Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Dialog / Prof Rustam Effendi Bicara Terus Terang Soal Masa Depan Sabang

Prof Rustam Effendi Bicara Terus Terang Soal Masa Depan Sabang

Minggu, 22 Februari 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Prof. Dr. Rustam Effendi, SE, M.Econ , Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, sekaligus anggota Dewan Ekonomi Aceh. [Foto: Dokpri/HO]


DIALEKSIS.COM | Dialog - Sabang kerap disebut sebagai gerbang barat Indonesia dengan posisi strategis di jalur pelayaran internasional. Potensi wisata bahari, perikanan, hingga status kawasan perdagangan bebas menjadikan kota ini menyimpan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Aceh. 

Namun, di balik potensi itu, masih terdapat berbagai tantangan tata kelola, infrastruktur, regulasi, hingga keberlanjutan lingkungan yang perlu dibenahi secara serius dan terintegrasi.

Sebagai akademisi senior dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), sekaligus anggota Dewan Ekonomi Aceh, Prof. Dr. Rustam Effendi, SE, M.Econ dikenal luas sebagai pemikir ekonomi pembangunan yang konsisten mendorong transformasi struktural ekonomi Aceh.

Dalam wawancara eksklusif bersama Dialeksis, Prof. Rustam membahas arah pembangunan ekonomi Aceh, posisi strategis Sabang, hingga rekomendasi kebijakan konkret agar Sabang tumbuh sebagai kawasan maritim dan pariwisata berkelanjutan yang berdaya saing global.

Bagaimana Anda melihat posisi strategis Sabang dalam peta ekonomi Aceh dan nasional?

Sabang memiliki keunggulan geografis yang sangat langka. Ia berada di titik nol kilometer Indonesia, berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional. Dalam teori ekonomi regional, lokasi seperti ini disebut strategic maritime gateway. Artinya, Sabang berpotensi menjadi simpul logistik, perdagangan bebas, sekaligus pusat jasa maritim.

Namun, potensi tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Diperlukan konsistensi kebijakan, infrastruktur memadai, serta tata kelola yang efisien agar Sabang benar-benar berfungsi sebagai hub maritim, bukan sekadar simbol geopolitik.

Bagaimana kondisi ekonomi dan infrastruktur Sabang saat ini menurut Anda?

Struktur ekonomi Sabang masih bertumpu pada tiga sektor utama: pariwisata, perikanan, dan aktivitas pelabuhan. Ketiganya memiliki prospek baik, tetapi masih menghadapi keterbatasan kapasitas.

Pelabuhan Balohan terus mengalami perbaikan, tetapi untuk skala internasional masih membutuhkan penguatan sistem logistik dan fasilitas bongkar muat modern. Bandara Maimun Saleh juga memiliki keterbatasan panjang landasan dan fungsi operasional.

Masalah utama bukan hanya fisik infrastruktur, tetapi sinkronisasi perencanaan antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Sabang, dan BPKS. Tanpa orkestrasi yang kuat, pembangunan berjalan parsial dan lambat.

Bagaimana Anda melihat potensi dan tantangan pariwisata Sabang?

Sabang memiliki keunggulan komparatif luar biasa di sektor wisata bahari: terumbu karang kelas dunia, spot diving internasional, serta kekayaan budaya lokal.

Namun, tantangan besarnya adalah kualitas tata kelola destinasi. Standar pelayanan, sertifikasi pemandu selam, pengelolaan sampah, hingga zonasi wisata masih perlu diperkuat. Kita tidak boleh mengejar kuantitas wisatawan tanpa menjaga daya dukung lingkungan.

Konsep sustainable tourism harus menjadi arus utama. Jika dikelola serius, Sabang bisa menjadi ikon wisata halal dan bahari di Indonesia bagian barat.

Bagaimana dengan aspek konservasi lingkungan laut Sabang?

Konservasi adalah syarat mutlak. Sabang memiliki ekosistem laut yang rentan terhadap pemanasan global dan aktivitas manusia. Pemutihan karang (coral bleaching) adalah ancaman nyata.

Saya melihat inisiatif transplantasi karang dan pelibatan komunitas lokal sebagai langkah positif. Ke depan, kebijakan zonasi laut harus diperjelas. Kawasan konservasi tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan jangka pendek.

Ekonomi biru (blue economy) harus menjadi paradigma. Artinya, pemanfaatan sumber daya laut dilakukan tanpa merusak keberlanjutannya.

Apa kendala utama pengembangan Sabang dari sisi regulasi dan kelembagaan?

Sabang memiliki status unik sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas, sementara Aceh memiliki otonomi khusus. Di sinilah sering terjadi friksi regulasi.

Koordinasi pusat-daerah harus diperkuat melalui forum tetap lintas kementerian dan pemerintah daerah. Selain itu, perlu sistem pelayanan investasi satu pintu yang benar-benar terintegrasi agar investor tidak menghadapi tumpang-tindih perizinan.

Transparansi dan kepastian hukum adalah faktor kunci menarik investasi.

Bagaimana Sabang dapat memanfaatkan posisi geopolitiknya?

Sabang dapat dikembangkan sebagai pusat logistik maritim dan industri ringan berbasis kelautan. Misalnya pengolahan hasil laut, perikanan ekspor, serta jasa perkapalan.

Jika dikelola serius, Sabang bisa menjadi titik transshipment regional. Namun, ini membutuhkan investasi besar, stabilitas keamanan, serta kepastian regulasi.

Kita harus berpikir dalam horizon 20 - 30 tahun, bukan sekadar program tahunan.

Bagaimana peluang investasi hijau di Sabang?

Sabang sangat cocok untuk energi terbarukan seperti tenaga surya. Selain itu, rehabilitasi mangrove dapat dikaitkan dengan skema carbon credit.

Model Public–Private Partnership (PPP) bisa digunakan untuk proyek pengelolaan limbah, energi bersih, dan konservasi pesisir. Investor global saat ini sangat memperhatikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance). Sabang harus memposisikan diri sebagai kawasan investasi hijau.

Apa rekomendasi kebijakan konkret agar Sabang berkembang lebih cepat?

Saya mengusulkan beberapa langkah strategis dimulai dari membuat Rencana Induk Terpadu Sabang lintas pemerintah dengan indikator terukur. Jika sudah ada apakah sudah berjalan dan berdampak jika belum wajib di pertimbangkan usulan tersebut. Selain itu penting dibuat bersama pemerintah pusat skema pendanaan khusus berbasis matching fund pusat-daerah.

Hal lain perlu dibuat desk percepatan Sabang atau satgas lintas kementerian, insentif fiskal terbatas waktu bagi industri bersih dan investor strategis, dan terpenting penguatan SDM lokal melalui pendidikan vokasi maritim dan pariwisata.

Tanpa target kuantitatif dan timeline jelas, pembangunan akan stagnan.

Bagaimana peran masyarakat lokal dalam pembangunan Sabang?

Masyarakat Sabang harus menjadi subjek, bukan objek pembangunan. Setiap proyek besar perlu kajian dampak sosial yang transparan. Porsi tenaga kerja lokal harus diprioritaskan.

Pengembangan UMKM pariwisata dan kelautan juga penting. Pendidikan vokasi di bidang perhotelan, diving, dan perikanan harus diperkuat agar SDM Sabang kompetitif.

Indikator apa yang dapat menjadi tolok ukur keberhasilan Sabang?

Indikator harus terukur, misalnya; pertumbuhan PAD Sabang minimal 5% per tahun, penurunan angka kemiskinan dalam 5 tahun, peningkatan volume ekspor perikanan, kenaikan jumlah wisatawan mancanegara, dan realisasi investasi bersih dalam 3 tahun. Evaluasi harus dilakukan per semester dengan transparansi publik.

Saran anda kepada BPKS Seperti apa?

BPKS seharusnya menjadi lokomotif yang mampu meningkatkan daya tarik kawasan ini agar dapat tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan. Perannya sangat strategis dalam mendorong percepatan pemanfaatan potensi pulau dan kawasan Sabang yang memiliki posisi geografis yang begitu penting.

Karena itu, pengelolaan BPKS perlu direvitalisasi dengan memperkuat tata kelola yang lebih efektif, adaptif, dan cerdas. Mereka yang mengisi entitas ini harus benar-benar memiliki kapasitas teknis dan manajerial yang kuat, disertai talenta bisnis serta jaringan (networking) yang luas. Tanpa kualitas tersebut, BPKS tidak akan pernah mampu bergerak lebih leluasa dan progresif. Berisiko hanya menjadi lembaga biasa yang minim terobosan dan terjebak dalam rutinitas semata.

Perlu dicermati pula bahwa tantangan dan prospek kinerja makroekonomi global ke depan tidak lagi mudah. Dalam situasi yang semakin kompetitif dan penuh ketidakpastian ini, dibutuhkan kepemimpinan yang visioner, profesional, dan berorientasi pada hasil agar BPKS benar-benar dapat menjalankan perannya sebagai penggerak utama pertumbuhan kawasan.

Apa pesan penutup Anda untuk masa depan Sabang?

Sabang adalah anugerah strategis bagi Aceh dan Indonesia. Tetapi potensi tanpa eksekusi hanyalah retorika.

Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, Pemko Sabang, investor, akademisi, dan masyarakat untuk membangun Sabang dengan visi jangka panjang, integritas, dan keberlanjutan.

Jika tata kelola diperbaiki dan kolaborasi diperkuat, saya yakin Sabang bisa menjadi model pengembangan kawasan terluar yang sukses, adil, dan berwawasan lingkungan.

Sabang harus menjadi pintu gerbang Indonesia yang maju sekaligus berbudaya. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI