DIALEKSIS.COM | Feature - Suasana santai menyelimuti ruang makan, menjelang berbuka di sebuah restoran di pusat kota. Di sana berkumpul sekitar dua puluh pemilik media. Mereka bertukar cerita , sambil bercanda menilai kinerja pemimpin kepolisian provinsi Aceh.
Pertemuan yang berlangsung hangat pada 9 Maret 2026 di Hermes Palace, Banda Aceh, bukan hanya menghadirkan keakraban, cerita mengalir bagaikan tanpa penyekat. Namun, ada catatan penting yang harus dilakukan ke depan, apalagi Aceh paska dihujam bencana.
Pertemuan dengan para pemilik media itu diprakarsai staf khusus Kapolda, Dr. Nurlis Effendi, SH, MH. Obrolan ringan namun bernas ini mengupas seputar penanganan pascabencana banjir dan longsor yang belakangan mengguncang sejumlah daerah di provinsi ini, dimulai acara ramah tamah pada pukul 18.00.
Di sisi lain, muncul juga penilaian awak media seputar sosok Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M. Kapolda Aceh yang humais, dekat dengan rakyat, mampu membangun keakraban tanpa sekat.
“Kami all out,” begitu inti cerita yang mengalir dari meja Kapolda malam itu, ketika ia menjelaskan bagaimana jajaran Polda Aceh bergerak cepat membuka akses, mengevakuasi, dan mengawal distribusi bantuan.
Ia juga berkisah bagaimana suka dukanya di lapangan, soal hambatan logistic, jalan terputus,amblas dimana mana, jembatan hanyut dilarikan air, dan ketersediaan barang kebutuhan yang menipis.
Salah satu anekdot yang membuat meja itu meledak tawa adalah pengakuan Kapolda tentang keputusan membeli logistik dari luar Aceh.
“Kalau saya beli semua sembako di Aceh, maka bisa dipastikan sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk warga jadi saya beli dari luar,” ujar Kapolda dengan nada seloroh, memecah ketegangan dan memberi napas kemanusiaan pada percakapan teknis tentang distribusi.
Dalam canda ringan dengan media ini, terlihat media lokal yang berhadir, diantaranya KBA.one, modus Aceh, ajnn.net, Dialeksis.com, Sinarpost, Komparatif, rakyat Aceh, hingga Acehtrend dan pemilik media lainnya semuanya berkumpul tanpa sekat, menyajikan forum informal yang jarang terjadi di meja publik.
Muhajir Juli, salah seorang peserta yang berhadir mengungkapkan kekagumannya atas totalitas penanganan pascabencana. “Reaksi dan mobilisasi yang cepat sangat terasa di lapangan,” kata Muhajir. Dia juga memberi penilaian bagaimana pengaruhnya kehadiran aparat di titik-titik kritis, memberi rasa aman sekaligus mempercepat aliran bantuan.
Dari sisi media yang mengusung perspektif investigatif dan publik, pemilik media Dialeksis, Aryos Nivada, menilai ada kontribusi nyata dalam bidang-bidang lain: perang melawan narkoba, pengendalian pangan, dan inisiatif green policing.
“Publik merasakan perubahan; ini bukan sekadar retorika,” kata Aryos, menyorot bahwa citra kepemimpinan terbentuk dari tindakan sehari-hari yang terlihat.
Di sela canda dan cerita karier Kapolda, lelaki yang menjadi orang nomor satu di Kepolisian Provinsi ujung Barat Sumatera ini juga bercerita tentang masa muda dan kebiasaan mencari ikan untuk memenuhi keinginan istrinya yang sedang hamil.
Cerita itu walau ringan, namun menurut awak media yang hadir saat itu telah memperlihatkan sisi personal yang menjadi tumpuan di balik seragam dan rapor kinerja.
Azhari, pemilik media lainnya memberikan penilaian soal antara kepolisian dan media lokal. Menurut Azhari, keterbukaan dan humor Kapolda selama pertemuan bukan hanya memperbaiki hubungan institusi-jurnalis, tapi juga membuka ruang dialog publik yang lebih sehat.
“Ketika pemimpin bersikap manusiawi dan transparan, media jadi lebih mudah menjalankan fungsi kontrol tanpa memukul mundur kerja sama kemanusiaan di lapangan,” ujarnya. Azhari . Dia juga menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan bukan sekadar pertemuan ramah tamah, agar respons bencana dan isu publik lain dapat dikelola bersama.
Di mata para pemilik media, pertemuan seperti malam itu punya fungsi ganda memanusiakan sosok pimpinan, sekaligus menguji klaim-klaim kinerja di hadapan publik lokal. Pertemuan santai itu menjadi semacam laboratorium kecil: di sana, narasi resmi diuji oleh pengalaman lapangan jurnalistik dan, sebaliknya, pengalaman lapangan mendapat penjelasan langsung dari aparat.
Namun beberapa pemilik media juga mengingatkan, keakraban tidak boleh menggantikan fungsi kritis media. Ke depan, para hadirin sepakat, bukan sekadar foto bersama atau kata manis di depan kamera, melainkan tindak lanjut yang terukur.
Akses informasi yang lebih cepat saat bencana, data yang transparan, dan mekanisme yang jelas soal pendistribusian bantuan, serta sejumlah permasalahan lainnya.
Pertemuan itu, meskipun sederhana, menyisakan catatan penting. Kepemimpinan publik yang kuat tak melulu soal otoritas, kadang ia hadir lewat cerita kecil. Seperti membeli kebutuhan di luar, atau melempar lelucon tentang masa lalu.
Banyak kisah sebenarnya yang bisa diungkapkan ke publik melalui media. Ketika menjadi konsumsi publik, hal-hal kecil itu juga akan terasa bermanfaat, menjadi inspirasi, akan memunculkan penilaian tentang seorang sosok pemimpin.
Biarlah publik yang menilai, apa dan bagaimana yang dilakukan pemimpin, apalagi disaat negeri ini sedang tercabik-cabik bencana. Hadirnya seorang pemimpin yang tidak kenal lelah, berjibaku membantu masyarakat, bukan hanya menjadi kenangan indah di masyarakat, semoga menjadi amal ibadah.
Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M. kehadiran mu dalam mengerakan kesatuan membantu masyarakat saat diterpa bencana, akan bersemayam di nurani rakyat. Di lain sisi, masih banyak hal yang harus ditata. Mengabdilah selagi masih ada kesempatan, rakyat mendoakan dan mendukungmu. [arn]