Minggu, 31 Mei 2026
Beranda / Data / Melayu, Bugis, atau Cina? Menelusuri Status Asal Hang Tuah dari Naskah Klasik

Melayu, Bugis, atau Cina? Menelusuri Status Asal Hang Tuah dari Naskah Klasik

Sabtu, 30 Mei 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi Hang Tuah. Foto: republika.co.id


DIALEKSIS.COM | Aceh - Perdebatan tentang asal-usul Hang Tuah kembali mencuat di ruang publik. Sosok laksamana legendaris Kesultanan Melaka itu kerap diklaim berasal dari Melayu, disebut memiliki garis Bugis-Makassar, bahkan ada pula narasi populer yang mengaitkannya dengan keturunan Cina.

Namun, penelusuran Dialeksis terhadap sejumlah informasi naskah klasik dan kajian akademik menunjukkan satu hal penting: status Hang Tuah tidak bisa disederhanakan hanya dalam satu klaim etnis. Dalam tradisi besar Nusantara, Hang Tuah adalah ikon kepahlawanan Melayu-Melaka. Tetapi jika ditelusuri dari sumber naskah, asal-usul biologisnya memang memiliki beberapa versi.

Rujukan utama pertama adalah Hikayat Hang Tuah, naskah klasik yang diakui UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World. Jabatan Warisan Negara Malaysia menyebut hikayat ini sebagai karya sastra klasik Melayu dan epik tradisional Melayu yang dikenal luas di Alam Melayu. Dalam naskah ini, Hang Tuah digambarkan sebagai pahlawan Melayu Melaka yang melambangkan kesetiaan, kepahlawanan, dan keberanian orang Melayu.

Dalam kajian V.I. Braginsky berjudul Hikayat Hang Tuah: Malay Epic and Muslim Mirror, Hang Tuah disebut sebagai anak dari keluarga miskin dari Sungai Duyung. Braginsky juga menegaskan hikayat ini merupakan epik kepahlawanan-historis Melayu, tetapi tidak sepenuhnya dapat diperlakukan sebagai dokumen sejarah faktual karena sarat unsur sastra, simbolik, dan pesan moral.

Karena itu, versi Melayu dalam Hikayat Hang Tuah menempatkan Hang Tuah sebagai anak Hang Mahmud dan Dang Merdu dari Sungai Duyung, yang kemudian tumbuh menjadi tokoh utama dalam dunia politik dan militer Melaka. Dalam kerangka ini, status Hang Tuah sebagai “pahlawan Melayu” sangat kuat secara kebudayaan.

Namun, versi berbeda muncul dalam Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu. Dalam naskah yang disunting A. Samad Ahmad, Hang Tuah disebut berasal dari Daeng Merupawah. Teks itu menyebut Sultan Mansur Syah menamai Daeng Merupawah sebagai Hang Tuah. “Maka Daeng Merupawah itu dinamai baginda Hang Tuah, itulah asal Hang Tuah,” demikian bunyi naskah tersebut.

Rujukan lain dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia Jilid II yang diterbitkan melalui repositori UIN Jakarta juga menguatkan versi Sulalatus Salatin. Disebutkan, Raja Goa memberi hadiah kepada Sultan Mansyur Syah seorang anak Raja Bajung, Sulawesi, bernama Daeng Merupawah. Setelah berada di Melaka, Daeng Merupawah berguru ilmu hulubalang dan kemudian dianugerahi nama Hang Tuah.

Dari sini, klaim “Bugis” perlu dibaca lebih hati-hati. Sumber klasik lebih tepat menyebutnya sebagai versi Sulawesi Selatan/Mengkasar-Gowa/Bajung, bukan secara otomatis Bugis. Gowa secara historis lebih dekat dengan tradisi Makassar, meski dalam percakapan populer sering disederhanakan sebagai Bugis.

Adapun klaim bahwa Hang Tuah berdarah Cina merupakan versi paling lemah secara sumber. Akademisi dan sastrawan Muhammad Haji Salleh dalam kajiannya Hang Tuah in the Sea of Oral Malay Narratives mencatat bahwa klaim Cina banyak muncul dari tafsir populer di internet, terutama karena kata “Hang” dianggap mirip nama keluarga Cina seperti Heng, Hing, atau Hong. Namun, ia menjelaskan bahwa “Hang” dalam tradisi Melayu lama lebih tepat dipahami sebagai gelar atau awalan titulatur bagi laki-laki dan hulubalang zaman Melaka, bukan bukti marga Cina.

Muhammad Haji Salleh juga menegaskan, problem utama klaim Cina adalah tidak adanya bukti keras dalam catatan sejarah maupun kronologi Melaka yang mendukung bahwa Hang Tuah lahir dari orang tua Cina yang datang ke Melaka.

Perdebatan tentang keberadaan Hang Tuah sebagai tokoh sejarah juga belum sepenuhnya selesai. Sejumlah kajian modern mencoba menghubungkan Hang Tuah dengan catatan luar, seperti Rekidai Hōan dari Ryukyu dan The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque. Dalam Jurnal Melayu Sedunia, Hashim Musa dan peneliti lain mengutip catatan Afonso de Albuquerque tentang seorang “Lassamane” atau Laksamana Melaka berusia 80 tahun pada saat penaklukan Melaka 1511. Tokoh itu disebut sebagai prajurit bereputasi baik dan berpengetahuan luas.

Namun, catatan luar tersebut tetap perlu dibaca secara kritis. Ia memperkuat dugaan adanya figur laksamana Melaka yang historis, tetapi tidak selalu menyebut nama “Hang Tuah” secara eksplisit. Artinya, bukti itu penting, tetapi belum menjadi “akta kelahiran” yang menutup seluruh perdebatan.

Dengan demikian, kesimpulan paling aman secara akademik adalah: Hang Tuah merupakan tokoh laksamana Melayu-Melaka dalam tradisi sejarah dan sastra Nusantara. Versi Hikayat Hang Tuah menempatkannya sebagai anak Hang Mahmud dari Sungai Duyung. Versi Sulalatus Salatin menyebutnya Daeng Merupawah dari Bajung/Gowa, Sulawesi Selatan, yang kemudian diberi nama Hang Tuah oleh Sultan Mansur Syah. Sementara klaim keturunan Cina belum memiliki dasar kuat dari sumber primer.

Karena itu, menyebut Hang Tuah “Cina” sebagai fakta sejarah tidak cukup valid. Menyebutnya “Bugis” juga perlu kehati-hatian, sebab sumber klasik lebih dekat pada narasi Gowa/Makassar/Sulawesi Selatan. Yang paling kuat dan paling luas diterima adalah status Hang Tuah sebagai pahlawan Melayu-Melaka, sementara asal biologisnya tetap menjadi ruang kajian terbuka dalam historiografi Nusantara.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI