DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bantuan kemanusiaan dari Masyarakat Aceh yang ada di Malaysia sempat tertahan selama berbulan-bulan akhirnya tiba di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.
Kedatangan bantuan tersebut justru memicu konflik terbuka antara Teungku Jamaica dan pimpinan Yayasan Sabena Aceh Malaya, Saiful Bahri alias Bos Pon.
Bos Pon mengatakan bahwa dalam proses administrasi, bantuan tersebut akan dikirimkam melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara. Hal ini berdasarkan Surat dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Akan tetapi baranag tersebut dikirimkan Teungku Jamaica lewat Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.
Teungku Jamaica angkat bicara menanggapi berbagai tudingan yang dialamatkan kepadanya terkait proses pengangkutan barang bantuan.
Ia secara tegas membantah seluruh tuduhan dan menyebut pernyataan Bos Pon tidak berdasar, bahkan melontarkan kritik keras atas sikap yang dinilainya tidak rasional.
“Ini sakit jiwa Bos Pon. Seharusnya mereka berterima kasih karena barang sudah sampai di Indonesia. Tanpa campur tangan tim kami, dipastikan barang itu masih tertahan di Malaysia sampai sekarang,” ujar Teungku Jamaica.
Persoalan ini bermula dari bantuan masyarakat Aceh di Malaysia yang tertahan di Port Klang selama kurang lebih empat bulan. Dalam rentang waktu tersebut, muncul berbagai keluhan dan kekecewaan karena bantuan tidak kunjung diberangkatkan ke Indonesia.
Pihak Bos Pon SABENA bersama Datuk Mansyur dari PERMEBAM sebelumnya disebut-sebut memiliki tanggung jawab dalam proses pengiriman. Namun, hingga waktu berlarut, bantuan tersebut tak kunjung dipulangkan. Bahkan, sebagian barang dilaporkan mengalami kerusakan, kedaluwarsa, hingga diduga diperjualbelikan.
Melihat kondisi tersebut, Teungku Jamaica bersama timnya turun langsung ke Malaysia untuk memastikan keberadaan bantuan.
Meski tanpa dokumen yang selama ini disebut-sebut sebagai syarat mutlak -- yakni surat dari Menteri Keuangan -- timnya berhasil mengangkut bantuan dari Port Klang dan membawanya ke Indonesia. Sekitar dua minggu lalu, bantuan tersebut akhirnya tiba di Pelabuhan Belawan.
Alih-alih mendapatkan apresiasi, langkah Teungku Jamaica justru menuai kritik. Bos Pon SABENA mempersoalkan keputusan membawa bantuan melalui Pelabuhan Belawan, bukan Pelabuhan Krueng Geukueh di Aceh Utara seperti yang sebelumnya disarankan.
Saiful Bahri menyatakan bahwa pihaknya bersama PERMEBAM telah mengirimkan surat kepada Teungku Jamaica agar bantuan dikirim melalui Krueng Geukueh. Namun, imbauan tersebut tidak diikuti.
“Sudah kami surati agar dikirim lewat Krueng Geukueh, bukan Belawan. Tapi tetap dibawa ke Belawan oleh Tgk Jamaica,” ujar Saiful Bahri.
Menanggapi hal tersebut, Teungku Jamaica justru mempertanyakan konsistensi dan dasar tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Ia menantang pihak Bos Pon untuk membuka bukti secara transparan kepada publik.
Beberapa poin yang disorot antara lain terkait bukti komunikasi resmi, kejelasan proses serah terima bantuan, hingga kontradiksi pernyataan mengenai syarat pengiriman.
“Sebelumnya mereka bilang barang tidak bisa dibawa tanpa surat dari Menteri Keuangan. Tapi sekarang barang sudah sampai di Belawan. Ini kan kontradiktif,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima mandat resmi sebagaimana yang dituduhkan. “Kalau memang saya yang bertanggung jawab penuh, mana bukti serah terima? Mana komunikasi resminya? Jangan asal bicara,” tambahnya.
Dalam nada emosional, Teungku Jamaica menggambarkan situasi ini dengan istilah lokal Aceh, “lagee leumo ta peutingoh lam mon”, yang berarti seperti sapi yang ditolong dari sumur namun justru merugikan penolongnya.
Ia menilai upaya penyelamatan bantuan yang dilakukan timnya tidak dihargai, bahkan berbalik menjadi tuduhan.
“Fakta bahwa barang sudah sampai itu tidak bisa dibantah. Kami bekerja tanpa fasilitas dan tanpa surat yang mereka banggakan, tapi hasilnya nyata,” tegasnya. [nh]