Jum`at, 23 Oktober 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Klaim 7 Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, AS Bantah soal Ranjau

Iran Klaim 7 Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, AS Bantah soal Ranjau

Jum`at, 23 Oktober 2026 13:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapal tanker minyak mentah, kapal pengangkut curah, dan berbagai kapal lainnya tampak berlabuh di dekat Pelabuhan Qaboos di Muscat, Oman [Foto: Elke Scholiers / Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Iran mengklaim tujuh kapal tanker minyak diserang dan mengalami kerusakan di Selat Hormuz. Jumlah tersebut disebut sebagai yang tertinggi dalam sehari sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai perang melawan Iran pada 28 Februari.

Dilansir Al Jazeera, Kamis (22/10/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan empat kapal tanker terbakar saat sedang memindahkan minyak pada malam hari. Sementara itu, tiga kapal lainnya dilaporkan tidak dapat beroperasi setelah menghantam ranjau.

Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. IRGC juga tidak mengungkapkan identitas kapal, bendera negara yang dikibarkan, maupun kemungkinan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut.

Iran Ancam Pangkalan Militer AS

IRGC memperingatkan akan memperluas serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Washington membantu kapal tanker melintasi Selat Hormuz.

Iran mengklaim menguasai jalur pelayaran strategis tersebut. Sebelum perang pecah, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Di sisi lain, militer AS dilaporkan semakin sering mengawal kapal yang melintasi selat tersebut. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah klaim Iran mengenai penggunaan ranjau dan menyatakan Iran menggunakan rudal serta pesawat nirawak untuk menyerang.

Menurut juru bicara tersebut, jalur pelayaran internasional telah dibersihkan dari ranjau dan sekitar 95 persen kapal berhasil melintas.

Trump Soroti Harga Minyak

Presiden AS Donald Trump menuduh Iran berupaya menaikkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu AS pada awal November.

Melalui Truth Social, Trump menyatakan lalu lintas minyak yang melintasi Selat Hormuz justru lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.

Sementara itu, laporan Al Jazeera dari Washington menyebut perang dengan Iran berpotensi menjadi beban politik bagi Partai Republik. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup memicu kekhawatiran masyarakat AS terhadap biaya perang yang terus meningkat.

Tekanan publik tersebut menjadi tantangan bagi Trump di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. [aljazeera, AFP, AP]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
esdm 3