israel memperkirakan jumlah korban mencapai sekitar 5.000 orang. Sementara itu, media Iran International yang berbasis di Inggris menyebut angka korban tewas menembus lebih dari 12.000 jiwa.
Namun hingga kini, belum ada data resmi dari media pemerintah Iran seperti IRNA, Mehr News, dan Fars terkait jumlah korban tewas. Akses internet di Iran dilaporkan masih terputus secara luas, sehingga informasi dari sumber-sumber resmi sulit diperoleh.
Pemerintah Iran disebut-sebut menggunakan kekuatan berlebih dalam merespons aksi demonstrasi, termasuk dengan memutus akses internet secara nasional. Khamenei kembali menegaskan bahwa aksi protes tersebut tidak murni berasal dari dalam negeri, melainkan dipicu campur tangan asing.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sejumlah kesempatan terus melontarkan pernyataan yang dinilai memprovokasi rakyat Iran untuk turun ke jalan dan menuntut kebebasan. Ketegangan antara Teheran dan Washington pun semakin meningkat seiring memburuknya situasi di dalam negeri Iran.