Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Tiga Bulan Pascabencana, Penyintas di Aceh Tamiang Masih Menunggu Kepastian Rehab Rekon

Tiga Bulan Pascabencana, Penyintas di Aceh Tamiang Masih Menunggu Kepastian Rehab Rekon

Rabu, 25 Februari 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Hendra Vramenia, Warga Aceh Tamiang sekaligus penyintas banjir. [Foto: Dokpri/HO]


DIALEKSIS.COM | Karang Baru - Tiga bulan setelah bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang, nasib para penyintas belum sepenuhnya pulih. Sejumlah warga masih bertahan di pengungsian darurat, menunggu kejelasan status rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) rumah mereka yang rusak.

Salah satunya adalah Hendra Vramenia, warga terdampak yang hingga kini masih menumpang di orang tuanya di Kampung Upah Kecamatan Bendahara. Ia mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai perbaikan atau pembangunan kembali rumahnya yang rusak akibat bencana.

“Sudah tiga bulan sejak bencana, kami masih mengungsi di rumah mamak di Opak. Sampai hari ini belum ada kejelasan kapan rumah kami akan direhab atau dibangun kembali,” ujar Hendra dengan nada lirih kepada Dialeksis, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, kondisi ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga menyangkut kepastian hidup keluarganya ke depan. Ia mengatakan, selama tiga bulan terakhir keluarganya harus berbagi ruang dengan sanak saudara, dengan segala keterbatasan yang ada.

“Kami sangat bersyukur keluarga menerima kami dengan baik. Tapi tentu tidak mungkin selamanya begini. Anak-anak butuh ruang yang layak, butuh kepastian. Kami juga ingin segera bangkit dan kembali menata hidup,” tambahnya.

Hendra berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera memberikan informasi yang jelas terkait pendataan kerusakan, mekanisme bantuan, serta jadwal pelaksanaan rehab rekon. Ia menilai, yang paling menyulitkan bukan hanya kerusakan fisik rumah, melainkan ketidakpastian yang berlarut-larut.

“Kalau memang ada tahapan yang harus dilalui, sampaikan kepada kami secara terbuka. Jangan biarkan kami menunggu tanpa kabar. Tiga bulan itu bukan waktu yang singkat bagi korban bencana,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah penyintas lainnya di beberapa titik terdampak masih berada dalam kondisi serupa”menumpang di rumah keluarga, tinggal di hunian sementara yang belum memadai, atau bertahan dengan fasilitas seadanya.

“Kami tidak ingin hanya diingat saat bencana terjadi dan ramai diberitakan. Setelah itu seolah-olah semua sudah selesai. Padahal kami masih berjuang setiap hari,” ucap Hendra.

Para penyintas berharap pemerintah dapat mempercepat proses verifikasi dan realisasi bantuan, sehingga mereka tidak terus terombang-ambing dalam ketidakpastian. Bagi mereka, rehab rekon bukan sekadar pembangunan fisik rumah, tetapi simbol harapan untuk memulai kembali kehidupan yang sempat porak-poranda akibat bencana. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI