DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dua sosok yang selama ini berperan dalam struktur organisasi Yayasan Sabena Aceh Malaya secara resmi mengajukan pengunduran diri dalam waktu yang berdekatan.
Pengunduran diri pertama datang dari Azhar Ismail yang menjabat sebagai Penasehat Yayasan. Dalam surat tertanggal 17 Maret 2026, Azhar menyampaikan keputusan tersebut diambil secara sadar tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.
“Keputusan ini saya ambil secara sadar, tanpa adanya paksaan maupun tekanan dari pihak manapun, melainkan berdasarkan pertimbangan pribadi,” tulis Azhar dalam suratnya yang dilansir media dialeksis.com, Kamis (2/4/2025)
Ia mengungkapkan, meningkatnya tanggung jawab serta komitmen pada aktivitas lain membuat dirinya tidak lagi mampu menjalankan peran sebagai penasehat secara optimal sebagaimana yang diharapkan oleh yayasan.
Azhar menegaskan, langkah mundur yang diambil merupakan bentuk tanggung jawab profesional demi menjaga keberlangsungan kinerja organisasi.
“Oleh karena itu, demi menjaga profesionalitas dan keberlangsungan kinerja Yayasan Sabena, saya memandang perlu untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut,” lanjutnya.
Tak lupa, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus atas kepercayaan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini. Ia berharap yayasan terus berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Sehari berselang, pengunduran diri juga disampaikan oleh Muhammad Ardha Billy yang tergabung dalam Tim Media Yayasan. Dalam surat tertanggal 18 Maret 2026, Ardha menyebut alasan serupa menjadi dasar keputusannya.
“Keputusan ini saya ambil secara sadar dan tanpa adanya paksaan maupun tekanan dari pihak manapun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan tanggung jawab dalam pekerjaan serta kesibukan di kegiatan lain membuat dirinya tidak dapat lagi memberikan kontribusi maksimal dalam tim media.
“Sebagai bentuk tanggung jawab profesional, saya menilai bahwa langkah ini adalah yang terbaik demi menjaga kualitas dan keberlangsungan kinerja tim,” tulisnya.
Ardha juga menyampaikan terima kasih atas kesempatan dan pengalaman yang diperolehnya selama menjadi bagian dari Yayasan Sabena. Ia turut memohon maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat kekurangan.
Sebelumnya, sejumlah elemen masyarakat Aceh di Malaysia mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan bantuan yang selama ini dihimpun untuk korban banjir di Aceh.
Bantuan yang awalnya dikumpulkan dengan semangat kemanusiaan itu disebut-sebut mencakup berbagai kebutuhan pokok, mulai dari minyak goreng, gula pasir, air mineral, beras, hingga tabung gas 3 kilogram di Medan. Tak hanya itu, dana tunai hasil sumbangan warga Aceh dan masyarakat Malaysia juga turut menjadi bagian dari bantuan yang kini dipersoalkan.
Keresahan mencuat setelah adanya dugaan bahwa sebagian dari barang-barang tersebut telah diperjualbelikan. Kondisi ini memicu tuntutan terbuka dari masyarakat agar ada penjelasan yang jujur, rinci, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Warga Aceh di Malaysia mendesak agar seluruh proses pengelolaan bantuan dijelaskan secara tertulis. Mereka meminta kejelasan mengenai jenis barang yang dijual, berapa jumlah keseluruhan yang dilepas, serta ke mana hasil penjualannya digunakan.
Transparansi dinilai sebagai kunci untuk menjaga integritas dan memastikan bahwa setiap rupiah serta setiap barang benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam konteks ini, dua nama turut disorot dan diminta memberikan pertanggungjawaban, yakni Saiful Bahri yang dikenal sebagai Bos Pon, serta Datok Mansyur selaku Presiden Permembam. Keduanya diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi guna meredam polemik yang berkembang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pimpinan Yayasan Sabena Aceh Malaya. [nh]