Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Air Bersih dan Sanitasi Masih Jadi Masalah di Pengungsian Banjir Aceh

Air Bersih dan Sanitasi Masih Jadi Masalah di Pengungsian Banjir Aceh

Rabu, 25 Februari 2026 18:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Sejumlah pengungsi banjir sedang mengantri air bersih di Aceh Utara. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Koordinator Lapangan Yayasan Geutanyoe, Iskandar, mengatakan bahwa persoalan sanitasi dan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan utama di sejumlah titik terdampak.

Sanitasi dan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan utama di sejumlah titik terdampak. Oleh karena itu, dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, dapat hidup lebih sehat dan aman selama masa pemulihan,” ujar Iskandar kepada media dialeksis.com, Rabu (25/2/2026)

Memasuki Februari 2026, sebagian sumber air masyarakat seperti sumur gali dan jaringan air rumah tangga masih belum pulih sepenuhnya.

Risiko pencemaran akibat lumpur dan limbah sisa banjir membuat warga harus berhati-hati dalam mengonsumsi air untuk kebutuhan sehari-hari, terutama untuk minum dan memasak.

Sebagai bentuk respons berkelanjutan terhadap kondisi tersebut, Yayasan Geutanyoe kembali melaksanakan distribusi air bersih siap minum sepanjang Februari 2026. Kegiatan ini menyasar empat desa terdampak banjir, yakni Desa Matang Serdang dan Desa Matang Seuke Pulot di Kecamatan Tanah Jamboe Aye, serta Desa Alue Anoe Timu dan Desa Alue Anoe Barat di Kecamatan Baktiya.

Selama Februari, distribusi dilakukan sebanyak delapan kali penyaluran dengan kapasitas 2.000 liter setiap distribusi. Total air bersih siap minum yang telah disalurkan mencapai 16.000 liter.

Berdasarkan asumsi kebutuhan air minum sebesar 19 liter per kepala keluarga (KK), bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 842 KK atau setara dengan 2.526 jiwa masyarakat terdampak banjir.

Iskandar menyebutkan, distribusi ini menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya penyakit berbasis air, seperti diare dan infeksi kulit, yang kerap meningkat pascabencana.

“Air bersih adalah kebutuhan paling dasar. Tanpa itu, risiko gangguan kesehatan akan semakin besar, terutama bagi anak-anak dan lansia,” tambahnya.

Selain distribusi air minum, Yayasan Geutanyoe juga menyerahkan satu unit tangki air berkapasitas 1.000 liter kepada masyarakat Desa Alue Anoe Barat, Kecamatan Baktiya. Tangki tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan umum warga selama bulan Ramadan.

Keberadaan tangki air ini diharapkan dapat mendukung aktivitas ibadah serta pemenuhan kebutuhan air bersih harian di tengah keterbatasan akses terhadap sumber air layak konsumsi.

“Momentum Ramadan membuat kebutuhan air bersih meningkat, baik untuk berwudhu, memasak, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya. Kami berharap tangki ini bisa membantu meringankan beban warga,” kata Iskandar.

Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Yayasan Geutanyoe juga membangun Ruang Ramah Anak di Desa Alue Anoe Timu, Kecamatan Baktiya. Ruang ini dirancang sebagai tempat aman dan nyaman bagi anak-anak terdampak banjir untuk bermain, belajar, serta mendapatkan dukungan psikososial.

Selama Februari 2026, kegiatan dukungan psikososial telah dilaksanakan sebanyak delapan kali di keempat desa terdampak. Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan masyarakat umum sebagai bagian dari pemulihan kondisi mental dan emosional pascabencana.

Iskandar menekankan bahwa dampak bencana tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga meninggalkan trauma, terutama pada anak-anak.

“Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan diri dan memulihkan rasa percaya diri mereka. Pemulihan mental sama pentingnya dengan pemulihan infrastruktur,” tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI