Sabtu, 06 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sering Gagal Panen Akibat Banjir, Petani Aceh Utara Minta Krueng Ujong Pancu Dinormalisasi

Sering Gagal Panen Akibat Banjir, Petani Aceh Utara Minta Krueng Ujong Pancu Dinormalisasi

Jum`at, 05 Juni 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Kondisi Krueng Ujong Pancu yang berada di sekitar jalan lingkar kawasan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Arun. [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Harapan pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan nasional dinilai akan sulit tercapai jika persoalan banjir yang terus berulang di sejumlah kawasan pertanian Aceh Utara tidak segera ditangani.

Salah satu penyebab utama yang dikeluhkan petani yakni kondisi Krueng Ujong Pancu yang semakin dangkal akibat sedimentasi dan belum pernah dinormalisasi secara menyeluruh.

Para petani kini mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk segera melakukan pengerukan dan normalisasi sungai yang melintasi sejumlah kecamatan tersebut.

Selain menjadi jalur aliran air utama, Krueng Ujong Pancu juga berperan penting dalam menopang aktivitas pertanian dan perikanan masyarakat.

Salah seorang petani dari Desa Cot Untung, Kecamatan Nisam, Abdul Mutalib, mengatakan kondisi sungai saat ini sudah sangat memprihatinkan. Endapan lumpur dan sedimentasi yang terus menumpuk membuat daya tampung sungai semakin berkurang.

Menurutnya, Krueng Ujong Pancu merupakan aliran sungai yang menghubungkan wilayah Kecamatan Kuta Makmur, Nisam hingga bermuara di Kecamatan Dewantara.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sungai tersebut semakin dangkal sehingga tidak lagi mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.

"Yang kami lihat sekarang sungai ini sudah sangat dangkal dan banyak sedimentasi. Air sungai bahkan hampir mendekati badan jalan di sekitar jalan lingkar kawasan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Arun. Kondisi ini sangat berbahaya karena sedikit saja hujan deras, air langsung meluap," ujar Abdul Mutalib kepada wartawan dialeksis.com, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, setiap kali terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu, banjir hampir selalu terjadi di kawasan pertanian sepanjang aliran sungai tersebut. Luapan air kemudian merendam areal persawahan yang tersebar di Kecamatan Kuta Makmur dan Nisam.

Akibatnya, para petani harus menanggung kerugian besar karena tanaman padi yang sedang memasuki masa pertumbuhan maupun menjelang panen rusak terendam air.

Abdul Mutalib mengaku dirinya sudah berulang kali mengalami gagal panen akibat banjir yang berasal dari luapan Krueng Ujong Pancu.

Dalam satu tahun, ia biasanya menanam padi beberapa kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memperoleh penghasilan. Namun ketika banjir datang, seluruh harapan itu sirna dalam waktu singkat.

"Saya sudah sering mengalami kerugian. Saat padi mulai bagus, tiba-tiba banjir datang dan sawah terendam. Akhirnya gagal panen dan rugi total. Setelah air surut, kami harus menanam kembali dari awal. Ini terus berulang hampir setiap tahun," katanya.

Tidak hanya petani sawah, dampak pendangkalan sungai juga dirasakan para petani tambak di wilayah Kecamatan Dewantara. Aliran sungai yang terganggu menyebabkan sistem drainase alami tidak berjalan optimal sehingga kawasan tambak ikut terdampak ketika terjadi luapan air.

Menurut Abdul Mutalib, persoalan ini bukan lagi masalah satu desa atau satu kecamatan, melainkan menyangkut kepentingan ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan.

Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menjadikan normalisasi Krueng Ujong Pancu sebagai program prioritas, sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di sejumlah daerah.

"Kami berharap pemerintah segera turun tangan. Sungai ini menghubungkan beberapa kecamatan dan menjadi penyangga utama kawasan pertanian. Kalau tidak segera dinormalisasi, banjir akan terus terjadi dan petani yang menjadi korban," ujarnya.

Ia menilai pengerukan dan normalisasi sungai akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Selain mengurangi risiko banjir, langkah tersebut juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan membantu menjaga ketahanan pangan daerah.

Apalagi saat ini pemerintah pusat tengah mendorong program swasembada pangan nasional melalui peningkatan produksi beras di berbagai daerah.

"Kalau sungai ini dinormalisasi, tentu akan sangat membantu petani. Sawah yang luas di kawasan Kuta Makmur, Nisam hingga Dewantara bisa lebih aman dari banjir. Ini juga sejalan dengan program swasembada pangan yang sedang digalakkan pemerintah," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI