DIALEKSIS.COM | Dialektika - Penelusuran redaksi atas empat publikasi Dialeksis menunjukkan bahwa narasi yang langsung menempatkan Fakultas Pertanian sebagai pemicu utama pembakaran justru perlu diuji ulang.
Dari versi demisioner Ketua BEM FP, laporan polisi, hingga keterangan Ketua BEM Teknik, yang tampak bukan satu alur tunggal, melainkan rentetan konflik dengan pelaku awal yang kabur, mediasi yang berulang, pengamanan yang bolong, dan kebakaran yang masih menyisakan pertanyaan tentang titik api pertama.
Laporan cepat ini disusun hanya dari empat artikel Dialeksis yang dilampirkan pembaca meliputi laporan kronologi Ketua BEM Teknik, penjelasan demisioner Ketua BEM FP, laporan penyelidikan awal polisi, dan berita pemeriksaan 15 saksi. Karena itu, setiap simpulan di bawah ini dibatasi ketat pada fakta yang sudah dipublikasikan Dialeksis, tanpa menambahkan fakta baru di luar sumber tersebut.
Bila empat laporan itu dibaca berdampingan, posisi Fakultas Pertanian justru tampak lebih dekat sebagai pihak yang mengalami eskalasi beruntun, bukan sebagai provokator yang sudah pasti.
Dalam laporan “Demisioner Ketua BEM FP USK Beberkan Awal Mula Kericuhan Antar Fakultas”, Silva Riskandi menegaskan situasi mula-mula “Situasi awalnya biasa saja” dan kemudian memburuk setelah lemparan batu dari massa campuran melukai mahasiswa Pertanian.
Ia juga menyebut pelaku pelemparan tidak diketahui karena massa “bercampur” dan bahkan ada unsur eksternal. Keterangan ini penting karena mengaburkan tuduhan bahwa inisiatif kekerasan sejak awal datang secara jelas dan terorganisir dari Pertanian.
Lebih jauh, laporan yang sama memperlihatkan upaya damai dari pihak Pertanian lima mahasiswa FP datang meminta maaf, permintaan itu disebut ditolak dua kali, ajakan “satu lawan satu” juga tidak diterima pihak FP, lalu mediasi lanjutan digelar hingga tercapai kesepakatan untuk membubarkan diri.
Dalam versi polisi, justru disebut bahwa setelah dua mahasiswa Teknik terluka, sejumlah mahasiswa Teknik diduga melakukan aksi balasan ke Fakultas Pertanian dengan melempar batu dan membawa bom molotov. Dengan susunan fakta seperti ini, narasi yang menuduh Pertanian sebagai pemantik tunggal jelas terlalu prematur.
Kronologi yang menguatkan posisi Pertanian
Versi yang paling lengkap dari sisi Pertanian termuat dalam laporan Dialeksis tentang Silva Riskandi. Setelah aksi JKA pada 18 Mei 2026, massa berhenti di depan Sekretariat BEM USK. Menurut Silva, situasi awal tidak tegang, lalu berubah setelah interaksi verbal di sekretariat dan pelemparan batu yang mengenai mahasiswa Pertanian hingga luka berdarah. Di tengah kekacauan itu, Silva menekankan pelaku pelemparan “Tidak diketahui siapa pelaku pelemparan” karena massa bercampur dan ada pihak eksternal. Setelah kaca sekretariat rusak, lima mahasiswa FP disebut datang meminta maaf dan berupaya mediasi. Itu menunjukkan langkah awal dari pihak Pertanian justru berupa peredaan, bukan pengorganisasian serangan.
Keterangan Silva lalu mengarah pada pola eskalasi yang merugikan Pertanian. Ia menyebut permintaan maaf ditolak, lalu ada ajakan duel yang “pihak Fakultas Pertanian menolak”. Setelah itu, menurutnya, beberapa mahasiswa Teknik melakukan pengeroyokan dan penganiayaan hingga dosen datang menghentikan situasi.
Mediasi kembali berlangsung, dan sekitar pukul 22.45 WIB dicapai kesepakatan bahwa “kedua pihak membubarkan diri”. Namun dini hari 21 Mei, setelah provokasi baru dan bentrokan lempar-melempar di sekitar Teknik, polisi datang dan disebut menyatakan aparat akan menjaga kampus. Justru setelah sebagian besar mahasiswa Pertanian telah membubarkan diri, massa dari Teknik disebut kembali bergerak ke kawasan Pertanian; dari sana, menurut Silva, peristiwa berujung pada “penyerangan, penjarahan, dan pembakaran” di lingkungan FP.
Kutipan kunci dari empat laporan Dialeksis
Ada beberapa kutipan yang, bila diletakkan bersama, menguatkan kebutuhan untuk menguji ulang tuduhan terhadap FP. Dari artikel Silva: “Situasi awalnya biasa saja”, lalu “Tidak diketahui siapa pelaku pelemparan”, dan “pihak Fakultas Pertanian menolak” ajakan satu lawan satu. Dari laporan polisi menyebutkan setelah mahasiswa Teknik terluka, ada dugaan “aksi balasan ke Fakultas Pertanian”. Sementara dari versi Ketua BEM Teknik, ketika mahasiswa Teknik tiba di kawasan Pertanian, kondisi di lokasi disebut sudah ada kobaran api. Rangkaian kutipan ini tidak otomatis membebaskan siapa pun, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan bahwa tuduhan tunggal terhadap Pertanian perlu dibaca ulang dengan kepala dingin.
Kejanggalan pertama terletak pada siapa pemicu awal. Dalam artikel Ketua BEM Teknik, yang disebut menyerang Fakultas Teknik adalah “oknum massa” dan kemudian “sekitar 70 orang oknum” berhelm serta bermasker. Dalam artikel Silva, pelempar batu pertama juga tidak dapat diidentifikasi karena massa bercampur dan ada unsur eksternal.
Dua sumber Dialeksis ini, meski berbeda posisi, justru bertemu pada satu titik yaitu pelaku awal tidak digambarkan secara terang sebagai blok mahasiswa Pertanian yang jelas identitasnya. Itu menguatkan dugaan bahwa narasi yang menyederhanakan perkara menjadi “Pertanian menyerang duluan” belum kokoh.
Kejanggalan kedua adalah upaya damai yang berulang tetapi gagal melindungi FP. Sumber Dialeksis menyebut ada dua kali permintaan maaf dari pihak Pertanian, penolakan atas ajakan duel, mediasi malam hari, dan kesepakatan untuk membubarkan diri. Jika alur ini akurat, maka posisi FP dalam kronologi lebih banyak tampil sebagai pihak yang mencoba menutup konflik, bukan memperbesar. Karena itu, ketika pembakaran justru terjadi di lingkungan yang mereka tinggalkan setelah pembubaran, publik berhak bertanya mengapa narasi tentang mediasi ini tidak mendapat bobot yang sama besarnya dalam pembacaan kasus.
Kejanggalan ketiga menyangkut fase api dan pengamanan. Silva menyebut polisi datang, meminta mahasiswa pulang, dan menyatakan aparat yang akan menjaga kampus. Namun beberapa saat setelah situasi disebut mereda dan sebagian besar mahasiswa Pertanian membubarkan diri, justru terjadi penyerangan ke kawasan Pertanian yang berujung kebakaran.
Pada sisi lain, Ketua BEM Teknik mengatakan ketika mahasiswa Teknik tiba di kawasan Pertanian, kobaran api sudah terlihat. Dua fakta ini menimbulkan pertanyaan besar, kapan tepatnya titik api pertama muncul, di area mana, dan bagaimana bisa kebakaran besar terjadi setelah ada klaim pengamanan aparat?
Kejanggalan keempat ada pada transparansi penyidikan. Dalam artikel pemeriksaan saksi, polisi menyebut 15 saksi telah diperiksa: 13 mahasiswa, seorang dosen, dan seorang pelapor. Artikel itu juga menyebut 13 mahasiswa tersebut didampingi Wakil Dekan Fakultas Teknik, tetapi tidak merinci berasal dari fakultas mana saja 13 mahasiswa tersebut.
Pada saat yang sama, laporan polisi yang menjadi dasar pemeriksaan justru dibuat oleh pihak Fakultas Pertanian. Fakta-fakta ini belum cukup untuk menilai keseimbangan pemeriksaan; justru karena itu, daftar komposisi saksi per fakultas menjadi penting untuk dibuka secara transparan.
Tabel perbandingan klaim utama
Berikut tabel singkat yang membandingkan klaim utama versi Pertanian dengan versi Teknik/Polisi berdasarkan empat sumber Dialeksis.
Dari empat laporan Dialeksis, satu hal tampak jelas: Fakultas Pertanian adalah lokasi yang mengalami kerusakan paling besar, sedangkan pelaku awal, urutan pasti pembakaran, dan distribusi tanggung jawab pidana belum terang sepenuhnya. Karena itu, penelusuran ini mengarah pada kesimpulan sementara bahwa posisi FP lebih layak dibaca sebagai pihak yang harus dibela secara proporsional, setidaknya sampai penyidikan forensik dan pemeriksaan saksi dibuka lebih transparan.
Pertanyaan terbuka yang wajib dijawab penyelidikan lanjutan ialah:
• Siapa pelaku pelemparan batu pertama pada 18 Mei, ketika sumber Dialeksis sendiri menyebut massa bercampur dan ada unsur eksternal?
• Mengapa permintaan maaf dan dua putaran mediasi tidak mampu menghentikan eskalasi hingga pembakaran justru terjadi di lingkungan FP?
• Jika polisi disebut sudah mengambil alih pengamanan, di titik mana pengawasan jebol sehingga massa bisa masuk dan membakar fasilitas FP?
• Kapan dan di mana sumber awal api muncul, mengingat versi Ketua BEM Teknik menyebut kobaran api sudah tampak ketika mereka tiba di kawasan Pertanian?
• Dari fakultas mana saja 13 mahasiswa saksi itu berasal, dan mengapa komposisi itu belum dijelaskan dalam laporan yang sudah dipublikasikan?
Penutupnya tegas dari penelusuran Dialeksis penyidik perlu segera membuka hasil uji laboratorium forensik, mempublikasikan secara proporsional komposisi saksi per fakultas, dan merekonstruksi menit demi menit fase sebelum kebakaran. Tanpa itu, narasi yang menyudutkan Fakultas Pertanian akan terus berdiri di atas kronologi yang belum utuh--padahal dari empat laporan Dialeksis sendiri, justru terdapat cukup banyak tanda bahwa tuduhan terhadap Pertanian perlu diuji ulang secara serius. [arn]