Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Pastikan Kamtibmas Aceh Terjaga, Wali Nanggroe Panggil Kapolda Marzuki

Pastikan Kamtibmas Aceh Terjaga, Wali Nanggroe Panggil Kapolda Marzuki

Selasa, 10 Maret 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Wali Nanggroe Aceh PYM Tengku Malik Mahmud Al Haytar menerima kunjungan Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, Selasa (10/3/2026). [Foto: dok. WN Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menyambangi Wali Nanggroe Aceh PYM Tengku Malik Mahmud Al Haytar, Selasa (10/3/2026). 

“Wali ingin update informasi mengenai Aceh, terutama berkaitan Kamtibmas dan Penegakan Hukum, karena itu memanggil saya,” kata Kapolda.

Tiba pukul 11.00 WIB, Kapolda langsung disambut Wali Malik Mahmud yang didamping Staf Khususnya Dr Muhammad Raviq di pintu masuk Meuligo Wali Nanggroe, Banda Aceh. Kapolda didampingi Wakapolda Aceh Brigjen Ari Wahyu Widodo, Irwasda Polda Aceh Kombes Djoko Susilo, Dirintelkam Polda Aceh Kombes Said Anna Fauza, dan Staf Ahli Kapolda Aceh Dr Nurlis Effendi.

Pada pertemuan yang berlangsung di ruangan sayap kiri Meuligo, Wali Nanggroe memulai pembicaraan mengenai masyarakat yang terdampak banjir besar beberapa waktu lalu. 

“Saya mendapat kabar masih ada penduduk terisolasi di perkampungan yang terkena banjir itu, apakah mereka bisa dibantu, mengingat Kapolda memiliki banyak anggotanya di seluruh pelosok,” Wali Nanggroe bertanya kepada Kapolda.

Kapolda Marzuki menjelaskan, pada dasarnya seluruh korban banjir akan mendapatkan hunian tetap. “Sementara ini, mereka diberikan hunian sementara, plus uang tunggu sekitar Rp 600 ribu per bulan,” kata Kapolda. “Mereka yang masih terisolasi tentu kami bantu untuk membawanya ke hunian sementara. Jika nanti ada berbagai informasi, kami dengan senang hati membantunya.”

Diskusi kemudian berlanjut ke dampak yang lebih jauh, yaitu mengenai kemungkinan meningkatnya kriminalitas sebagai dampak banjir. 

“Mereka sedang kesusahan, ini dapat mendorong mereka bertindak demikian. Misalnya berpindah ke perkotaan atau ke tempat lain, bukankah demikian,” Wali kembali bertanya.

Perkiraan Wali Nanggroe, menurut Kapolda Marzuki, sangat besar kemungkinannya. Namun menurut Kapolda, kemungkinan kriminalitas itu akan berkolerasi dengan pergeseran warga terdampak itu terbagi dalam tiga golongan.

“Yang ekonominya lemah akan tetap di kampungnya, yang ekonominnya di atasnya merantau ke kota di Banda Aceh misalnya, yang ekonominya lebih tinggi lagi kemungkinan bergeser ke provinsi lain misalnya ke Medan, dan begitu seterusnya ke atas. Maka jika terjadi tindak kriminal maka penyebarannya juga seperti itu.” jelasnya.

Kendati demikian, kata Kapolda Marzuki, seluruh anggotanya di Aceh tetap merawat Kamtibmas dan penegakan hukum semaksimalnya. 

“Itu sudah kewajiban kepolisian sebagaimana amanah undang-undang, dan juga panggilan nurani polisi,” kata Kapolda.

Selain itu, Wali Nanggroe juga sempat mengutarakan kerisauannya mengenai anak-anak perempuan belia dari Aceh yang diperdagangkan di luar negeri. 

“Informasi yang saya dapatkan, mereka diperdagangkan di Malaysia,” kata Wali Nanggroe. “Bagaimana caranya menolong mereka ini?”

Kapolda Marzuki menjawab bahwa persoalan tersebut memang menjadi perhatian khusus di Polda Aceh. “Kami perlu mengimbau kepada para orang tua jangan terlalu cepat percaya pada calo-calo itu, utamakan keselamatan putri-putrinya, jangan tergiur janji-janji manis,” kata Kapolda.

Selain itu, Kapolda Marzuki, juga mengatakan bahwa sejauh ini para calo-calo tenaga kerja yang berperilaku seperti itu tidak bermukim di Aceh. 

“Mereka rata-rata bergerak di luar Aceh,” katanya. Walau demikian, Kapolda Marzuki menyatakan pihaknya tetap memperhatikan persoalan ini.[*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI