DIALEKSIS.COM | Internasional - Dugaan operasi mata-mata China yang menyasar CEO Nvidia, Jensen Huang, mendapat respons Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyatakan pemerintahnya akan memeriksa persoalan tersebut dengan saksama, sementara Nvidia menegaskan hubungan Huang dengan perempuan yang disebut dalam laporan itu merupakan interaksi bisnis biasa.
Berbicara kepada wartawan di kediamannya di Florida, Sabtu (31/10/2026), Trump mengaku tidak mengetahui rincian persoalan tersebut. Ia menyampaikan penghargaan terhadap kemampuan Huang dan berharap semuanya baik-baik saja.
“Kami akan memeriksanya dengan sangat saksama,” kata Trump, sebagaimana diberitakan AFP, Minggu (1/11/2026).
Ketika ditanya apakah Huang akan tetap menjadi penasihatnya, Trump menyatakan ingin mempertahankannya sepanjang tidak ditemukan informasi yang menunjukkan sebaliknya. Ia juga mengakui persoalan yang dihadapi sangat kompleks.
Dugaan spionase ini mencuat setelah The New York Times pada Kamis (29/10/2026) melaporkan penilaian pejabat intelijen AS mengenai Alice Huang, yang juga dikenal sebagai Huang Le. Perempuan berkewarganegaraan China itu pernah menjadi eksekutif Megaspeed International, perusahaan pusat data yang berbasis di Singapura.
Dalam laporan yang dikutip AFP tersebut, pejabat AS disebut menduga Alice menyalurkan informasi kepada Beijing dan memiliki hubungan dekat dengan Jensen Huang. Keduanya tidak memiliki hubungan keluarga. Dugaan itu menjadi perhatian karena posisi Huang dalam industri kecerdasan buatan serta aksesnya kepada Trump.
Megaspeed sebelumnya juga disorot dalam dugaan pengalihan cip AI Nvidia ke China untuk menghindari pembatasan ekspor AS. Nvidia menyatakan tuduhan penyelundupan tersebut telah diperiksa dan dibantah perusahaan.
Nvidia menyatakan tidak ada yang tidak lazim dalam interaksi tersebut. Menurut perusahaan, pertemuan dengan pelanggan merupakan bagian dari pekerjaan seorang CEO, dan Huang berbicara dengan ribuan eksekutif pelanggan setiap tahun.
Perusahaan juga menegaskan pelanggan komputasi awan regionalnya hanya menerima informasi bisnis biasa. Mereka tidak memperoleh rahasia dagang sensitif Nvidia ataupun informasi yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Huang sendiri mengatakan Nvidia telah memeriksa penempatan unit pemrosesan grafis atau GPU yang digunakan Megaspeed. Menurut keterangannya dalam wawancara dengan Bloomberg yang dikutip Reuters pada 29 Oktober, pemeriksaan perusahaan tidak menemukan pengalihan cip Nvidia secara ilegal ke China.
Perkembangan penting lainnya datang dari Singapura. Dalam klarifikasi resmi pada Sabtu (31/10/2026), Kementerian Dalam Negeri Singapura membantah pemberitaan bahwa pemerintahnya pernah menyelidiki Alice terkait dugaan hubungan dengan intelijen China maupun kedekatannya dengan Huang.
Klarifikasi itu merespons laporan The Wall Street Journal sehari sebelumnya. Pemerintah Singapura menyatakan tanggapan yang diberikan kepada media tersebut tidak memuat pernyataan tentang kekhawatiran ataupun penyelidikan terhadap Alice dalam konteks itu.
Meski demikian, Kepolisian Singapura menegaskan penyelidikan terhadap Megaspeed masih berlangsung. Aparat belum memberikan penjelasan lebih jauh. Dengan demikian, bantahan mengenai penyelidikan terhadap Alice dan status penyelidikan perusahaan merupakan dua keterangan yang berbeda.
Dari Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menolak tuduhan tersebut. Dalam konferensi pers pada Jumat (30/10/2026), ia menyebut pemberitaan itu tidak berdasar dan merupakan upaya mencemarkan China.
Sementara itu, otoritas Taiwan masih mendalami informasi mengenai Alice, yang diberitakan pernah terlihat bersama Huang dalam pertemuan di Taipei pada Juni 2024 dan Mei 2025.
Menteri Dalam Negeri Taiwan Liu Shyh - fang menyatakan, apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan nasional atau Undang-Undang Anti-Infiltrasi, penanganan akan dilakukan terlebih dahulu berdasarkan hukum Taiwan. Setelah proses itu, pemerintah baru mempertimbangkan pengusiran. Keputusan tersebut, menurut penjelasannya, bergantung pada hasil penanganan hukum.
Sorotan terhadap perkara ini muncul ketika bisnis infrastruktur AI Nvidia terus membesar. Dalam laporan keuangan resmi yang diumumkan 26 Agustus 2026, perusahaan mencatat pendapatan US$96,2 miliar pada kuartal II tahun fiskal 2027, yang berakhir 26 Juli 2026. Angka itu meningkat 106 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan segmen pusat data mencapai US$89 miliar, tumbuh 117 persen secara tahunan. Dalam proyeksi kuartal berikutnya, Nvidia juga menyatakan tidak memasukkan pendapatan komputasi pusat data dari China dalam perhitungannya.